AUBADE MASA SMA (Part 8- Ketika Vina bertemu Widyas)
AUBADE MASA SMA (Part 8- Ketika Vina bertemu Widyas)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Tepat tengah hari, tidak terasa pelajaran di kelas dengan materi IPA telah berakhir bersamaan dengan bel kelas yang kembali bising di telingaku. Seperti biasanya, jam istirahat selalu Aku pergunakan untuk salat duhur dan makan siang di kantin. Apalagi pelajaran IPA hari ini tadi membuat energiku habis hanya untuk mengerjakan soal-soal latihan.
Sesekali bayangan kemesraan Vina dengan Taruna Akmil melintas di benakku dan itu sungguh menganggangu konsentrasi belajarku di kelas. Benar kata orang-orang bahwa pacaran selama sekolah hanya mengganggu belajar saja. Belum lagi masih merasa sedih saat melihat ayahku dan anak buahnya yang menurutku sedang dihukum berlari mengitari lapangan Bataliyon tempat ayahku berdinas.
Aku ajak Rendy sahabat karibku untuk ke kantin sekolah, namun tertahan karena Widyas murid pindahan dari Menado itu mencegah langkah kami untuk meninggalkan bangku.” Maaf, Adri, maukan kamu menemaniku untuk makan siang di kantin. Aku masih belum hafal dengan lokasi sekolahku yang baru ini” mohonnya dengan tatapan tajam. “Boleh aja, tapi temanku Rendy ini bagaimana?” jawabku singkat.
Widyas melihat Rendy sebentar dan berkata,”Boleh, ayo gabung Rendy, Aku yang traktir nih”. Rendy terlihat seperti anak kecil yang diberi permen. Beberapa cowok temanku sekelas yang mendengar Widyas mengajakku dan Rendy ke kantin segera menggoda Rendy dengan nada mengolok bahwa dia akan dijadikan obat nyamuk nantinya. Kami semua sontak tertawa.
Aku suruh Rendy dan Widyas, murid pindahan baru yang ayahnya seorang Jenderal itu untuk ke kantin terlebih dulu karena aku harus salat duhur. Aku tahu dari perkenalan dirinya di kelas bahwa Widyas Maria Lelga itu beragama Kristen jadi rasanya tidak perlu Aku tanyakan. Sedangkan Rendy akan salat duhur setelah aku. Kami akan bergantian menemani Widyas di kantin.
Setelah menunaikan kewajibanku, segera aku susul Rendy dan Widyas di kantin dan sengaja tidak melewati kelas IPA 4 agar tidak bertemu Vina. Dari pintu kantin, aku lihat mereka berdua sedang asyik menikmati menu Soto ibu kantin yang terkenal lezat dan murah. Namun langkahku menjadi ragu saat aku melirik di meja kantin sebelah kanan ternyata ada Vina di situ dengan beberapa teman putri sekelasnya yang juga sedang menikmati hidangan dan bercanda.
Kami saling bertatapan mata sejenak sampai terdengar suara Widyas yang memanggilku untuk duduk. Aku pun menepati janjiku untuk makan siang bersama dengan murid pindahan itu. “Haduuh, kurang ajar si Rendy ini, justru kursi yang kosong ada di sebelah Widyas” kataku dalam hati, tetapi dengan pelan kugeser sedikit dan duduk agak menjauh di sebelah murid baru itu. Tak berapa lama, Rendy segera meninggalkan kursinya untuk ke masjid karena takut jam istirahat segera berakhir.
Ternyata Aku sudah dipesankan satu porsi Soto ayam kegemaranku oleh Rendy. Tanpa basa-basi langsung saja ku lahap dengan nikmat. Saat sedang menyantap Hidangan itu, sudut mata kiriku menangkap bahwa Widyas selalu memandangiku dan itu membuatku terganggu namun aku pura-pura tidak tahu. “Dari tadi di kelas saat berkenalan, sekarang di kantin anak pindahan baru ini selalu menatapku. Sungguh membuatku tidak nyaman saja. Jadi penasaran aja nih”. Pikiranku jadi kemana-mana.
Adri tidak menyadari bahwa Vina memandangi mereka dengan tatapan cemburu. Dia sudah mendapat info dari teman-temannya bahwa ada murid baru dari Menado dan ayahnya menjabat Panglima Kodam. Semua murid, khususnya yang para cowok di sekolah pasti akan segan untuk mendekati Widyas.
Senyum indah di bibir Vina yang biasanya selalu ceria mendadak hilang, dan teman semeja makannya malah menggoda Vina.”Aduuh, kamu kalah cepat Vin!, tuh ada murid baru yang mendekati Adri!”. Dengan mata berkaca, tiba-tiba Vina berdiri dan berjalan ke luar dari kantin sekolah tanpa menoleh. Teman-temanya terkejut dan merasa bersalah telah berkata begitu.
Aku mengamati Vina yang berjalan sendirian dan meninggalkan teman-temannya keluar dari kantin sampai dia masuk ke dalam kelasnya. Untuk sesaat, Aku merasa bahwa tidak terjadi apa-apa. Toh, dia bukan kekasihku dan kekasihnya pasti yang Taruna Akmil itu. Dia juga akan menghiburnya nanti. Sementara Adri tidak menyadari bahwa Widyas dari tadi juga mengamati dirinya yang selalu menatap Vina yang cantik meskipun sedang makan bersamanya saat ini .
“Boleh aku tanya sesuatu yang bersifat pribadi?” kata Widyas setengah berbisik. “Boleh saja, kenapa tidak. Jika bisa saya jawab, ya akan saya jawab” jawabku dengan masih menikmati Soto. Widyas pun dengan wajah ingin tahu bertanya lagi tanpa aku perhatikan “Maaf, Apakah gadis cantik yang keluar dari kantin tadi itu kekasihmu?”
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
