AUBADE MASA SMA (Part 14- Di Rumah Pangdam)
AIBADE MASA SMA (Part 14- Di Rumah Pangdam)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Minggu pagi selepas berolahraga ringan, aku berusaha membantu ibuku berjualan nasih pecel di lingkungan asrama tentara, Banyak pembeli dari warga komplek tentara itu terutama keluarga para prajurit dengan pangkat Sersan atau Kopral. Aku tidak merasa malu akan hal itu, justru aku salut pada ibuku. Apalagi pecel olahan ibuku sangat populer rasanya dan disukai oleh semua usia.
Ayahku tadi malam juga sudah pulang dari bertugas dengan Komandannya, yaitu Letkol Inf. Sugeng. Beliau adalah juga ayah Vina, gadis yang aku sukai dan sudah aku nyatakan isi hatiku meskipun ada gangguan dari mama Vina yang tiba-tiba keluar rumah. Meskipun saat itu kalimatku belum selesai, Aku harap Vina tahu dan memahami kalimat terusannya.
Kali ini, aku nekat dan berani menyatakan cintaku pada anak komandan ayahku, namun tetap berusaha backstreet alis sembunyi saja, agar tidak ketahuan siap-siapa dan tetap bersikap wajar seperti halnya kepada teman. Semoga Vina memahami makasudku itu karena semua itu juga demi dia sendiri untuk menjaga nama baik ayahnya dan jabatannya. Apalagi jika ayahku tahu, aku bisa dihukum berat nanti.
Tepat pukul 09.00, aku sudah berada di depan pagar rumah dinas besar yang dijaga satu regu tentara. Salah satu ada yang aku kenal sehingga dia menyilakan aku untuk terus menuju ruang belakang. Para penjaga itu tahu bahwa ada serombongan anak-anak SMA yang akan berlatih folksong bersama Widyas, anak Panglima Kodam. Aku lihat beberapa temanku, termasuk Yusli si Ketua OSIS sudah melakukan pemanasan dengan permainan gitarnya. Aku segera duduk di sebelah Yusli.
Gitar ditanganku juga sudah disetem bagus suaranya. Ssambil menunggu para penyanyi folksong, aku mengisi waktu dengan memainkan lagu Endless Love-nya Diana Ross dengan fingerstyle pada senar gitarku. Sesekali mataku mencari-cari keberadaan Vina dan Widyas, namun belum juga kelihatan hadir di situ. Tiba-tiba Yusli berbisik di telingaku, “Boleh aku nanya nih?, kamu naksir Widyas ya? Jujur aja padaku!” Aku kaget sebentar namun bisa menguasai diri dan tersenyum sambil tetap memainkan nada gitarku.
“Enggak kok, aku hanya berteman dengan dia saja. Itu saja, nggak lebih dari itu!” jawabku untuk menutupi rasa penarasan yang tampak diwajahnya. Yusli tersenyum, “Alhamdulillah, artinya aku ada peluang mendekati Widyas” ujarnya sambil setengah berbisik agar temanku yang lainnya tidak mendengar percakapan kami berdua.”Selamat berjuang ya!. Aku doakan selalu” kataku pada dia untuk memberikan dukungan.
Tak berapa lama, sebuah mobil dinas yang aku kenali dari pelat nomornya masuk ke halaman belakang. Kaget juga saat melihat yang turun adalah ayah Vina, mamanya, dan Vina sendiri yang tampak cantik dengan mengenakan T-shirt dan kaos oblong putih bersepatu Adidas putih. Serasi sekali. Aku masih terpesona sampai tidak menyadari ibu Vina melambai dan semua menuju ke arahku.
“Kamu anaknya Sersan Atmaja ya?Namamu Adri, kan?, yang tempo hari datang ke rumah?” Lekol Inf. Sugeng, ayah Vina langsung . “Betul pak, dan saya teman satu sekolah dengan Vina, putri bapak!” jawabku berusaha sopan sambil melirik ke Vina yang selalu tersenyum. “Wah, posturmu tinggi dan atletis, kamu siap saya masukkan Taruna Akmil jika sudah lulus SMA? Jurusan IPA khan?” tanya ayah Vina sambil memegang pundakku. “Terimakasih tawarannya pak, maaf, saya tidak berniat masuk ke dunia militer. Saya punya cita-cita yang lain” jawabku tegas.
Ayah Vina sedikit kaget dengan jawabanku dan langsung menepuk-nepuk bahuku sambil melihat ke mama Vina, “Hebat..hebat..baru kali ini saya memberikan suatu tawaran dan ada yang berani menolak. Biasanya banyak yang datang padaku untuk minta dibantu masuk ke Akademi Militer. Lhah, Adri malah menolaknya..salut, salut!” kata ayah Vina sambil berjalan masuk ke rumah utama Pangdam dan diikuti mamanya Vina yang tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya kepadaku . Aku bingung sendiri apakah kalimat ayah Vina itu tadi adalah pujian atau kekecewaan padaku.
Aku segera duduk kembali di kursiku dan Vina dengan tidak ragu langsung menarik kursi dan ikut duduk di sebelahku sambil meletakkan tasnya. Dia berdiri, berjalan ke tempat minuman dan mengambil satu gelas teh. Dengan mesra, dia berikan gelas itu padaku. “Kok cuma satu gelas? Untuk Adri lagi?,..Lha untukku mana Vin..?!” Tanya Yusli dengan nada menggoda. “Maaf, kamu ambil sendiri saja ya, ..juga yang lainnya. Ayo jangan malu-malu” kata Vina sambil tertawa bahagia. Teman-temanku satu tim folksong melihatku dengan sedikit protes dan menggodaku.
Tiba-tiba, Widyas keluar dengan didampingi ayah dan ibunya serta aku lihat di belakang mereka ada orang tua Vina. Aku juga melihat beberapa ajudan pribadi ikut berbaris di belakang rombongan itu. “Selamat pagi semua, kenalkan saya adalah Papa dari Widyas dan ini mamanya” sapa ayah Vina dengan ramah. Serempak kami semua berdiri dan menjawab salam ayah Vina sambil menganggukkan kepala. Tiba-tiba Widyas menarik tanganku untuk maju,”Papa!, ini Adri, sekelas denganku yang sering aku ceritakan pada makan malam keluarga kita. Dia yang menemaniku dan membantuku di sekolah saat masuk pertama kali setelah pindah dari Menado,” .
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
