AUBADE MASA SMA (Part 16- Kami Juara 1)
AUBADE MASA SMA (Part 16- Kami Juara 1)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Senin pagi masih berkabut, aku sudah berada di sekolah lebih awal dibandingkan semua teman satu tim folksongku. Pak Heriyanto segera menyuruhku untuk mengganti seragam abu-abu putihku dengan kostum tradisional Jawa Tengah. Beberapa bapak dan ibu guru sudah siap membantuku mengenakan pakaian daerah, yaitu beskap, blangkon warna hitam dipadu dengan baju putih. Selama dirias, aku tersenyum karena ingat Pak Raden dalam film boneka Unyil di TVRI.
“Untuk tim folksong, Senin pagi ini tidak perlu mengikuti upacara bendera ya, karena langsung berangkat ke taman budaya” kata Pak Heriyanto. Tak berapa lama, semua anggota tim sudah berdatangan dan segera berganti baju. Vina mengamatiku karena aku sudah selesai dirias dari awal. Aku tersenyum padanya, namun wajahnya masih saja cemberut. “Jangan-jangan masih marah karena kemarin aku nggak mau diantar pulang ayahnya tuh” tebakku dalam hati.
“Ganteng sekali!, Nunggu siapa?..eh,, mana temanten putrinya nih?” ledek Vina padaku. “ Lah, kamu ini manten putri yang aku tunggu dari tadi, kok tidak merasa, gimana sih?!” jawabku ganti menggoda. Dia tersipu malu dan wajahnya yang putih merona merah di pipinya. “Vina..!!, ngapain kamu di situ!, ayo segera ganti baju!” teriak Pak Heriyanto dan mengagetkan kami berdua. “Udah, cepet ke sana..aku tunggu di sini ya?!” kataku lirih pada Vina.
Sambil menunggu Vina, aku ditemani Yusli dan adik kelasku yang juga pemain gitar. Kami semua mencoba pemanasan lagu Gambang Suling yang sudah diaransir sendiri sehingga agak sedikit berbeda dengan aslinya. Tiba-tiba, Widyas muncul dengan mengenakan kebaya muncul di depan kami semua. Dia terlihat sangat cantik. Gadis Menado yang dibalut dengan pakaian kebaya Jawa Tengah, sungguh terlihat anggun. Temanku Yusli bahkan tidak bisa berkata apa-apa dan mendadak mengentikan permainan gitarnya.
“Gimana? Aku terlihat cantik, nggak?” kata Widyas sambil menoleh ke arahku. Aku tertawa sambil mengatakan bahwa kecantikannya ada di nilai 95 dari skala 100. “Kalau menurutmu, Vina di nilai berapa dalam skala 100?” tanya Yusli sedikit menjebakku. Untungnya pertanyaan itu belum aku jawab karena dari sudut mataku ternyata ada kehadiran Vina dan sudah berdiri di sebelahku. Rasanya jantungku berhenti saat melihat dia mengenakan kebaya putih itu. Seperti melihat Ken Dedes sedang tersenyum saja.
Kami semua segera berangkat dengan 2 mobil. 1 mobil khusus cowok, sedang 1 mobil lainnya khusus murid cewek. Jadi kami terbagi dalam mobil yang berbeda. Selama perjalanan ke Taman Budaya Surabaya, semuua berusaha untuk saling kompak dan melupakan perbedaan di antara kami. Saat tiba, ternyata sudah banyak tim peserta folksong dari berbagai SMA di Surabaya. Aku lapor ke panitia dan langsung mengambil nomor undian tampil. Setelah dibuka bersama, ternyata timku ada di urutan 13 untuk penampilan. “Waah, angka sial tuh, tanda-tanda kita kalah” kata Edi salah satu anggota tim folksongku. “Jangan begitu, ..nggak ada angka sial, itu tahayul. Kita semua harus yakin bahwa kita yang terbaik. Mari kita berdoa bersama” sahutku menenangkan mereka.
Melihat penampilan setiap tim folksong dari banyak SMA yang tampil di panggung, hatiku menjadi cemas juga. Rata-rata penampilan mereka bagus dan kompak meskipun ada sedikit kekurangan yang tidak terlalu berpengaruh. Juga lagu yang mereka mainkan standar seperti lagu aslinya tanpa mengalami perubahan. Aku jadi ragu, jangan-jangan dengan merubah sedikit irama lagu pada timku justru menjadi bumerang dengan kekalahan timku. Aku berusaha bersikap tenang dan wajar saja serta membuang pikiran buruk agar tidak membuat seluruh anggota timku menjadi grogi.
Saat urutan kami tampil dipanggil, akhirnya aku hanya bisa pasrah pada Yang Maha Kuasa. Kami berusaha tampil yang terbaik saja. Begitu usai penampilan di panggung, rupanya respon tamu undangan yang hadir sangat luar biasa. “Ah, tidak menang juga tidak apa-apa, minimal sudah mendapat aplaus dari penonton” Aku berusaha menghibur diriku sendiri.
Siang hari setelah semua peserta tampil, tibalah saat pengumuman. Dimulai dari juara harapan 1, 2 dan 3 di sebut. Sama sekali timku tidak ada, pupus sudah harapanku. Saat disebut juara 3 utama dari Tim SMA lain, rasanya semakin pasrah saja diri ini. Apalagi tim SMA saingan terberat tim kami disebut sebagai juara 2, itu artinya tidak mungkin lagi tim folksongku sekolah bisa mendapatkan juara 1. Tiba-tiba, terdengar pengumuman dari pantia bahwa tim folksong dari sekolahku disebut sebagai juara 1, telingaku rasanya masih tidak percaya. Aku masih bengong saja.
Seketika meledaklah tangis dan kegembiaraan kami semua. Pak Heriyanto, guru seni musik kami terlihat menangis gembira sambil duduk di kusrsinya. Aku masih berdiri mematung tanpa ekspresi karena masih tidak percaya. Aku baru sadar saat ada seseorang yang memelukku erat dan menangis. Aku perhatikan ternyata Vina yang memelukku sambil tangannya memukul pelan punggungku. Sedangkan Widyas mengamati kami berdua dari kejauhan.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
