Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 4. Vemy, anakku)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 4. Vemy, anakku)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Ini adalah sesuatu yang aneh. Sebagai kepala seksi administrasi Lapas, aku belum pernah menemui penyerahan dokumen tahanan dengan data seperti ini. Kutoleh lagi pada orang yang ditulis sebagai Ramli itu. Telingaku tadi jelas menangkap bahwa dirinya adalah Ramiel. Sosoknya tinggi besar, kekar wajahnya simetris, hidungnya mancung, kulit sawong matang bersih dan rambutmya ikal serta matanya hitam tajam namun teduh.

Setelah menempatkan dia di ruang sel isolasi dengan ukuran ruang yang sangat kecil dengan ukuran 1 meter kali 4 meter di pojok bangsal penjara, aku segera pulang ke rumah dinas saat jam kerja shift pagi usai dan digantikan dengan mereka yang berkerja di shift siang sampai malam. Selama dalam perjalanan, pikiranku masih teringat pada orang yang ditulis sebagai Ramiel atau Ramli tadi. Besuk pagi, aku berjanji untuk berusaha hadir saat interogasi dilakukan.

Hati sanubariku mengatakan bahwa dia tidak bersalah. Pikiran seperti ini sebetulnya tidak boleh, karena seorang petugas hukum harus tetap berada di posisi tengah. Oleh karena itu, simbol timbangan di pergunakan di Kementrian Hukum dan HAM . Itu semua untuk mengayomi masyarakat seadil-adilnya tanpa pandang bulu apapun status dan derajat mereka. Mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Sungguh kebanggaan tersendiri bahwa diriku termasuk satu dijajaran punggawa pilar hukum negeri ini agar berdiri kokoh.

"Assalamualaikum..!", Begitu mengucapkan salam, kumasuki rumah dinasku dan kulihat istriku dengan tersenyum menyambut dari kamar sambil menurunkan Vemy, anakku perempuan yang sudah berusia lebih dari 1 tahun. Segera kupeluk istriku dengan mesra. Leni adalah istriku dan ibu dari Vemy, anakku. Dia adalah teman masa SMAku. Oleh karena itu kami berdua sudah saling mengenal dengan baik akan karakter dan sifat kita masing-masing.

Meskipun lulusan Akademi Sekretaris di Surabaya, Leni lebih memilih untuk tidak bekerja karena hanya ingin merawat anak kami berdua, Dokter telah memvonis cacat seumur hidup Vemy karena menjadi bisu dan tuli (Tuna wicara dan rungu) permanen setelah mengalami demam tinggi di usia 3 bulan pertama kelahiran. Aku hanya merasa sedih, namun tidak pernah menyesali takdir Allah SWT ini. Semua pasti ada hikmah di belakangnya bagi keluargaku.

Karena kesedihanku yang mendalam, aku sangat bergembira saat ditawari mutasi ke luar Jawa dan Sulawesi Tengah menjadi pilihanku setelah melakukan salat istikaroh. Itu semata agar ayah dan ibu serta mertuaku tidak merasa sedih bila melihat Vemy, cucu mereka satu-satu yang ternyata menderita cacat.

Aku dan Leni merasa bersalah pada keluargaku. Jalan yang terbaik adalah kuterima tawaran tugas di luar Jawa agar semua bisa menjaga hati. Terutama istriku yang selalu menyesali diri karena mempunyai anak cacat. Dia sangat mendukung dan gembira mengikutiku pindah tugas ke luar Jawa agar bisa jauh dari keluarganya juga yang selalu memandang iba pada keadaan keluargaku dikarenakan kondisi Vemy. Kami berdua tidak ingin dikasihani dengan kondisi seperti ini.

Aku selalu berusaha untuk membesarkan hati istriku agar selalu ikhlas menerima takdir dan bersabar. Aku yakin bahwa semua hal yang terjadi di dunia ini semuanya tidaklah kebetulan. Daun jatuh sekalipun , itu pasti karena kehendak Allah SWT.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post