Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 22-  LDR)
ilustrasicrita.dokpri

AUBADE MASA SMA (Part 22- LDR)

AUBADE MASA SMA (Part 22- LDR)

Oleh : E.A.Wahyudiono

“Selamat ya nak Adri..!, Kami sudah dengar dari Vina, kamu dapat beasiswa penuh ke Jepang dan Australia sekaligus. Hebat!, saya sebagai ayah Vina, juga ikutan bangga nih..!. Ini bisa menjadi suatu contoh bahwa anak tentara juga bisa menempuh studi di luar negeri. Salut..!, Oh iya, jadi milih Jepang?” kata Pak Sugeng sambil menjabat tanganku. “Ingat, di sana belajar yang rajin ya! ” tambah bu Sugeng memotivasiku. “Terimakasih Bapak dan Ibu Sugeng atas dukungannya pada saya. Iya, saya memilih Jepang karena kemajuan teknologi dan pendidikannya. Mohon doanya selalu” jawabku dengan sopan.

Tiba-tiba, mama Vina menyodorkan bungkusan kado di dalam tas kertas besar padaku. “Ini kado dari kami semua. Ini yang milih Vina lho!.. bukan mama sendiri!. Biar ndak lupa dengan kami sekeluarga ya!” katanya lagi. “Ayo, boleh aja dibuka. Jika nggak suka, nanti Papa yang memakainya ” goda papa Vina sambil tertawa. Setelah mengucapkan terimakasih, kado yang besar itu aku buka. Betapa terkejutnya setelah aku amati. Ternyata kado itu adalah jaket musim dingin yang sangat besar dan berwarna krem. Aku hanya mampu mengucapkan banyak terimakasih pada mereka semua yang penuh perhatian padaku.

Malam itu di rumah Vina adalah malam yang selalu aku kenang selama aku belajar di Universitas Hiroshima, dan menetap di Jepang. Waktu 4,5 tahun adalah waktu yang singkat jika aku belajar giat. Vina meneruskan studinya di fakultas Farmasi, Universitas Airlangga , Surabaya. Sedangkan Widyas memilih dunia militer seperti ayahnya dan saat ini sedang menempuh pendidikan sebagai Taruni di Akademi Militer Magelang. Kami bertiga sudah saling berjanji untuk tetap selalu berkomunikasi dan bersahabat. Sedangkan sahabatku satu bangku Rendy memilih mendaftar bintara Angkatan Laut. Yusli sang ketua OSIS, melanjutkan studinya di jurusan Hubungan Internasional di Unair, kampus yang sama dengan VIna hanya berbeda gedung kampus. Yusli ingin jadi diplomat bangsa Indonesia kelak.

Aku berusaha menabung dari beasiswa yang lumayan besar etiap bulannya Aku juga bekerja paruh waktu (Arubaito) jika ada waktu luang di akhir pekan selama belajar di Jepang. Kedua orang tuaku pun selalu aku kirimi uang untuk biaya hidup dan pendidikan bagi kedua adikku di tanah air. Hubunganku dengan Vina tetap berjalan dan terjaga lancar untuk melepas kerinduan di antara kami berdua melalui Media sosial seperti E-mail, Facebook atau Whatapps.

Tidak terasa berbagi foto dan cerita dalam hubungan jarak jauh (Long Distance Relationship) dengan Vina adalah salah satu mengobati kerinduan. Aku sering bercerita tentang perkuliahan yang sulit, terutama saat belajar Bahasa Jepang. Belum lagi cuaca yang ekstrim apalagi saat musim dingin yang bisa membuatku kedinginan, namun cerita tentang perkuliahan Vina di Unair Surabaya dan cerita tentang adanya beberapa cowok di kampusnya yang mendekatinya menghangatkan hatiku dengan perasaan cemburu. Juga aku cerita jaket pemberiannya sering aku kenakan di musim dingin yang seolah-olah Vina menemaniku agar tetap sehat. Aku juga ganti menggodanya dengan mengirimkan banyak foto tentang keindahan bunga sakura saat bermekaran di kampusku atau di belahan sudut Kota Hiroshima.

“Mas, sekarang aku saat ini memakai hijab” tiba-tiba ada pesan masuk di messengerku. Tak berapa lama terkirim juga fotonya yang semakin anggun dan cantik dengan jilbab yang dipadu apik dengan baju muslim yang dikenakannya. “Alhamdulillah, ..cantiknya” jawabku singkat. Melalui facebook, kami berdua saling mengirimkan pesan dan foto. Apabila pembicaraan bersifat masalah pribadi, aku lebih suka menggunakan E-mail agar hanya kami berdua yang mengetahuinya.

Menginjak awal semester 7 atau tahun terakhir perkuliahanku di Universitas Hiroshima. Kami berdua mulai jarang berkomunikasi karena kesibukan dalam penyelesaian tugas akhir. Juga pada tahun terakhir, ada yang aneh pada facebook Vina, karena dia mulai jarang mengunggah foto terbarunya atau kegiatan di kampusnya. Saat aku tanyakan, dia merajuk manja agar aku mengirimi foto dulu dan setelah aku penuhi permintaannya, Vina tidak membalas mengirimi aku fotonya. “Biar semakin rindu” jawab Vina dalam pesannya dengan emot tertawa jika aku tagih.

Suatu hari saat aku sedang menikmati makan siang di (Shokudou) kantin kampus sehabis perkuliahan, tiba-tiba ada pesan masuk dari Vina “Mas, doakan aku selalu ya!” Dia tahu kapan jam istirahatku karena sudah aku kirim jadwal perkuliahanku dan selisih 2 jam antara Indonesia dan Jepang. “Nggak usah minta, aku selalu mendoakan untuk kesuksesanmu. Juga kuliahku tinggal satu semester lagi..Tunggu aku pulang ya, terus langsung melamarmu” kugoda dia dengan pesan itu. Tak berapa lama, ada balasan dari Vina, tapi bukan jawaban akan kalimat niat lamaranku, “Mohon doanya, aku berangkat umroh sendirian ke tanah suci ya. Papa dan Mama sibuk ,jadi nggak bisa nemani. Papa sekarang naik pangkat menjadi Kolonel Infantri dan Jabatan papa sekarang adalah Komandan Korem serta masih di Surabaya."

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post