MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 1 - Namaku Damar)
MALAIKAT YANG TERBUANG
Oleh : E.A.Wahyudiono
DAMAR, semua orang yang aku kenal sering memanggil namaku seperti itu meskipun nama lengkapku adalah Naufal Damar Prasetyo. Mereka sering memanggil nama tengahku saja. Keluargaku juga begitu. Jika disuruh memilih, aku lebih suka dipanggil NAUFAL. Akan tetapi apalah arti sebuah nama. Dalam diriku, yang terpenting adalah perbuatan baik di dunia ini dibanding dengan keindahan nama yang dimiliki.
Setelah menyelesaikan sekolah kedinasanku selama 4 tahun di POLTEKIP (Politeknik Ilmu Pemasyarakatan) di bawah Kementerian Hukum dam Hak Asasi Manusia, aku ditempatkan sebagai pegawai negeri (PNS KumHam) di sebuah lapas di sebuah kota kecil di kotaku selama hampir 3 tahun. Kali ini, aku dimutasi dengan promosi jabatan sebagai Kepala Seksi Administrasi di daerah Sulawesi Tengah. Daerah yang masih kental dengan nuansa budaya, norma, dan adatnya. Masyarakat yang tinggal di kota kecil itu masih berpola paternalistik dengan agama yang taat sebagai way of life sehari-hari.
Sebagai PNS di lembaga pemasyarakatan kelas IIA di situ, selalu kuikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) karena menyangkut penegakkan hukum di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Faktor keamanan dan keselamatan baik untuk para sipir di lembaga pemasyarakatan dan juga para tahanan yang berjumlah 500 orang. Mereka terdiri dari narapidana yang sudah divonis tetap atau pun yang masih berstatus titipan karena masih menjalani sidang.
Para tahanan dibagi menjadi beberapa sel di dalam bangsal besar tergantung dari jenis kejahatan yang mereka lakukan. Hampir separuh dari para tahanan adalah penjahat kambuhan atau residivis. Mereka sering keluar masuk penjara karena melakukan kejahatan seperti pencurian, penodongan, atau perampokan. Sedangkan untuk tahanan dengan status tindak pidana korupsi, adalah tahanan yang paling dibenci di dalam lapas oleh para tahanan lainnya.
Untuk tahanan asusila seperti pemerkosaan dan pelecehan seksual adalah tahanan yang paling hina. Mereka ini kerap mendapatkan kasus penganiayaan secara verbal maupun non verbal dari para tahanan lainnya. Tahanan yang paling ditakuti di dalam LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan) adalah seseorang yang telah divonis hukuman mati (death row). Penjahat ini membunuh tahanan lainnya sebagai misalnya, hukumannya tetap lah hukuman mati. Jadi lebih baik menyingkir dari jenis tahanan seperti ini dan jangan coba mencari persoalan dengan mereka itu. Beruntunglah mereka para tahanan dengan status tahanan politik, mereka ini disegani karena kepandaiannya.
Karena asalku dari Pulau Jawa, aku harus berangkat ke Sulawesi Tengah bersama dengan istriku dan anak perempuanku yang masih berusia 1 tahun. Ayahku yang bekerja sebagai guru sekolah dasar di desaku merasa sangat berat untuk melepaskan diriku karena aku adalah anak tunggal. Aku merasa telah mengecewakan ayah dan ibuku yang menginginkan aku menjadi seorang guru, namun keinginanku untuk diterima sekolah kedinasan agar tidak membebani biaya kuliah pada orangtuaku bisa terwujud di Poltek Ilmu Pemasyarakatan ini.
Perumahan dinas bagi para PNS sipir Lapas yang termasuk juga kami tempati sangat jauh dari kesan mewah. Rumah dinas kepala Lapas ataupun pejabat serta semua staf termasuk diriku bentuk dan luasnya hampir sama. Namun itu semua kami syukuri dalam menjalankan tugas negara di lembaga pemasyarakatan di Sulawesi Tengah ini. Sebagai sipir di lapas, kami semua saling menjaga satu sama lain. Jika kami lalai dan lengah, nyawa kami akan menjadi taruhannya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Kasus yang sering terjadi selama ini adalah adanya upaya dari para tahanan untuk melarikan diri dari Lapas. Sungguh pekerjaan yang penuh resiko berat.
Setiap hari, Lapas yang biasanya tenang dan tertib, pagi hari ini menjadi berbeda. Di tengah menjalankan tugas untuk berjaga dalam menerima tamu atau keluarga yang berkunjung untuk menemui para tahanan seperti biasanya, mendadak aku mendapatkan perintah dari kepala Lapas untuk segera menutup dan membatalkan jam kunjungan dan segera memerintahkan keluarga yang ada di bangsal pertemuan agar segera meninggalkan lapas. "Ada kejadian apa ini?" pikiranku penuh dengan tanda tanya untuk bersiaga.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan