AUBADE MASA SMA (Part 23- Pulang)
AUBADE MASA SMA (Part 23- Pulang)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Hatiku bergetar dan kaget juga saat Vina menyampaikan bahwa dia umroh sendirian. “Kok umroh sendirian?, nggak nunggu aku saja?, .kita bersama, toh aku tinggal 6 bulan lagi selesai kuliah di Jepang” jawabku dengan setengah bertanya. Sepekan kemudian baru ada pesan balasan yang aku terima,
“Maafkan aku, Mas, ..beberapa hari ini aku sedang mempersiapkan ujian sidang kelulusan sarjanaku. Aku tidak mau gagal dan juga tidak mau kalah denganmu” sambil diberi emot tertawa.
Aku jadi ingat, memang beberapa pekan yang lalu kami berdua sempat saling berdiskusi tentang sistem penulisan tugas bahasa asing, termasuk penulisan abstrak skripsinya dalam Bahasa Inggris. Vina tahu jika aku paham banyak bahasa asing. Aku sendiri saat ini juga sedang menyiapkan presentasi dalam Bahasa Inggris dan Jepang di kampusku. Dari pesan Vina, aku bisa mengambil kesimpulan jika dia akan berangkat umroh bersama rombongan biro tur umroh yang terpercaya di Kota Surabaya.
Tak terasa, kesibukkan di kampus selama beberapa bulan terkahir ini membuat kami berdua jarang komunikasi. Sesekali aku menghubungi Yusli, temanku yang dulu ketua OSIS sekolahku untuk menanyakan kabar dan mencari tahu tentang kabar Vina. Mereka berdua sama-sama berkuliah di Unair meskipun di fakultas yang berbeda.
“Jangan kawatir, meski beda gedung, sesekali aku juga bertemu Vina di perpustakaan kampus pusat. Sekarang dia semakin anggun dengan jilbabnya. Jangan kawatir ya, nggak ada cowok yang berani mendekati dia. Banyak yang tahu kalau pacar Vina kuliah di Jepang, dan lagi ayah Vina adalah Komandan Korem di Surabaya”.
Kata-kata Yusli membuat hatiku tenang walaupun saat aku hubungi dengan Video Call, Vina selalu menolak karena sedang ada konsultasi dengan dosen pembimbingnya. Aku jadi tidak berani menganggunya lagi. Tapi saat aku sendiri sedang sibuk dengan Profesorku, tiba-tiba Vina menilpunku. Aku keluar dari ruangan dan menjawab singkat serta minta maaf, nanti aku hubungi lagi sambil menutup tilpunku.
Tak berapa lama ada pesan masuk, “Iyaaa,….dekaranh lupA Aku yA? Pasti cweek Jepng lebih camtik dari aku?” dengan emot wajah sedih. Aku baca sambil tersenyum karena tulisannya banyak typo. Karena aku masih berdiskusi dengan dosenku, gawai aku masukkan lagi di sakuku dan berjanji untuk membalas pesannya nanti malam.
Beberapa hari kemudian aku baru ingat jika belum membalas pesan Vina. ”Maaf , karena persiapan (hapyou) presentasiku dan (ronbun) artikel skripsiku, jadi baru sempat membalas nih”. Pesan yang aku kirim beberapa hari itu sama sekali tidak direspon dan dibalas oleh Vina.
Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah Vina marah padaku karena saat dia tipun segera aku tutup? Karena penasaran, segera aku kirim pesan lagi, “Maaf ya, sama sekali nggak ada gadis Jepang yang menarik hatiku. Hanya kamu selalu yang ada di hatiku sampai kapanpun. Aku sudah berjanji untuk membuktikan pada kedua orang tuamu dan dirimu, bahwa aku layak bersanding di sampingmu kelak. Jika diizinkan, setelah wisuda dari Universitas Hiroshima ,aku segera pulang dan akan datang sendiri dulu untuk memohon restu pada ayah ibumu agar dizinkan melamarmu ya” .
Ternyata pesanku itu baru dibalas setelah tiga pekan kemudian. "Halo, sayang..maafkan aku ya, aku lama tidak memberi kabar. Belum dengar ya? Aku sudah dinyatakan lulus dan wisuda dua minggu lalu. Sekarang resmi menyandang gelar Sarjana Farmasi lhoh. Kok nggak diucapin selamat padaku? Oh, iya, juga maafin aku jika ada salah, karena setelah wisuda langsung berangkat umroh dan semua handphone-ku sering aku off-kan selama menjalankan ibadah di tanah suci”
Antara jengkel, marah, bahagia dan bangga mendapatkan berita gembira dari Vina membuat airmataku menetes karena terharu. “Iya, nggak papa, selamat ya..!. Luar biasa, Aku bangga padamu karena sekarang sudah lulus sarjana. Aku malah tinggal 3 bulan lagi” Aku kirim jawaban pesan pertama ke Vina. Namun kemudian aku tambahi lagi, “Jangan mikir aneh-aneh ya. Nggak ada cewek Jepang yang merebutku dari hatimu..lupa, eh, mana foto wisudamu? Kirimi dong, aku pingin lihat!?”.
Sungguh menjengkelkan sekali. Pesan yang aku kirim seperti itu juga dibalas Vina sepekan kemudian dan kalimatnya membuatku berpikir.”Maaf, baru balas. Aku iklhas jika Mas tertarik dengan orang Jepang, atau bertemu dengan gadis dari Indonesia yang juga kuliah di sana. Jika mas bahagia, aku juga akan berbahagia serta selalu mendoakanmu” Kok aneh jawabannya. Jangan-jangan dia sudah punya calon suami. Tiba-tiba pikiran curiga itu membuat jantungku berdebar.
Aku segera mencoba menghubungi Vina dan kali ini langsung menilpunnya. Namun hanya nada dering tanpa mau menerima tilpunku. Aku menjadi kesal dan sangat kecewa serta merasa sangat marah. Aku merasa seperti diabaikan oleh kekasihku yang selalu aku rindukan sejak masa SMA itu. Akhirnya, sengaja jika ada pesan dari Vina aku biarkan dan gantian tidak aku balas dengan segera.
“Mas,..doakkkkan aju slalui yA” Aku mau marah tapi menjadi tertawa karena pesannya lucu dan banyak yang typo. “Jika ngantuk, segera tidur, nggak usah balas pesanku..tuh, tulisanmu typo semua” Aku beri emot wajah marah yang warna merah meskipun aku kirim pesan itu sambil tertawa.
Akhirnya selesai juga kuliahku di Jepang setelah hampir 4, 5 tahun menetap di Kota Hiroshima. Dua hari menjelang kepulanganku, ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan baik di kampus, di Balai kota dan administrasi lainnya seperti pengurusan ijazah serta tiket. Tiba-tiba ada surat di loker pintu asrama yang menarik perhatian. Saat aku buka, ternyata dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta bahwa aplikasiku dulu untuk beasiswa AusAID masih berlaku dan memberikan tawaran beasiswa penuh untuk mengambil program Master di Universitas Curtin di Australia Barat. Aku langsung bersujud syukur kepada Allah karena begitu banyak nikmat yang dianugerahkan padaku.
Aku sengaja tidak memberitahu Vina bahwa aku pulang Ke Indonesia. Sudah kuhubungi Yusli untuk tidak bercerita dan aku minta dia untuk menjemputku di Bandara Internasional Juanda. Aku ingin memberikan kejutan pada Vina dan keluarganya. Selama di pesawat aku sudah merencanakan untuk menghadap Kolonel Inf. Sugeng ayah Vina dan ibunya untuk meminta Vina dan melamarnya menjadi istriku. Setelah menikah, rencanaku, Vina langsung aku boyong untuk ikut tinggal di Australia selama aku menyelesaikan program masterku
Sore hari setelah pesawatku mendarat di Juanda, aku segera keluar dan kulihat Yusli melambaikan tangan ke arahku saat di tahu kedatanganku. Wajahnya tetap awet muda jadi tidak membuatku kesulitan mengenalinya. Setelah aku ucapkan selamat akan kelulusannya, dia hanya tersenyum. Seperti rencanaku sebelunya, aku minta untuk langsung menuju rumah Vina. Yusli hanya menganggukkan kepala saja. Setelah Aku dan Yusli berpisah hampir 4, 5 tahun, ternyata wajahnya masih serius dan jarang bicara. Aku yang semangat bertanya tentang Widyas, gadis yang disukainya. Tapi sepertinya Yusli enggan bercerita banyak dan hal itu membuatku tidak berani menggodanya lagi. Heran saja kenapa Yusli jadi pendiam sekarang.
Begitu tiba di depan rumah dinas Korem, seperti biasa jika ke rumah dinas tentara, aku lapor pada yang bertugas jaga di situ. Rumah yang sangat luas serta rimbun itu tampak sepi. Pintu tetap terbuka namun terlihat sepi saja tidak ada yang menyambutku. Segera aku ketuk pintu dan mengucapkan salam. Tak berapa lama Pak Sugeng dengan masih mengenakan dinas tentara dan ibu Sugeng keluar dari ruang tengah rumah dinas. Mereka menyambutku dengan sangat ramah, bahkan Pak Sugeng memelukku sangat erat sambil menanyakan kabarku. Aku secara tidak sadar bercerita semua hal tentang diriku di Jepang.
Kemudian, dengan nada pelan aku utarakan niatku untuk melamar Vina dan minta izin untuk menikahinya. Sekaligus pada kesempatan itu aku mohon restu untuk mengajak Vina tinggal di Australia selama masa studi S2 ku. Tiba-tiba, Ibu Sugeng langsung menghambur memelukku dan menangis sekeras-kerasnya. Aku menjadi kaget dan masih bingung dengan respon beliau seperti itu.
“Alhamdulillah, aku pasti ditrima menjadi menantu kebanggaan mereka berdua nih” kata hatiku untuk mengusir kebingunganku. Yusli yang ada di sebelahku hanya diam dan mengamatiku tanpa ekspresi sambil sesekali menunduk. Aku seperti menjadi linglung. Tidak tahu apa yang terjadi.
“Maafkan, mama, papa, dan Vina,…. nak Adri. Tiga pekan lalu,..... Allah sangat menyayangi Vina. Allah telah memanggilnya terlebih dahulu karena penyakit kanker payudara yang dideritanya” isak bu Sugeng padaku dan masih memegang tanganku erat. Aku hanya terdiam mematung dengan pikiranku yang tiba-tiba kosong. Aku mejadi manusia tanpa ekspresi.
“ Vina sudah berusaha menjalani perawatan dan operasi, namun kankernya masih ada. Bahkan selama 1 tahun terakhir ini, Vina harus menjalani kemoterapi sehingga rambutnya menjadi habis dan badannya menjadi semakin kurus.” Kali ini isak beliau semakin mengeras.
Pak Sugeng dan Yusli, aku amati mereka berdua ikut menangis tersedu. Aku masih belum bisa menerima dan memahami akan hal ini. “Oleh karena itu, pesanmu tidak pernah dibalas olehnya karena saat itu Vina sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Tangan kanannya tidak bisa digerakkan. Vina sering membalas pesanmu dengan jari ditangan kirinya sambil menahan sakit..Kami semua diminta Vina untuk bersumpah agar tidak memberitahukanmu. Itu karena Vina tidak mau mengganggu studimu di Jepang” kata Mama Vina sambil kembali ke kursinya setelah berkata begitu.
“Tiiidaakkk..tidaakkk…berita ini tidak benar..!!” kataku sambil berteriak dan berdiri dengan mendadak. Aku masih tidak percaya dan pergi ke luar pagar sambil berteriak mencari-cari akan keberadaan Vina. Pak Sugeng menyusulku dan memelukku. Tumpahlah semua airmataku di depan pintu gerbang rumah itu sambil aku terduduk di tanah. Aku remas tanah di situ sebagai bukti bahwa aku tidak bermimpi. Tangisku semakin menjadi menyesali nasib Vina.
Aku merasa bersalah telah menuduh Vina tidak mencintaiku. Aku juga tidak segera meyadari dan merasakan penderitaan yang dia alami selama berjuang melawan sakit kankernya. Jadi selama ini dia terlihat bahagia namun sesungguhnya menyimpan derita itu untuk dirinya sendiri. "Vina,...kenapa kamu tidak bercerita padaku?!" gumanku lirih dengan nada terisak tak tertahankan.
Mama Vina menyusulku dan juga memelukku untuk menenangkan hatiku sambil memberikan sepucuk surat warna merah muda dengan gambar pohon flamboyan. yang sedang mekar. Kudekap surat itu di dadaku. Mataku menjadi nanar dan hatiku rindu sekali pada almarhumah Vina.
Wajahnya terlihat sayu,.
Flamboyan....Berguguran. ..Berjatuhan,….Berserakkan……..!
Di pangkuan bumi.
TAMAT
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
