Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 5, Melayar Tahanan dan Kasus Ramiel)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 5, Melayar Tahanan dan Kasus Ramiel)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Setelah salat subuh dan membantu istriku merawat Vemy, anak tunggalku dengan menyiapkan sarapan serta menyediakan air hangat untuk mandi, aku berangkat ke Lapas lebih pagi dengan mobil dinas. Melewati jalan aspal di pesisir pantai. Pohon kelapa dan cengkeh mendominasi pemandangan di kanan kiri.jalan seperti pesisir Pulau Jawa sebelah selatan. Jadi ingat kampung halamanku sebelum mutasi ke Sulawesi Tengah.

Setelah melakukan apel pagi, semua sipir Lapas shift pagi segera menempati pos sesuai dengan tupoksinya (Tugas pokok dan fungsinya). Apalagi pagi tadi ada surat perintah untuk memindahkan beberapa tahanan ke Lembaga pemasyarakatan di kota lain. Penempatannya bisa di kota dalam satu propinsi atau propinsi lainnya dengan status kelas Lapas yang sama, yaitu Lapas Kelas IIA.

Mereka yang dilayar (dipindah Lapas) karena beberapa kasus yang menjeratnya setelah menjalani masa tahanannya selama beberapa waktu di Lapas yang ditentukan. Biasanya, mereka yang sering berbuat onar, membangkang kepada sipir penjara, berkelahi atau juga bila ada tahanan yang merasa terancam karena sering dipalak oleh tahanan lainnya. Terkadang tahanan dengan kasus narkoba sering berulah dengan mencoba untuk menyuap petugas Lapas. Pak Bayu tidak akan segan untuk menghukum berat apabila ada sipir penjara yang diketahui bermain mata dengan narapidana dari jenis mereka ini.

Setelah dokumen proses pemidahan para napi yang dilayar selesai, mereka semua dibawa dengan mobil tahanan khusus dengan pengawalan ketat dari anggota Brimob selama perjalanan. “Pak Damar, segera keluarkan tahanan titipan atas nama Ramiel di sel isolasi dan bawa ke ruang pemeriksaan. Hari ini ada 2 orang penyidik dari Polres yang akan menginterogasi untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan” perintah Pak Bayu, Kepala Lapas tempat aku berdinas.

Tanpa menunggu lama, semua perintah atasan segera aku laksanakan dengan cermat. Selama menunggu di ruang pemeriksaan, aku menemani Ramiel sambil menyiapkan berkas yang kemarin aku terima. Satu petugas bersenjata dari Lapas berjaga di pintu luar ruangan. Sambil menunggu menyidik yang dijadwalkan datang pukul 10.00 Waktu Indonesia Tengah, kuamati lagi Ramiel atau Ramli menurut formulir yang aku pegang. Dia memandangku dengan sinarnya yang teduh dan tersenyum meskipun kedua tangannya masih digari (diborgol).

Sebetulnya, aku bisa saja memerintahkan petugas untuk membukanya, namun karena protokol keamanan, hal itu aku urungkan. “Assalamualaikum, Pak Damar” sapa Ramli dengan ramah. Aku jawab sapanya dengan pelan dengan ekspresi wajah tanpa senyum. “Bapak sudah sehat dan lukanya sudah sembuh?” tanyaku untuk memecahkan keheningan dan berbasa-basi saja.

“Alhamdulillah, berkat izin Allah SWT, saya sudah sembuh dan luka juga sudah mengering” jawabnya dengan suara yang merdu meskipun dia seorang laki-laki. “Alhamdulillah, syukurlah jika begitu”. Aku juga merasa senang ternyata pak Ramiel alias Ramli sehat saja. Jadi pemerikasaan dari penyidik Polres nantinya tidak perlu didampingi petugas medis Lapas.

Saat aku meneliti berkas tentang Pak Ramli, tiba-tiba dia bertanya sopan,”Bagaimana kabar Ibu Leni dan Vemy, anak perempuan bapak?, Semoga selalu iklhas menerima ujian dan takdir Allah SWT . Juga, Pak Damar selalu sabar dan jangan kehilangan iman sedetikpun”. Sungguh pertanyaan yang sangat mengejutkan di telingaku. Kukernyitkan dahiku sambil memandang beliau dan berpikir untuk mengingat-ingat apakah aku pernah bertemu dengan Pak Ramli sebelumnya? Bagaimana dia bisa tahu namaku, juga kondisi anak dan istriku?

Belum juga muncul pertanyaan dan jawaban atas rasa penasaranku, pintu ruangan dibuka dan masuklah dua penyidik dari Polres. “Selamat Pagi, Pak Damar. Kenalkan saya Inspektur Satu Polisi, Galang Hanggara Putra, dan rekan saya, Inspektur Dua Polisi Nova Aji Rizky. Kami berdua penyidik dari Polres. Mohon izin untuk memeriksa tersangka Ramiel. Kami tadi sudah diterima oleh Kepala Lapas, Pak Bayu serta mohon izin pinjam ruangan di Lapas ini demi keamanan si tersangka dari amuk masa” sapa dua penyidik itu dengan nada tegas ciri khas Polisi.

Mereka berdua mengizinkanku untuk mengikuti jalannya pemeriksaan. Memang benar, setiap ada pertanyaan yang berhubungan data pribadi Ramiel, selalu dijawab “Tidak ada” atau “Tidak tahu” oleh Ramiel. Nama ditulis Ramli alias Ramiel. Data lainnya kosong termasuk alamat dan lain-lain. Sama sekali tidak diketemukan adanya kartu identitas pada dirinya.

Ternyata, tersangka Ramli ini didakwa dengan pasal pembunuhan berencana pada dua anak kecil di pinggir hutan. Saat ditangkap Polisi dan masyarakat, di tangannya ada sebilah pisau yang berlumuran darah. Sedangkan posisi tersangka ada disebelah kedua korban. Amuk masa hampir saja merenggut nyawa Ramli. Hali itu berkat kesigapan anggota Polisi dalam meredam kemarahan masyarakat untuk tidak main hakim sendiri.

Saat pemeriksaan usai, aku mengembalikan Ramli ke sel isolasinya kembali. Sebetulnya aku masih penasaran darimana dia tahu keluargaku, namun kubatalkan karena ada butiran air mata menetes di pipinya. Sesekali terdengar dia bergumam, “Aku yang salah, Ampuni aku Ya Allah. Izinkan aku untuk menebus kesalahanku, Ya Robb”.

Kutemui kembali Iptu Pol. Galang Hanggara dan Ipda Pol. Nova Aji di ruangan pemerikasaan. Mereka berdua sedang berdiskusi dan merasa heran. Kenapa sidik jari pak Ramli tidak terdata di komputer Polisi atau di data kependudukan pemerintah. Saat foto wajahnya ditampilkan dan di crosscheck di data server E-KTP, juga tidak diketemukan data pribadinya. Hal itu membuat kedua penyidik itu kebingungan dalam membuat berkas pengajuan lengkap ke Pengadilan.

Maaf pak, kira-kira pasal apa di KUHP yang didakwakan pada Ramli alias Ramiel?” tanyaku sopan. “Wahh, berat, Pak Damar, terdakwa diduga melanggar dan dijerat pasal 340 KUHP untuk kasus pembunuhan sadis dan berencana dengan ancaman pidana hukuman mati atau seumur hidup”. jawab Ipda Pol. Nova tanpa melihat diriku sambil melipat laptop dan menyimpan dokumen di tas hitamnya.

Seketika wajahku pucat dan hatiku bergetar sedih. Sungguh rsanya tidak mungkin Pak Ramli dengan wajah seperti itu bisa membunuh dua anak kecil dengan sadis. Aku sangat meyakini akan hal itu, namun berdasarkan mata hukum atas dasar bukti dan saksi, hal itu akan menjadi bisa berbeda.

Bersambung.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post