MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 6, Kerusuhan di Sel Pak Ramli )
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 6, Kerusuhan di Sel Pak Ramli )
Oleh : E.A.Wahyudiono
Beberapa minggu telah berlalu dan pemeriksaan pada tersangka Ramli terus dilakukan. Setiap datang untuk melakukan interogasi, Iptu Pol. Galang Hanggara Putra dan Ipda Nova Aji Rizky selalu menunjukkan surat tugas kepada kami bahwa semua yang dilakukan sudah memenuhi prosedur pembuatan Berita Acara Acara (BAP).
Menurut keterangan darii beberapa saksi yang didatangkan yang dipanggil di Polres guna melengkapi berkas pemeriksaan, Ipda Pol. Nova menceritakan bahwa memang mereka melihat Pak Ramli sedang memegang pisau dari dua anak kecil dengan jenis kelamin perempuan yang juga berasal dari desa Tempat Kejadian Perkara (TKP). Namun, para saksi mengatakan bahwa mereka tidak melihat secara langsung kejadiannya. Banyak kejanggalan dalam tuduhan kasus Pak Ramli ini, tetapi bukti berbicara lain.
Dari jalannya rekonstruksi peristiwa, beberapa saksi terlihat dalam peragaan bahwa mereka segera memegangi dan menahan Pak Ramli agar menjauh dari korban. Justru mereka melihat Pak Ramli menangis tersedu dan selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menolong kedua anak perempuan yang menjadi korban pembunuhan itu. Juga dari hasil Visum forensik Kepolisian, tidak diketemukan tanda-tanda pelecehan seksual dan kekerasaan pada jasad korban. Hanya beberapa perhiasan seperti kalung, gelang, cincin dan anting emas milik korban lenyap.
Saat kejadian, masyarakat desa meledak amarahnya dan memukuli dan menendang Pak Ramli. Akibatnya, saat diserahkan oleh pihak Polisi ke Lapas dengan status tahanan titipan Polsek, tubuh Pak Ramli dan kepalanya penuh luka. Aku memgamati semua itu dengan teliti. Justru yang aku herankan adalah semua bekas luka yang deritanya cepat sekali sembuh bahkan tidak meninggalkan bekas di kulitnya. Aku merasakan keanehan itu, namun segera kutepis dari pikiranku.
Setelah beberapa hari berlalu, Iptu Pol. Galang Hanggara memberitahukanku sebagai rekan dalam bekerja bahwa semua berkas sudah lengkap. Baik alamat, tanggal lahir dan semuanya. Hal itu diperoleh dari keterangan warga desa yang selalu melihat PakRamli sendirian tinggal di gubuk reyot di pinggir perkebunan kelapa yang banyak tumbuh di pesisir Sulawesi Tengah. Seiap ditanya warga desa, dia menyebut namanya Ramiel, namun masyarakat malah memanggilnya dengan nama Ramli karena terdengar lebih umum di masyarakat desa itu. Meskipun mereka sendiri sebenarnya tidak tahu asal-usulnya mulai kapan tinggal di pinggiran desa itu.
Berkas sudah dinyatakan lengkap atau P-21 dari Pihak Penyidik dan selanjutnya dibuatkan pelimpahan tersangka Ramli dengan dilengkapi barang bukti ke Kejaksaan untuk menjalani persidangan. Sambil menunggu panggilan sidang, Ramli dikeluarkan dari sel isolasi di Lapas dan dimasukkan dalam sel di bangsal A untuk kategori kasus kejahatan pembunuhan, kejahatan perampokan dengan kekerasan dan penganiayaan berat. Aku juga masih penasaran bagaimana Pak Ramli bisa mengenaliku dan keluarga. Itu masih menjadikan pemikiran untuk aku tanyakan padanya. Aku hanya bersabar sambil menunggu waktu yang tepat saja.
Sebetulnya aku sendiri tidak tega, namun karena sudah aturan Lapas, maka semua harus dilaksanakan. Di sel bangsal A, para napi dijadikan satu sel. Mereka kerap berulah. Ada satu napi yang baru dilayar dari Lapas lain ke Lapas tempatku berdinas. Namanya Lasipar. Terlibat kasus pembunuhan, perampokan dengan kekerasan. Lasipar ini sudah berkali-kali keluar masuk tahanan dengan kasus yang sama. Begitu keluar, dia akan segera mengulangi lagi kejahatannya.
Baru satu minggu di sel bangsal A, Lasipar sudah menjadi yang paling ditakuti oleh semua tahanan. Apalagi beberapa napi dan pernah menjadi anak buahnya mengikutinya serta membuat kelompok di sel bangsal A. Banyak napi lain yang sering dipalak atau dipukul bila kemauannya tidak dituruti. Gayanya juga seperti Raja yang harus selalu dilayani. Sungguh aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi bila Ramli dijadikan satu sel dengan beberapa napi di bangsal A.
Belum juga dua minggu berada di dalam sel yang sama, Lasipar membuat keributan karena Ramli yang pendiam, ramah dan wajahnya teduh berubah menjadi mengeras dagunya, matanya menjadi tajam membakar setiap bertatapan mata dengan Lasipar. Sore saat jam dinasku usai, beberapa penjaga melaporkan bahwa terjadi penganiayaan pada Ramli yang dilakukan oleh para napi anak buah Lasipar, penghuni sel bangsal A.
Dengan cepat, aku dan Pak Bayu segera menuju ke ruang sel tempat Pak Ramli ditempatkan. Terlihat bahwa, ada sepuluh napi melalukan pemukulan dan pengeroyokan pada Pak Ramli. Petugas bersenjata segera membuka sel tahanan. Aku dan Pak Bayu segera melerai. Lasipar ikut berdiri dan mencegah kami untuk menghentikan penganiayaan itu. “Demi keselamatan bapak, tolong jangan ikut campur urusan kami semua!’ hardik Lasipar pada Pak Bayu.
Seketika Pak Bayu menjadi marah dan memegang dada Lasipar,”Apa kamu bilang tadi? Kamu jangan jadi jagoan di sini ya!!. Kamu tahu, saya Kepala Lapas di sini!!” bentak Pak Bayu dengan suara menggelegar. Akhirnya, aku dan Pak Bayu segera membopong Pak Ramli ke sel isolasi kembali yang jauh dari bangsal sel para napi lainnya.
Saat meletakkan Pak Ramli ke tempat tidur yang terbuat dari semen dingin di sel isolasi, kulihat bajuku dan seragam dinas Pak Bayu penuh dengan ceceran darah. Tadinya kami berdua mengira bahwa itu adalah darah luka Pak Ramli. Tiba-tiba Pak Bayu merintih, “Pak Damar, perutku tertusuk pisau”. Sambil mengerang kesakitan di sebelah Pak Ramli. Setelah Pak Bayu mencabut pisau itu, maka muncratlah darah segar dari perut Pak Bayu.
Aku lihat, pisau itu ternyata terbuat dari ganggang sedok logam yang diasah menjadi sebilah senjata tajam. Aku tidak tahu dan menyadari, siapa yang menusuk Pak Bayu dan kapan hal itu terjadi. Perasaan panik segera menderaku. Aku berdiri dan berniat memanggil petugas medis di Lapas untuk menolong Pak Bayu, tiba-tiba tangan Pak Ramli yang kokoh mencengkramku dan menahan langkahku.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan