Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 19- Pindah Tugas)
ilustrasiceritadari.beautynesia.com

AUBADE MASA SMA (Part 19- Pindah Tugas)

AUBADE MASA SMA (Part 19- Pindah Tugas)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Saat di kamar dan tidur berhimpitan dengan adikku yang nomor dua, mataku sulit dipejamkan. Aku tidak tahu mengapa pikiran daan hatiku masih selalu terbayang Vina yang sedang menatapku dari balik kaca mobil dinas ayahnya saat keluar dari rumah dinas Pangdam. Vina pasti bisa tahu jika aku pulang bersama Widyas meskipun aku sendiri tidak menghendakinya. Namun semua itu sudah terjadi dan aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada Vina.

“Apakah harus aku harus bercerita jujur apa adanya tentang Widyas yang menyatakan cintanya padaku? ...tapi aku juga harus menjaga perasaan Widyas agar tidak merasa dipermalukan…hadeeh, jadi serba salah ini..” Sungguh pikiran itu sangat menggangguku. Aku hanya bisa pasrah saja. Apapun yang terjadi terjadilah dan berdoa semoga hal itu tidak mengganggu hubunganku dengan Vina yang sedang saling mengenal lebih satu sama lain.

Keesokan harinya, setelah mengerjakan pekerjaan rutinitas pagi di rumah, aku segera berangkat ke sekolah dan kali ini Yanto temanku satu komplek di perumahan dinas menjemputku untuk berangkat bersama dengan sepeda motor Suzuki bututnya. Dia senang dan mengucapkan selamat karena aku dan tim folksong sekolah berhasil menyabet juara 1 di lomba kemarin. Begitu, datang, aku segera masuk kelas dan kulihat Widyas tertawa senang sedang dan bercanda dengan teman-teman satu kelas.

Dengan sedikit ragu aku menuju bangkuku seolah-olah tidak ada yang terjadi dengan Widyas. Teman-temanku langsung menyalami kami berdua dan memberikan apresiasi atas kemenangan kami. “Hebat kelas kita ternyata banyak artisnya nih. Adri dan Widyas, .Anda berdua luar biasa dan bisa menjadi pasangan yang serasi” kata Choirul, ketua kelas IPA 2. Tiba-tiba tanpa aku duga, Widyas berdiri dan membungkuk sambil tertawa. ‘Terimakasih semuanya, ini juga berkat teman-teman kelas ini. Aku dan Adri ini seperti kakak adik, ya, jadi jangan berpikiran macam-macam pada kami berdua lho ya” kata Widyas sambil tersenyum.

“Waah, asyiik, jadi aku ada kesempatan untuk menjadi pacaran Widyas nih” gurau Choirul. Semua segera mengolok Choirul dan tertawa ramai. Aku tersenyum saja dan bersyukur melihat Widyas bersikap seperti itu. Ternyata kekawatiranku semalaman tidak terbukti. Aku takut jika Widyas membenciku karena aku menolak cintanya. Rasanya tentram hati ini melihat Widyas seperti itu. Sekarang tinggal Vina. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana bila bertemu dengannya.

Sengaja saat beristirahat aku keluar paling akhir untuk menghindari bertemu Vina bila menuju kantin. Mau tidak mau aku harus melewati kelasnya. Jujur aku takut dengan ekspresinya bila bertemu denganku karena pulang bersama Widyas kemarin sore. Begitu, sudah dipintu kantin, aku tidak ingiin berlama-lama di situ. Hanya membeli minuman dan roti dan setelah itu kembali ke kelas. Saat membayar di ibu kantin dan menunggu uang kembalian, aku menoleh untuk melihat siapa saja yang ada di kantin.

Jantungku serasa berhenti berdenyut dan mataku rasanya masih tidak percaya saat melihat di meja sudut kantin ada Vina dan Widyas yang sedang asyik berbicara dan sesekali mereka berpegangan tangan dan tertawa kecil. Sepertinya mereka berdua tahu jika aku ada di situ. Vina melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum bahagia. Sedangkan Widyas hanya menatapku dengan matanya yang ceria. Aku pun segera membalas lambaian tangan mereka.

Sejenak aku bingung haruskah aku bergabung dengan mereka atau kembali ke kelas. Akhirnya aku putuskan kembali ke kelas karena mereka berdua tidak mengundangku dan bisa jadi aku malah mengganggu pembicaraan mereka. Setelah menerima uang kembalian, aku melihat mereka lagi dan memberi isyarat dengan jari telunjuk jika aku langsung kembali ke kelas tanpa mengatakan kalimat apapun. Mereka terlihat paham dan melambaikan tangannya sekali lagi.

Roti yang aku beli terasa hambar saat aku nikmati di kelas karena pikiranku menebak-nebak apa yang Vina dan Widyas bicarakan di kantin. Kenapa mereka menjadi akrab satu sama lain sekarang. “Ada apa ya? Jangan-jangan mereka berdua akan menjauhiku? Atau Vina akan meminta putus denganku?" Pikiranku jadi menerawang kemana-mana. “Adri, kamu kok melamun?” suara Widyas mengagetkanku. Aku tidak tahu kapan dia masuk kelas. Tahu-tahu sudah dia duduk di depanku sambil mengeluarkan buku pelajaran untuk jam berikutnya.

“Tadi membicarakan apa dengan Vina, kok terlihat serius banget gitu?” kataku karena tidak bisa menahan rasa penasaranku. “Ahh, mau tahu aja, ..ini urusan para cewek ya,..cowok dilarang ikut campur tuh” kata Widyas sambil tertawa. Rendy, temanku satu bangku menyuruhku diam karena pelajaran berikutnya segera dimulai. Sampai sekolah usai, aku tidak bertemu Vina. Sengaja aku ikut pulang membonceng Yanto lagi agar tidak bertemu dengannya.

Begitu sampai rumah, aku lihat ayah dan ibuku sedang berbicara serius. Setelah memberikan salam dan mencium tangan mereka, mereka memintaku duduk sebentar. “Nak, Bapak bulan depan pindah tugas ke Kodim di kota kelahiran bapak sendiri, jadi dekat dengan rumah nenekmu nanti. Ini semua berkat prestasi bapak dalam lomba dan mendapat jabatan baru di sana” kata ayahku dengan wajah gembira. “Untuk sementara, kamu dan ibu serta kedua adikmu tinggal di rumah dinas ini sampai situasi memungkinkan untuk ikut bapak” sambung ayahku lagi.

Sedikit terkejut antara perasaan senang dan sedih karena ayahku mutasi. Aku jadi ingat bahwa dari kecil sampai dewasa aku sering pindah sekolah karena mengikuti tugas ayahku yang menjadi tentara. Namun, kali ini rasanya beda, karena aku punya Vina sebagai kekasihku. Rasanya berat jika meninggalkan dia.

Hatiku lebih terkejut lagi saat tidak sengaja mendengar dari pembicaraan ayah pada ibuku bahwa kemarin Letkol Inf. Sugeng, Dan Yon, yang juga ayah Vina, karena prestasinya dipromosikan dan dipindah tugaskan menjadi Komandan Kodim di Surabaya Utara. “Mereka juga akan segera pindah dari rumah dinas di komplek ini“ jelas ayah pada ibuku.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post