Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 21-  Berpisah Demi Masa Depan)
ilutraaicrita.dokpri

AUBADE MASA SMA (Part 21- Berpisah Demi Masa Depan)

AUBADE MASA SMA (Part 21- Berpisah Demi Masa Depan)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat saat aku sudah berada di semester terakhir masa SMAku. Hubunganku dengan Vina juga berjalan biasa saja dalam arti positif. Aku bahkan belum pernah sekalipun mengajak dia untuk pergi berduaan. Waktuku sudah habis untuk mengurusi dan menjaga kedua adikku karena ayahku sudah pindah ke Kodim Madiun. Kota yang menjadi tempat kelahiran ayahku dan juga nenekku tinggal.

Aku dan Vina juga jarang bertemu di sekolah karena mempersiapkan Ujian Nasional. Hal itu tidak membuat hubungan kami menjadi renggang. Justru banyak hal positif yang kami dapatkan berdua. Pernah dia setengah mengeluh karena 3 minggu tidak bertemu denganku dan aku jawab dengan santai,”Sebaiknya kita jangan sering bertemu ya, biar semakin rindu” . Untungnya dia memahami penyebab kami jarang bertemu di sekolah. Juga dikarenakan sekarang arah rumah dinas ayahVina berlawanan dengan rumah dinas lama ayahku.

Hari senin pagi setelah upacara terakhir karena minggu depannya semua siswa harus mengikuti Ujian akhir atau ujian nasional, Pak Yunus mendekati dan memintaku untuk datang ke ruang guru. Saat duduk di kursi yang tersedia di depan beliau, aku lihat wajahnya berseri-seri. Aku hanya heran ada kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga dipanggil beliau. “Adri!!, sebagai guru bahasa Inggrismu, bapak nggak tahu harus berkata apa padamu. Bapak kan sudah bilang untuk selalu belajar, dan ini akibatnya padamu. Sekolah ini menerima 2 surat. Satu dari Kedutaan besar Jepang dan satu lagi dari Kedutaan Australia”.

Hatiku langsung berdebar. “Ya Allah, pasti aku tidak lulus. Jadi menyesal kurang belajar maksimal dan memalukan guruku yang telah memberikan rekomendasi untuk kuliah di luar negeri” pikirku dengan sedih. Aku menahan malu sambil menundukkan kepalaku. “Mohon maaf, pak jika saya telah mengecewakan bapak” kataku dengan nada menyesal pada pak Yunus. “Kok minta maaf?!, kamu ini gimana?!” Aku melihat wajah beliau dengan mimik takut dan heran merasa serba salah. “Kamu ini hebat luar biasa! Coba dibaca surat ini!” perintah beliau sambil menyodorkan ke dua surat itu padaku.

Begitu aku amati, secara tidak sadar aku berdiri dari dudukku di kursi beliau, “Alhamdulillah, saya lulus dapat beasiswa Monbusho S-1 di Jepang, pak!” teriakku. Beliau segera mengulurkan tangannya untuk menyalamiku. Rasanya masih tidak percaya saat mendapat surat pengumuman aku dapat beasiswa itu. Segera terbayang wajah ibuku, ayahku, kedua adikku dan Vina. Mereka semua yang telah mendoakan dan memotivasiku selalu.

“Lhoh, surat yang kedua kok belum dibaca?!” kata pak Yunus lagi. Dengan tidak sabar aku baca lagi dan lagi. Mataku rasanya belum bisa mempercayainya. Ternyata aku juga dinyatakan lolos untuk mendapatkan beasiswa AusAID S-1 di Australia. Aku menatap bingung pada pak Yunus. “Lho, saya juga lolos beasiswa ke Australia, pak?!” kataku pada pak Yunus setengah heran. “Tadi bapak berkata apa juga padamu, kamu hebat. Bisa mendapatkan 2 beasiswa sekaligus. Obsesi saya dulu juga ikut tes tapi saya tidak lolos dua-duanya. Sekarang murid saya bisa lebih hebat dari gurunya. Itu yang membanggakan saya sebagai gurumu” kata pak Yunus sambil menepuk bahuku.

Pak Yunus memberikan kesempatan padaku untuk memilih negara yang menjadi tujuanku dalam melanjutkan studi. Beliau tidak mau ikut memutuskan dan hanya berpesan untuk mengikuti kata hatiku. Setelah mengucapkan banyak terimakasih pada beliau, aku kembali ke kelas. Pikiranku menerawang negara pilihan mana yang aku inginkan. Juga bagaimana caranya memberitahu Vina.

Pada saat istirahat, aku temui pergi ke kelas 3 IPA 4 untuk menemui Vina. Seperti biasa, teman-temannya menggoda kami berdua. “Malam minggu ini, boleh aku menemui di rumahmu? Ada yang mau aku bicarakan jika kamu tidak keberatan?” bisikku lirih agar tidak temannya yang mendengar. “Yah, pacaran hampir 2 tahun, baru kali ini mau diapelin, ..lama banget? Mau datang sekali ini aja, pakai izin lagi..hadeeh” jawabnya dengan tersenyum manja. “Tuh, mama juga sering nanya aku, Adri itu pacarmu apa bukan, kok tidak pernah datang bermain ke rumah?, Gitu..!” Aku hanya mengangguk dan tersenyum saja tanpa berkata apa-apa padanya.

Aku sudah bercerita pada ayah dan ibuku. Mereka berdua terharu. Terutama ibuku yang menangis krena tidak mengira anak seorang tentara dengan pangkat Sersan Kepala (Serka) dan ibunya berjualan pecel, tapi anaknya bisa melanjutkan studi di Negara lain dengan beasiswa. “Semua ini berkat doa ayah dan ibu “ kataku sambil menenangkan ibuku. “Berangkatlah, .ibu, bapak dan adikmu akan selalu mendoakan keberhasilanmu” kata ayahku sambil membaca koran dengan nada datar untuk menekan perasaan terharunya. Aku tahu dari cahaya mata ayahku, beliau seperti itu sebetulnya juga bangga namun jarang terucap di depanku.

Penerimaan pak dan ibu Sugeng, orang tua Vina sangat ramah saat aku memenuhi janjiku untuk datang pada malam minggu berikutnya. Sengaja aku berkunjung setelah pelaksanaan ujian akhir atau ujian nasional SMA berakhir. Setelah berbasa basi dengan orang tua Vina, mereka berdua meninggalkan kami di teras rumah. Sambil menikmati hidangan teh dan kue yangbaru saja dihidangkan oleh bibi pembantu rumahnya, aku akhirnya bercerita jika aku mendapat beasiswa dan segera berangkat ke Jepang. Negara yang aku pilih untuk meneruskan studi dengan beasiswa penuh.

Vina tertawa dan mengatakan jika sebenarnya sudah tahu akan hal itu. Aku terkejut. Rencanaku untuk membuat kejutan menjadi bumerang. Sekarang aku yang ganti terkejut. “Pak Yunus sudah memanggilku dan menceritakan bahwa kamu lolos dan mendapatkan 2 beasiswa ke 2 negara dalam waktu bersamaan, ..tapi beliau bilang, aku harus bisa menjaga rahasia” kata Vina sambil tertawa. Tiba-tiba, Vina masuk ke dalam rumah dan keluar lagi dengan papa mamanya untuk menemuiku.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post