Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 18- Pilih Vina atau Widyas? )

AUBADE MASA SMA (Part 18- Pilih Vina atau Widyas? )

AUBADE MASA SMA (Part 18- Pilih Vina atauWidyas? )

Oleh : E.A.Wahyudiono

Aku masih berhenti di bawah pohon flamboyan dalam perjalanan pulang dari sekolah karena kalimat Widyas yang mengagetkan hatiku. Rasanya masih tidak percaya bahwa cewek secantik Widyas berani menyatakan perasaan cintanya padaku. Dia gadis Menado dan ayahnya seorang Jenderal serta menjabat Panglima Kodam. Itu adalah Jabatan tertinggi militer di di tingkat satu Propinsi.

“Adri, kamu kok malah diam saja?” suara Widyas mengejutkanku dari pikiran yang masih menggoda. “Jawab dong!” tambah Widyas. Aku menghela nafas sesaat dan memandang bunga flamboyan yang sedang berbunga rimbun. “Kenapa kamu menyukaiku dan ingin aku menjadi kekasihmu? Juga kamu apa tahu siapa diriku, keluargaku dan semua tentang diriku?” jawabku sambil menoleh pada wajahnya yang imut itu.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku menyukaimu,..tapi kamu mengingatkan aku tentang mantan kekasihku yang pernah aku punya di Menado. Aku juga tahu keluargamu dari anak buah ayahku, bahkan aku tahu rumah dinas ayahmu dimana, ibumu pun aku juga tahu” kata Widyas sambil menunduk dan memainkan kuku jarinya. Sesaat kami berdua terdiam. Mataku memperhatikan lalu lalang kendaraan yang sesekali lewat dengan pelan di tempat kami berdiri. Rambutnya tergerai pelan ditiup hembusan angin sore dari lapangan Kodam.

“Maaf, ..kamu ingin tahu secara jujur jawabanku?” kataku lirih. Widyas hanya terdiam dan tetap menunduk. “Sejujurnya, aku menyukaimu, tapi…” Belum juga kalimatku selesai, Widyas menengadahkan wajahnya dan menatapku. “..tapi aku tidak mencintaimu sebagai kekasihmu..” Kalimatku terhenti sejenak saat kulihat matanya berkaca-kaca. “Dengarkan kalimat lengkapku dulu agar kamu paham isi hatiku”. lanjutku sambil memalingkan wajahku untuk melihat anak-anak kecil yang berlarian masuk lapangan sambil menendang bola. Rasanya tidak tega melihat ada tetesan air yang jatuh dari sudut matanya.

“Aku menyukaimu sebagai sahabat terbaik yang aku miliki. Aku harus jujur pada diriku sendiri bahwa hatiku bukanlah untukmu sebagai kekasih. Aku yakin, jawabanku ini telah meyakiti hatimu saat kamu mendengarkan ini, namun 15 sampai 20 tahun ke depan, kamu akan berterimakasih padaku karena aku telah menyampaikan hal ini” jelasku lagi pada Widyas dengan nada pilu yang tertahan.

“Boleh saja kamu menyebutku cowok yang bodoh. Menolak dicintai wanita secantik dirimu. Mestinya aku senang dan akan menjawab aku mau jadi kekasihmu meskipun membohongiku hatiku sendiri juga pada hatimu. Bisa saja aku mengatakan bersedia dengan niat untuk mengambil manfaat darimu, mempermainkanmu, juga dapat koneksi dari orang tuamu, namun setelah itu terjadi, kamu akan membenciku seumur hidupmu...”. nadaku kalimatku menjadi tegas agar Widyas mengerti mengapa aku menolak cintanya padaku.

“Marilah kita tetap bersahabat saja dan itu akan abadi sepanjang hidup kita. Saling membantu, saling menjaga dan mendoakan..tolong tanyakan juga hatimu, aku yakin, itu bukan perasaan cinta untukku yang ada di hatimu melainkan hanya perasaan kagum, cinta pelarian atau bisa jadi juga, karena kamu hanya teringat akan mantan kekasihmu di Menado..” ujarku sambil mengajak dia untuk berjalan pulang.

Widyas sama sekali tidak mengatakan apapun selama perjalanan pulang itu. Dia hanya menunduk dan menyeka air matanya yang sesekali menetes di pipinya. Kami berdua berjalan pulang dengan pikiran masing-masing. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami berdua sepertinya juga memperhatikan namun mereka tidak ambil peduli dan pura-pura tidak melihat kami.

Setelah sampai di pagar depan rumah dinas Pangdam yang sangat megah dan luas serta dijaga oleh beberapa tentara, aku berhenti dan memanggil Widyas pelan, “Maafkan aku ya…dan tolong renungkan kalimat yang sangat jujur dan berasal dari dalam hatiku .....dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui adalah aku hanya ingin kamu lebih berbahagia dan ada cowok lain yang akan bisa membahagiakanmu kelak. itu saja ya..!” Dia hanya mengangguk dan terlihat wajah cerianya menjadi hilang. Aku pamit untuk terus pulang.

Pada saat Widyas baru beberapa langkah masuk pintu gerbang pagar rumah dinas ayahnya, aku sendiri juga akan beringsut pergi, namun sebuah mobil dinas jenis Jeep keluar dari rumah Pangdam. Beberapa penjaga dengan sigap menghormat serentak. Aku menghentikan langkahku agar mobil itu melewatiku. Hatiku berdegup kencang, karena Aku melihat Pak Letkol Inf, Sugeng, ayah Vina, mama Vina yang mengenakan baju batik dan juga Vina yang duduk di jok belakang sambil menatapku dari balik kaca mobil yang transparan itu.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post