Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 2. Suasana Lapas Siaga)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 2. Suasana Lapas Siaga)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Perintah dari kepala Lapas segera aku laksanakan. Aku berlari ke lapangan tengah dan meminta kepada para penanggung jawab sel setiap bangsal untuk segera memasukkan kembali para tahanan yang menjadi asuhan mereka. Untuk para petugas yang bersenjata di balkon dan tower, aku beri isyarat jari tangan untuk waspada dengan menunjuk mata dan mengarahkan kepada para tahanan yang berduyun saat masuk sel mereka kembali.

Sedangkan untuk petugas bagian pintu lapis satu untuk memastikan tidak ada narapidana yang ikut bergabung dengan keluarga mereka yang berkunjung dan menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Untuk penjaga lapis dua, akan mengembalikan kartu identitas mereka berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau tanda pengenal lainnya seperti Surat Izin Mengemudi (SIM). Tamu juga harus mengembalikan Kartu Kunjungan (Visitor) yang dikalungkan. Di situ, para petugas akan mengenali mana yang pengunjung dan mana yang tahanan.

Penjaga bersenjata lengkap selalu bersiaga di pintu lapis 3 atau pintu gerbang ke luar. Mereka tidak segan menangkap para tahanan yang mencoba melarikan diri. Para tahanan tidak menyadari bahwa selot anak kunci di pintu penjara mempunyai sistim kerja yang unik. Umumnya selot kunci pintu di rumah kita, selalu dibuka dengan memutar kunci melawan arah jarum jam, sedangkan selot kunci penjara, jika ingin membukanya justru harus searah jarum jam.

Hanya sipir penjara yang mengenal pintu mana saja yang membukanya justru searah jarum jam. Banyak kasus tahanan yang melarikan diri, waktu mereka habis karena terjebak di pintu semacam ini sehingga petugas dengan mudah mengepung dan menangkap mereka lagi. Saat aku memberi perintah dan memastikan semua prosedur darurat Lapas sudah dikerjakan, aku dengar dari beberapa para tahanan yang sedang berbicara bahwa mereka sepertinya ketakutan bila dilayar.

Itu adalah istilah untuk memindahkan beberapa para tahanan ke Lapas di kota lain di seluruh kota di Indonesia. Hal itu dapat dipastikan bahwa mereka akan mendapat kesulitan karena harus beradaptasi lagi di rumah tahanan mereka yang baru dan harus bertemu para tahanan lainnya. Bahkan keluarga mereka tidak akan bisa menjenguk mereka lagi. Itulah kenapa para tahanan takut berbuat onar jika mereka tidak ingin dilayar.

Setelah memastikan semua aman, aku segera melaporkan kepada kepala Lapas bahwa situasi Lembaga Pemasyarakatan sudah siaga dan semua petugas sudah pada tempatnya. Pak Bayu, sebagai Kepala Lapas tempat saya bertugas memberikan apresiasi tinggi, “ Terimakasih Pak Damar. Tolong Anda ikut saya dan siapkan pasukan bersenjata di pintu gerbang depan!” perintah beliau dengan tegas. Beliau terkenal keras dan sangat disegani semua sipir. Para tahanan juga takut karena disamping fisiknya yang tinggi besar, suaranya juga menggelegar ditambah dengan sifatnya yang tidak mengenal kata kompromi dalam memberikan hukuman bagi yang melanggar.

“Siap..!, Laksanakan!” jawabku sigap dan segera mendampingi beliau dengan beberapa petugas yang bersenjata di pintu lapis luar. Tidak semua sipir yang bertugas membawa senjata api khususnya sipir yang langsung berinteraksi dengan para tahanan. Aku amati semua berwajah tegang karena seperti sedang menanti sesuatu yang tak pasti. Aku sendiri juga menahan diri untuk tidak bertanya kepada Pak Bayu mengingat semua yang terjadi di Lapas ini adalah bersifat rahasia.

Tak berapa lama terdengar raungan sirene kendaran dari kejauhan dan suara itu semakin lama semakin menguat. Dua buah sepeda motor besar dari Patroli Jalan Raya (PJR) , sebuah sedan, dan satu truk kecil yang berisi satu regu Brimob (Brigade Mobil) muncul dan berhenti di depan Lapas. Dengan tergesa-gesa para Polisi itu menurunkan seseorang yang kepalanya berlumuran darah dan badannya penuh luka. Aku bisa menebak itu pasti karena amuk masa. Petugas jaga segera aku perintahkan untuk membuka pintu gerbang dan memberikan kesempatan pada polisi yang membawa orang yang terluka dan berdarah tadi masuk untuk diamankan.

Bersambung.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post