AUBADE MASA SMA (Part 15- Cita-citaku)
AUBADE MASA SMA (Part 15- Cita-citaku)
Oleh : E.A.Wahyudiono
“Terimakasih banyak atas bantuanmu pada saat anak saya Widyas baru masuk pertama kali di sekolah. Maklum, anak ini sering pindah sekolah karena mengikuti bapaknya pindah tugas juga” kata Ayah Widyas dengan nada berwibawa. “Anak saya, Widyas ini rencana mendaftar ke Taruni Akademi Militer. Tahun ini ada pembukaan khusus Taruni wanita. Ada yang berminat daftar?” tambah Pangdam sambil melihat ke kami semua.
Belum juga kami semua ada yang menjawab, tiba-tiba beliau menunjukku,"Nah, kamu, Adri, kamu mau nggak masuk Akademi Militer bersama anak saya, Widyas?" tanya beliau padaku. Aku berusaha tenang dan berusaha menjawab jujur, “Terimakasih pak, tapi rasanya cita-cita saya tidak di dunia militer. Saya ingin membangun negeri ini tapi dari sisi dunia pendidikan. Jika dizinkan Allah SWT, saya ingin kuliah di Jepang atau Australia”.
Sambil tersenyum aku memandang ke beliau dan menoleh ke teman-temanku lainnya. Sedikit terkejut saat mata Vina memandangku dengan wajah heran sambil memiringkan kepalanya. “Waah, anak muda sekarang ya! Bagus, cita-citanya tinggi semua, beda dengan zaman kita semua nih. Betul begitu pak Sugeng?!” kata ayah Widyas lagi sambil tertawa dan menoleh pada Pak Sugeng, ayah Vina. Semua yang hadir di situ juga ikut tertawa.
Setelah meyilakan kami melanjutkan latihan, rombongan Pangdam, ayah Vina dan para ajudan berlalu dari tempat kami berlatih folksong. Tak berapa lama, pak Heriyanto, guru seni musik kami pun tiba,”Maaf, anak-anak, bapak baru datang. Biasa, jika minggu pagi harus mengantar istri ke pasar dulu” ucap beliau beralasan. “Sekarang, mari kita berlatih bersama sebagai satu tim, satu keluarga. Lupakan semua permasalahan dan persaingan dalam satu tim saat mengikuti lomba ini. Kita yakin pasti menang!” tambah beliau memberi semangat.
Sambil menyiapkan smua peralatan musik dan gitar, Vina pura-pura ikut membantuku, “Kamu bener pingin kuliah di luar negeri?” tanya Vina setengah berbisik. “Benar, tapi aku berusaha untuk mendapatkan beasiswa dulu, tanpa itu aku nggak bisa kuliah di luar negeri. Doakan aku ya?!” jawabku singkat. “Iya, tapi aku doain nggak lulus” jawabnya sambil cemberut dan pergi bergabung tim vokal folksong lainnya. Kaget juga mendengar jawabannya seperti itu. “Ah, aku pasti hanya salah dengar tadi” pikirku untuk menghibur diri.
Lagu Anggrek Merah dan Kemuning menjadi lagu pilihan bebas untuk penampilan tim folksong sekolah kami. Sedangkan lagu wajibnya adalah Gambang Suling, sudah ditentukan oleh panitia sebelumnya dalam technical meeting. Setelah beberapa kali latihan dan berusaha untuk mengisi kekurangan sebagai satu tim, rasanya kami sudah bisa kompak dan fokus untuk kemenangan lomba antar sekolah yang bergengsi ini.
Selesai berlatih, kami semua harus pulang karena Senin pagi, kami semua harus sudah berada di sekolah dan berangkat ke Taman Budaya Surabaya. Vina mengajakku pulang bersama papa dan mamanya, hati ini ingin sekali namun aku tolak halus karena untuk menjaga wibawa Lekol Inf. Sugeng, Komandan ayahku. Aku juga tidak ingin mereka tahu bahwa aku sedang berpacaran secara diam-diam (backstreet) dengan Vina, anak mereka.
Widyas yang melihatku menolak tawaran Vina untuk pulang bersama, berusaha mendekat ke arahku dan menawarkan diri untuk mengantar dengan sopir ayahnya. Vina mendengar hal itu juga saat masuk ke mobil dinas ayahnya dengan masih berwajah cemberut. Namun tawaran Widyas itu terpaksa juga aku tolak demi menjaga perasaan Vina. Aku lebih memilih untuk pulang bersama Yusli dengan sepeda Motor Suzuki GP 125 cc-nya.
“Kamu bodoh sekali, ditawari masuk Akademi Militer oleh Pak Pangdam kok nggak mau tadi itu” kata Yusli sambil setengah berteriak padaku untuk mengalahkan sura kenalpot sepeda motornya yang bising. Aku tidak menjawab kalimat Yusli. “Jika aku yang ditawari beliau, pasti sudah aku jawab ‘SIAP’, tapi sayang aku berkacamata minus tebal” kata Yusli lagi dengan nada memelas. “Sudah, gak usah dipikir lagi hal itu. Ikuti hidup ini seperti air mengalir aja, apa adanya” jawabku untuk menghiburnya.
“Rasanya, peluangku mendekati Widyas sudah hilang nih” Yusli masih saja menerocos. “Rasanya, aku ingin menjadi dirimu. Menjadi Adri yang selalu dikejar-kejar cewek cantik, pintar, tampan dan cuek”. Aku hanya tertawa mendengar Yusli berkata seperti itu. Padahal sejujurnya, diriku sendiri juga ingin menjadi orang lain. Menjadi anak Pangdam atau menjadi anak Komandan Bataliyon. Aku melihat kehidupan mereka serba terpenuhi secara materi, harkat, martabat, derajat, pangkat dan terlihat bahagia.
Aku bulatkan tekadku bahwa aku harus lebih banyak belajar agar sukses dan menjadi anak yang dibanggakan oleh kedua orang tuaku. Aku harus menjadi contoh bagi kedua adikku. “Bismillah..!”, doaku lirih. Semoga aku segera lulus dan bisa melanjutkan kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Jika tidak begitu, hal itu akan menjadi berat bagi orang tuaku yang hanya berpangkat Sersan Kepala. Untuk makan sehari-hari saja sudah susah. Oleh karena itu, ibuku membantu ekonomi keluarga dengan berjualan nasi pecel setiap pagi hari di perumahan dinas tentara.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
