Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 8, Suara Azan Pak Ramli)

MALAIKAT YANG TERBUANG  (PART  8,  Suara Azan Pak Ramli)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Setelah menempatkan Lasipar di sel isolasi sebelah timur Lapas sebagai bentuk hukuman disiplin bagi para napi yang mencoba membuat kerusuhan, aku pisahkan beberapa anak buahnya  juga ke beberapa sel yang berbeda di bangsal A. Itu semua untuk memutus mata rantai pengaruh buruk Lasipar kepada para napi lainnya. Bisa dipastikan, Lasipar akan mendekam di sel isolasi selama dua pekan dan tidak boleh bersosialisasi sama sekali dengan seluruh napi di Lapas.

Beberapa hari, pikiranku masih dipenuhi tanda tanya besar akan sosok Pak Ramli. Hidangan kopi dan pisang goreng di meja teras rumah suguhan dari Leni istriku belum aku sentuh sama sekali. Aku masih mencoba mengingat-ingat kasus Pak Ramli dari awal. Jika dia mampu menyembuhkan luka tusuk pisau Pak Bayu akibat melerai perkelahian yang dipimpin Lasipar itu artinya dia tidak mungkin membunuh dua gadis kecil seperti yang didakwakan padanya.Jadi kenapa dia dituduh seperti itu?

Aku hanya menduga-duga saja. Hai itu sama juga dengan masyarakat desa yang menuduh Pak Ramli membunuh dua anak kecil itu. Semua menggunakan Azas Praduga tak bersalah termasuk aku sendiri. Hanya bedanya, karena aku seorang sipir PNS di  Lapas, tidak diperkenankan sama sekali untuk memberikan keterangan dalam bentuk lisan atau tulisan apapun yang berkaitan dengan proses persidangan atau penegakan hukum.

Hanya yang mengherankan, kenapa PakRamli selalu mengatakan bahwa dirinya yang bersalah saat pemeriksaan dihadapan para penyidik dari Polres, meskipun ditutup dengan kalimat bahwa dia hanya ingin membantu dua anak kecil yang menjadi korban itu. Jika Pak Ramli yang menurutku tidak mungkin membunuhnya, artinya pelaku yang sebenarnya masih berkeliaran di luar penjara. Apalagi saat mengetahui Pak Ramli dijerat dengan pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup membuatku bergidik.

Jika tidak ada saksi yang meringankan dan semua barang bukti memberatkan kasus Pak Ramli, maka dapat dipastikan vonis tidak akan ditunda dalam persidangan minggu depan. Sungguh sayang sekali jika sosok seperti Pak Ramli yang mempunyai kemampuan lebih untuk menyembuhkan luka dan penyakit seseorang tidak dipergunakan untuk mengobati pada orang sakit yang membutuhkan.

“Mas, dari tadi kok melamun terus?” tegur Leni, istriku sambil menemani duduk di teras rumah dinas yang asri. Malam hari suasana di kota di Sulawesi Selatan tempataku bertugas terasa damai. Kehidupan di sini sangat harmonis dan juga gotong royongan serta silaturahmi masyarakatnya masih terjaga. Tak heran bila masyarakat sangat marah pada Pak Ramli karena angka kejahatan sangat kecil terjadi di kota ini. Para napi yang berada di lembaga pemasyarakatan di kota ini justru dipenuhi oleh banyak napi yang dilayar dari Lapas dari kota lain dari seluruh pelusok tanah air.

"Maaf, dik, rasanya pikiranku penuh sekali beberapa hari ini. Maaf ya..!” sahutku sambil menghela nafas seolah-oleh dengan berbuat begitu akan bisa meringankan pikiranku. Aku tidak pernah bercerita apapun tentang kejadian di Lapas baik saat masih berdinas di Jawa atau di Sulawesi ini. Apalagi bila cerita itu berkaitan dengan kasus para napi di Lapas. Aku tidak mau pikiran istriku terbebani dengan urusan itu. Apalagi anak semata wayangku, Vemy yang menderita cacat , tuna wicara dan tuna rungu, masih membutuhkan perhatian kami berdua.

“Iya, Mas, aku juga memahami beratnya pekerjaan di Lapas, tapi jangan mengabaikan Vemy. Aku merasakan beberapa hari ini. Mas  jarang sekali bermain dengan Vemy. Maafkan aku ya Mas,..aku merasa bersalah, tidak bisa memberikanmu anak yang sempurna”  kata Leni dengan nada bergetar menahan sedih.

Rasanya hatiku terasa teriris sembilu. “Jangan begitu, dik,..semua bukan salahmu. Ini ujian bagi kita berdua. Kita harus iklhas dan sabar menjalani semuanya ini. Justru aku yang minta maaf karena seharusnya tidak membawa urusan kantor mengganggu keharmonisan keluarga kita” jawabku lembut sambil memegang tangannya yang putih halus. “Okay, minggu depan kita piknik bersama ke pantai dengan Vemy ya”  hiburku sambil melihat wajah istriku yang cantik. Wajahnya menjadi berseri dan terlihat gembira. Aku tahu karena ada senyuman manis di bibirnya. Segera aku lahap pisang goreng di meja tadi dan kunikmati segelas kopi yang mulai terasa dingin untuk menyenangkan hatinya juga.

Seperti hari Jumat sebelumnya, setelah kasus perkelahian di Lapas bisa teratasi, kegiatan salat Jumat berjamaah di masjid di dalam Lapas  kami adakan lagi bagi para napi dan sipir yang beragama Islam. Kali ini, sesuai jadual, aku bertindak sebagai Katib. Sedangkan muazinnya diberikan pada napi yang ditunjuk. Namun karena kali napi tersebut sedang sakit, Pak Ramli yang sudah dipindahkan ke sel bangsal B berkumpul dengan para tahanan politik, maju ke mimbar kemudian mengambil pelantang masjid.

Terdengarlah alunan azan dari suaranya yang merdu. Seumur hidupku, baru kali ini aku mendengar azan seperti itu. Suara yang sangat indah untuk memanggil seluruh jamaah agar segera berduyun ke masjid untuk menunaikan salat wajib. Suara azan beliau membuat hati para jamaah di situ bergetar. Kulihat beberapa jamaah banyak yang memejamkan mata dan juga meneteskan air mata. Masyaallah !

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post