AUBADE MASA SMA (Part 17- Aku dan Widyas)
AUBADE MASA SMA (Part 17- Aku dan Widyas)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Saat dipeluk Vina karena gembira, aku diam saja dan tidak membalas memeluknya. Hanya sedikit heran saja, kenapa bisa menangis dalam keadaan gembira. Yaah, itulah isi hati manusia yang sulit ditebak oleh orang lain. Karena aku diam saja, Vina sepertinya sadar dan segera melepaskan pelukannya padaku. “Maaf, aku nggak bisa menahan rasa senang dan haru” ucapnya lirih sambil menghapus air matanya dengan sapu tangan putihnya.
“Nggak papa!”jawabku dengan tersenyum. “Oh iya, jika perlu tempat untuk menangis lagi, dada ini siap menerimanya lagi” kataku sambil tertawa dan mennujuk dadaku. Vina yang tadinya menangis menjadi ikutan tertawa. Saat aku menoleh mencari temanku lainnya yang masih dalam euforia kegembiraan, Widyas melirikku dengan tajam tanpa berkedip atau senyuman di bibir mungilnya.
Akhirnya, panitia memanggil guru Pembina foksong sekolahku untuk menerima Piala kejuaraan Folksong tingkat SMA se Kodya Surabya. Beliau pun segera mengajak kami semua para anggota tim untuk naik ke panggung. Tepuk tangan riuh dari para undangan dan seluruh peserta lomba lainnya. Pada waktu Pak Heriyanto sedang diwawancarai oleh awak media masa, aku dan temanku satu tim menggunakan kesempatan itu untuk foto bersama. Vina menggandeng tanganku dan mengajak foto berdua saja.
Saat berpose foto, aku terkejut, rasanya aku sedang menikah atau acara pertunangan dengan Vina. Bajuku beskap jas kejawen putih hitam dipadu dengan kebaya serta blangkon. Vina yang mengenakan baju putih dan berkebaya juga tampak jelita. Bergetar hati ini. “Bisakah kelak aku bersanding dengannya?” Untuk sesaat aku menjadi sedih dan galau akan pertanyaan oratoris untuk diriku sendiri, namun aku mencoba untuk tetap tersenyum saat sesi foto itu dari kamera Vina.
Yusli sang ketua OSIS yang dimintai tolong Vina untuk mengambil gambar kami berdua. Begitu selesai, tiba-tiba Widyas juga mengajakku dan minta tolong Yusli untuk memfoto kami berdua. Vina tanpa bicara apa-apa dan segera pindah di sebelah Yusli yang sibuk mengambil gambarku dengan Widyas. Aku heran, rasanya Vina dengan Widyas ini kenapa tidak begitu akur. Jika bicara pun hanya seperlunya untuk basa-basi saja. Saat Yusli minta tolong difoto berdua dengan Widyas dan aku yang bertugas sebagai juru fotonya, Widyas segera menggandeng Vina dan memaksanya untuk menemani dia berfoto dengan Yusli. Tampak senyuman di wajah Yusli mendadak hilang.
Berita kemenangan tim folksong kami rupanya sudah diketahui oleh pihak sekolah. Hal itu tampak saat rombongan kami kembali dari Taman Budaya tempat lomba diadakan. Pesta penyambutan sederhana dari pengurus OSIS dan bapak serta ibu guru diadakan di aula sekolah untuk menyambut kami. Ditengah-tengah sambutan dari kepala sekolah, Vina berbisik padaku,“Sebetulnya aku ingin pulang jalan kaki denganmu melewati lapangan Kodam yang penuh dengan bunga flamboyan seperti dulu itu, namun ayahku nanti menjemputku karena ada acara di rumah nenek di daerah Hayam wuruk…” .
Belum selesai dia bicara segera aku potong, “Nggak papa, aku pulang jalan kaki sendiri saja. Salamku pada ayah dan ibumu ya, bilang dari calon menantu, ..gitu..itu pun jika kamu berani!” Vina hanya reflek mencubit tanganku dan aku hanya bisa diam menahan rasa sakit sambil meringis agar tidak menjadi perhatian guru dan temanku yang ada di aula sekolah itu.
Begitu semua acara selesai, aku segera bergegas keluar dari pintu gerbang sekolah dan berjalan kaki seperti biasanya. Hari ini, aku merasa bangga karena pertama, tim folksongku menang di kejuaraan bergengsi. Kedua, aku diajak foto berdua bersama Vina dan jantungku masih berdegup tidak karuan iramanya dan Ketiga, merasa bahagia karena dicubit Vina. Bekas cubitannya masih ada di kulit tanganku, tapi rasanya sayang jika segera hilang karena untuk kenang-kenangan dari gadis yang telah mencuri hatiku.
Pada saat melamun sambil tersenyum sendiri, mendadak sebuah mobil dinas dari arah belakangku berhenti beberapa meter di depanku. Aku yang masih kaget langsung ingat bahwa itu adalah mobil dinas Pangdam, ayah Widyas. Pintu terbuka, dan Widyas keluar dari mobil tanpa membawa tas sekolahnya. Sepertinya, Widyas menyuruh ajudan ayahnya yang bertugas menjemputnya untuk meninggalkannya.
“Lhoh, kok kamu turun di sini?” tanyaku sedikit heran. “Iya, tadi aku suruh mobil pulang dulu. Aku mau menemanimu pulang jalan kaki karena kamu pasti nggak mau jika aku ajak ikut bersama mobil dinas ayah untuk menjemputku”. Jawab Widyas sambil mengajakku jalan pelan untuk pulang. Rumah dinas Pangdam dan para tentara lainnya, masih satu komplek hanya berbeda nama jalan saja.
Setelah bercerita tentang banyak hal termasuk pelaksanaan lomba tadi, tiba-tiba Widyas terdiam dan menoleh kepadaku,”Adri, kamu dengan Vina bukan sepasang kekasih, kan?” tanyanya mengagetkanku. Aku hanya diam karena tidak paham arah pembicaraan Widyas kemana. “Maukan kamu menjadikan aku kekasihmu?” Langkahku seketika berhenti dan aku amati Widyas. Kalimat sederhana tapi bagaikan petir di siang bolong di telingaku.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
