MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 7, Keajaiban di Lapas )
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 7, Keajaiban di Lapas )
Oleh : E.A.Wahyudiono
“Pak Damar, mohon jangan mencari petugas medis karena Pak Bayu mengalami pendarahan hebat dan tidak mungkin tertolong. Semua akan terlambat bila dibawa ke rumah sakit. Tolong Bapak keluar dan menjaga pintu sel isolasi ini. Jangan ada yang boleh mendekat. Tak terkecuali siapapun orangnya. Saya akan berusaha menolong pak Bayu. Semua ini adalah kesalahanku di masa lalu” kata Pak Ramli sambil melepaskan cengkremannya di pergelangan tanganku.
Sesaat, aku mau marah pada Pak Ramli mendengar kalimatnya, namun aku urungkan saat melihat wajahnya yang bercahaya dengan mata yang teduh penuh air mata menetes. Tanpa berkomentar, aku serasa dihipnotis dan langsung keluar menjaga pintu sel isolasi tempat Pak Bayu berbaring dengan kondisi mengenaskan. Matanya terpejam dan nafasnya tersengal berat. Aku merasa tidak tega melihatnya.
Pikiranku berkecamuk antara perasaan bersalah dan menuruti perintah Pak Ramli. “Bodohnya aku, kenapa aku percaya pak Ramli? Jika terjadi apa-apa pada Pak Bayu, itu artinya aku yang salah karena tidak membawa beliau ke ruang medis atau memanggil petugas medis Lapas” Muncul keraguan dalam diriku. Aku menoleh ke dalam ruang sel isolasi untuk melihat kondisi Pak Bayu sekali lagi untuk memastikan.
Betapa terkejutnya diriku mengetahui, tubuh kekar Pak Ramli yang aku kenal tidak bisa aku lihat dengan mataku karena berubah menjadi sosok cahaya dan tangannya berada di atas perut Pak Bayu. Hatiku bergetar dan rasanya masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku takut terjadi terjadi sesuatu pada Pak Bayu. Belum tuntas aku mengamati apa yang terjadi di dalam sel isolasi, dari jauh terdengar derap lari dari sepatu beberapa petugas bersenjata yang akan menuju sel isolasi untuk membantu kami berdua.
Mendadak aku ingat akan pesan Pak Ramli, bahwa tidak boleh siapapun datang di ruang sel isolasi. Tanpa berpikir panjang, aku menemui para petugas yang berdatangan untuk mencegah mereka mendekati sel isolasi. Aku minta mereka semua berhenti. “Lapor pak, semua napi yang membuat keributan di sel bangsal A sudah kami amankan!. Mohon arahan selanjutnya!” kata salah satu sipir selaku komandan regu jaga. “Terimakasih laporannya dan segera amankan mereka semua!. Jaga dengan ketat!, Saya akan segera menyusul dengan pak Bayu! Saat ini, kondisi Pak Ramli aman dan sehat, dan Pak Bayu masih mengamankan Pak Ramli” arahku singkat pada para petugas itu.
“Siap!, Laksanakan!” jawabnya tegas. Semua sipir nergegas kembali ke pos mereka masing-masing. Aku merasa menyesal telah berbohong pada mereka bahwa kondisi Pak Bayu juga sehat dan tidak terjadi apa pada beliau. Bergegas aku kembali ke sel isolasi dan berjaga di pintu luar. “Pak Damar, silakan masuk, pak” aku menoleh dan melihat Pak Bayu berdiri dengan tegap dan terlihat segar bugar.
“Apa yang terjadi Pak? Bapak sudah sehat? Luka bapak gimana?” tanpa menunggu jawaban dari beliau, aku dengan tidak sopan membuka baju seragam dinasnya dan aku melihat sendiri serta memeriksa perut beliau. Sungguh mencengangkan dan rasanya mustahil terjadi. Beberapa menit yang lalu, dengan jelas kulihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa perut Pak Bayu terluka karena pisau yang terbuat dari ganggang sendok logam. Saat ini sudah tidak ada bekasnya sama sekali.
“Allahu Akbar!” takbirku berkali-kali melihat keajaiban ini. Aku menoleh pada Pak Ramli yang juga berdiri di samping kami berdua. “Pak Ramli ini siapa? Kenapa berubah menjadi sosok bercahaya? Kenapa bapak bisa menyembuhkan luka Pak Bayu?” pertanyaanku begitu banyak yang keluar dari mulutku karena merasa takjub dan bergidik.
“Pak Damar,…nanti akan saya jelaskan bila waktunya tiba. Untuk sementara biarkan Pak Ramli beristirahat” sahut Pak Bayu dengan tersesenyum dan suaranya yang berkharisma. Kulihat Pak Ramli menganggukkan kepalanya dengan ramah. Saat keluar dari sel isolasi dengan Pak Bayu, kuamati lagi kondisi Pak Ramli. Lagi-lagi masih banyak pertanyaan muncul di kepalaku. Kondisi fisik Pak Ramli terlihat sehat dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penganiayaan. Beliau yang tadinya dipukuli dan ditendang oleh lebih dari 7 orang napi di sel bangsal A tapi kenapa fisiknya tidak ada bekas memarnya?
Rasanya pikiran, hatiku dan logikaku tidak bisa menerima semua kejadian itu. “Apakah ini yang disebut keajaiban? Atau kah Pak Ramli itu adalah orang sakti?” Rasanya aku ingin tahu lebih banyak. “Pak Damar, kita kembali ke kantor untuk mengambil tindakan atas peristiwa ini. Jangan sekali-kali bercerita pada siapapun tentang hal yang bapak lihat di sel isolasi tadi. Itu semua adalah pesan dari Pak Ramli” kata Pak Bayu sambil membersihkan bajunya yang robek di bagian perut dengan noda darah yang mulai mengering.
“Bagaimana dengan Lasipar, pak?” tanyaku ingin tahu tindakan selanjutnya. “Pak Ramli sudah bercerita kepadaku siapa sebenarnya sosok napi Lasipar itu? Dan itu di luar kemampuan kita berdua untuk mengatasinya. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menempatkan Lasipar di sel isolasi sebelah timur selama beberapa minggu. Biarkan dia terisolasi sendirian di sana” jelas Pak Bayu. Aku menjawab siap melaksanakan perintah beliau meskipun masih merasa heran dan penuh tanda tanya dengan perintahnya yang kali ini diluar prosedur.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan