Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 6-Apakah ayahku dihukum?)
ilustrasiceritadari.beautinesia.id

AUBADE MASA SMA (Part 6-Apakah ayahku dihukum?)

AUBADE MASA SMA (Part 6-Apakah ayahku dihukum?)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Selama perjalanan dari rumah dinas ayah Vina, pikiran dan hatiku menjadi tidak tenang setelah melihat kehadiran seorang Taruna AKMIL tingkat 2 yang berkunjung ke rumah dinas ayah Vina. Aku merasa menjadi tidak semangat. Apakah ini lelah, marah, rindu, benci, cemburu atau cinta. Aku sendiri tidak memahami jelas perasanku sendiri tepatnya perasaan yang mana.

Azan magrib terdengar berkumandang saat aku masuk rumah dinas ayahku. Rumah yang kami tempati bersama dengan kedua adikku. Membayangkan besarnya rumah dinas ayah Vina yang berpangkat perwira dan menjabat komandan sangatlah tidak adil bila aku bandingkan dengan rumah dinas ayahku yang hanya berpangkat Sersan.

Saat pulang, Aku lebih sering melewati pintu dapur daripada pintu depan. Itu karena pintunya hanya terbuat dari kayu lapis atau triplek. Dapur rumah dinas beratap asbes itu dibuat oleh ayahku untuk memperluas ruangan karena pada umumnya rumah dinas tentara jarang ada dapurnya.

“Assalamualaikum” ucapku pada ayah dan ibuku yang sedang berada di meja dapur. Kemudian aku letakkan parcel buah pemberian Ibu Sugeng. Ibuku hanya menjawab trimakasih sambil menghela nafas pelan kemudian ayah menyuruhku untuk segera salat magrib dan setelah itu bersiap untuk makan malam bersama.

Selesai makan malam dengan menu sederhana, Ayahku memintaku untuk tetap di meja makan. Sementara ibuku dan kedua adikku membawa sisa makanan dan piring kotor ke meja tempat pencucian. “Ceritakan dengan jujur pada Bapak, kenapa kamu kok sampai bisa dipanggil Pak Letkol Inf. Sugeng?. Kamu tahu? Beliau itu adalah komandan bapak. Bapak tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan juga pada keluarga ini” kata ayahku dengan nada keras penuh selidik.

Akhirnya dengan sangat terpaksa aku bercerita mulai dari pulang bersama dengan Vina, putri komandan ayahku, kemudian kami dipanggil ke ruang guru untuk urusan yang lain yang berbeda, pulang kehujanan dan saat berada di rumah Pak Letkol Inf. Sugeng. Aku juga bercerita bertemu dengan Ibu DanYon juga.

Begitu aku selesai bercerita ayahku tertunduk dan menghela nafas sambil berkata tegas dengan gaya militernya,”Bapak tidak ingin kamu dekat-dekat dengan Vina, anak komandan Bataliyon itu. Kamu harus menjahui dia dan usahakan jangan sering bertemu. Ini bukan saran tapi perintah dari bapak kepadamu!”

Ibuku yang mendengar ada suara keras segera bergabung di meja makan dan menambahkan,”Nak, tolong kamu jaga kondite ayahmu sebagai prajurit. Ayahmu ini hanya berpangkat Sersan Kepala. Sedangkan Vina, itu anak Perwira. Kamu harus tahu diri. Jika hal ini terdengar seluruh Bataliyon Bapak dan Ibu jadi malu, bahkan Pak Letkol Inf. Sugeng akan merasa lebih malu lagi. Banyak perwira muda lulusan Akademi militer yang berdinas di sini berusaha mendekati Vina yang terkenal cantik itu. Lahh..!, kok kamu ikut-ikutan”.

Biasanya aku jarang membantah atau menjawab bila ayah atau ibuku menasehatiku. Hal itu untuk menunjukkan bahwa aku berusaha menjadi anak yang berbhakti pada orang tua. Namun, kali ini dengan sedikit ragu aku berusaha menjelaskan dengan nada pelan,”Maafkan bapak.., ibu…aku dengan Vina itu hanya berteman saja. Juga, kelihatannya Pak Sugeng, ayah dan mama Vina terlihat baik bu.” Kulihat ibuku hanya menghela nafas saja. "Sudah, kamu jangan banyak alasan, ikuti perintah bapak tadi saja" nada keras ayahku setengah menghardik dan langsung beliau pergi keluar rumah dengan wajah bersungut.

Setelah belajar selama 2 jam sebagai kegiatan rutin setiap malam, aku pun pergi tidur, namun rasanya sulit untuk memejamkan mata karena teringat Vina yang menggandeng Taruna Akmil di rumahnya itu. “Ahh, sudahlah, Vina memang bukan untukku dan aku pastilah bukan levelnya”, Itulah kata dari hatiku yang lain. Apalagi pangkat ayahku yang hanya Sersan Kepala membuat nyaliku dan harapanku semakin mengecil.

Keesokan harinya, setelah membantu membersihkan senjata laras panjang, yaitu senapan serbu M-16 ayahku, aku pun juga berkemas untuk persiapan berangkat ke sekolah. Aku sudah diajari ayahku dan terlatih dalam membersihkan senjata maupun membongkarnya mulai dari melepas magasen untuk tempat peluru, meminyakinya dan merakitnya lagi secara rutin.

Ayahku sudah berangkat terlebih dulu saat aku dan adikku masih menikmati sarapan ringan dengan segelas susu Shinta, yaitu ransum pembagian untuk keluarga tentara. Belum jauh Aku meninggalkan rumah untuk bersekolah, betapa kagetnya diriku melihat ayahku di seberang lapangan bataliyon sedang bertelanjang dada dengan kurang lebih ada 35 tentara sedang memanggul senjata dan berlari mengitari lapangan asrama di pagi hari itu.

“Apakah ayahku dan anak buahnya sedang dihukum oleh Komandan Bataliyon? Apakah ayahku harus mendapat hukuman atas perbuatanku? “ Hatiku tiba-tiba menjadi merasa sangat bersalah dan iba. “Kenapa ayahku memilih menjadi prajurit? Kenapa ayahku tidak menjadi perwira saja?” Sesalku dalam hati.

"Apakah ini karena aku terlalu kurang ajar dan berteman dengan anak komandan dari ayahku?" Hatiku memberontak dan tak terasa ada buliran air jatuh dari sudut mataku saat melihat beratnya tugas yang dipikul dipundak ayahku.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post