Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AUBADE MASA SMA (Part 9- Ayahku dan Ayah Vina bertugas)
ilustrasicritadari.beautynesia.com

AUBADE MASA SMA (Part 9- Ayahku dan Ayah Vina bertugas)

AUBADE MASA SMA (Part 9- Ayahku dan Ayah Vina bertugas)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Mendengar pertanyaan dari Widyas yang langsung to the point tanpa basa-basi yang menanyakan Vina adalah kekasihku membuat Aku menoleh dan menghentikanku melanjutkan makan nasi Soto di kantin. Aku amati dengan teliti wajah Widyas siswa baru yang mempunyai bibir mungil itu.

“Hemm, jika aku jawab IYA, kenapa? Dan jika Aku jawab TIDAK, kenapa juga?” jawabku dengan nada pelan dan balik bertanya namun penuh selidik. Aku heran dengan murid cewek yang baru aku kenal ini. Dari sikap dan nadanya sangat percaya diri dan spontan. Badannya tinggi, langsing tapi sifatnya cenderung tegas dan suka main perintah. Mungkin pengaruh dari ayahnya yang berpangkat Jenderal dan menjabat sebagai Panglima Kodam.

“Maaf, ya Adri, jka pertanyaanku membuatmu tidak berkenan. Aku tadi hanya menduga saja, karena dari tadi dia selalu mengamatiku dan menjadi berubah wajahnya saat melihatmu duduk bersamaku di kantin. Kemudian Aku lihat dia langsung pergi meninggalkan teman-temannya yang masih di kantin” jelas Widyas dengan nada datar. “Tapi, Aku yakin, dia bukan kekasihmu” tambah Widyas padaku tanpa tedeng aling-aling.

“Kenapa kamu bisa berpendapat begitu? Aku kan belum bilang apa-apa” jawabku dengan nada heran kok berani sekali Widyas langsung menebak seperti itu. “Jika kekasihmu, pertama, kamu pasti ikut duduk bersama gadis tadi. Kedua, jika benar kekasihmu, pasti kamu ikut menyusul keluar saat dia pergi tadi”. Kata Widyas dengan kalimat yang jelas dan lugas. Aku hanya tersenyum tanpa menjawab kalimat apa-apa pada Widyas. Tidak mengiyakan atau juga mengatakan tidak padanya.

Vina memang beda dengan murid baru ini. Keduanya sama cantiknya, namun sifat dan karakternya berbeda. Vina meskipun anak dari Komandan Bataliyon di satuan ayahku berdinas, namun dia agak pemalu, hampir pendiam dan selalu ramah malah cenderung manja. Dia lebih suka menahan diri untuk mengatakan sesuatu yang bisa menyakitkan perasaan orang lain. Itu salah satu yang aku suka darinya.

Di sekolahku, hampir separuhnya adalah anak prajurit baik dari kalangan perwira tinggi, menengah ataupun prajurit seperti ayahku. Kami semua saling berinteraksi satu sama lain, namun akan segera menjaga jarak bila sudah mengenal siapa orang tua, pangkat dan jabatannya. Aku juga heran mengapa pengaruh kepangkatan dalam pekerjaan orang tua kita semua juga berpengaruh dalam pergaulan kita sehari-hari.

Saat bel pulang, aku pun bergegas menemui temanku Yanto, temanku dari kelas IPS yang menawariku untuk pulang bersama dengan sepeda motor Suzuki bebek warna hijau daun bututnya. Dia adalah temanku dari mulai SD sampai dengan SMA. Kami berdua sama sama duduk di kelas 2 SMA saat ini, namun beda penjurusan saja. Apalagi kami tinggal di perumahan dinas tentara yang sama dan jarak rumah kami tidak begitu jauh.

Selama dibonceng oleh Yanto, aku lebih banyak diam dan pikiranku teringat pada Vina. Kadang aku merasa bersalah, namun aku harus tahu diri seperti pesan ayahku. Oleh karena itu, Sengaja Aku keluar sekolah duluan agar tidak bertemu Vina di pintu gerbang saat pulang sekolah. Hal itu semata untuk menjaga hatiku agar tidak sakit melihat Vina yang sudah punya kekasih, yaitu seorang Taruna Akmil yang pernah aku jumpai saat berkunjung ke rumahnya.

Pikiran itu masih menggelayut di kepalaku sampai saatnya makan malam bersama ayah dan ibuku. Apalagi aku menduga bahwa ayahku telah dihukum oleh ayah Vina untuk berlari mengelilingi lapangan Bataliyon dengan memanggul senjata. Aku menduga bahwa semua itu adalah salahku yang telah berani mendekati Vina anak dari Letkol Inf.Sugeng, Komandan ayahku.

Tiba-tiba ayahku menepuk bahuku,Aku pun tersadar dari lamunanku,”Adri, kamu ini dipanggil bapak sampai 2 kali kok tidak mendengarkan. Mikir pelajaran ya?” kata ayahku. Aku pun segera menganggukkan kepala saja agar tidak banyak pertanyaan lagi padaku.”Tolong jaga Ibumu dan kedua adikmu selama seminggu ya. Awasi dan bimbing dalam belajar. Letkol Inf. Sugeng, Dan Yon memberi tugas pada satu peleton bapak (1 peleton ,sekitar 35 prajurit) untuk mewakili Kodam dalam event lomba Tamtama Jaya (Prajurit peleton tangguh) antar Kodam se Indonesia di Asembagus, Banyuwangi. Ini adalah suatu kehormatan bagi bapak dan anak buah lainnya” pesan ayahku.

Hatiku langsung berdebar. Jadi kejadian yang aku lihat kemarin itu ternyata latihan semata untuk persiapan mengikuti lomba prajurit se Indonesia? bukan hukuman? Seketika hatiku merasa bersalah pada Vina dan juga pak Letkol Inf, Sugeng yang telah menuduh beliau begitu kejam dengan menghukum ayahku. Rasanya, malam ini aku ingin bisa bertemu dengan Vina untuk minta maaf.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post