Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 9, Pertemuan Ramiel dan Lasipar)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 9, Pertemuan Ramiel dan Lasipar)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Setelah beberapa hari berlalu, telingaku rasanya masih ingat suara azan dari Pak Ramli yang begitu merdu menembus relung hati dan qalbu. Begitu banyak jamaah salat Jumat yang berdatangan dibanding Jumat sebelum dan sebelumnya lagi. Semuanya menyimak dan tafakur sampai dengan azan yang kedua sebelum diriku selaku katib naik ke mimbar.

Materi kotbah Jumat yang aku sampaikan adalah mengajak semua jamaah yang terdiri semua napi yang telah melakukan kejahatan yang berbeda-beda di muka bumi ini. Apapun dosa mereka, jika bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah SWT akan mengampuni dan menerima mereka semua sebagai hambanya, Namun seringkali manusia selalu khianat. Setiap ada kesusahan, penderitaan dan perbuatan jahat, mereka selalu memohon ampun, namun saat berada di dalam kesenangan dan kekayaan, pastilah akan kembali ingkar kepada-NYA. Itulah sifat manusia yang dibenci Allah.

Pagi ini, sebelum sidang pendahuluan kasus pembunuhan yang didakwakan pada Pak Ramli di pengadilan, aku datang untuk menjemputnya di sel bangsal B tempat para napi dari kasus politik. Untuk menuju bangsal B, aku harus berjalan melewati bangsal D dan C tempat para napi dari kasus kejahatan ringan seperti pencurian, pencopetan, penodongan, perampokan dan lainnya. Jenis kejahatan yang diklasifikasikan penjahat kelas teri oleh masyarakat.

Mereka rata-rata adalah residivis, yaitu penjahat kambuhan yang sering kali keluar masuk Lapas dengan vonis hukuman dalam hitungan bulan saja. Aku amati kegiatan para napi di situ. Ada satu hal yang menarik perhatianku. Napi satu sama lain saling mentato anggota tubuh mereka di dalam sel dengan menggunakan alat seadanya.

Apakah alat yang dipakai itu steril atau tidak masih menjadikan pertanyaan bagiku. Sedangkan tintanya diambilkan dari getah pohon yang ada di dalam Lapas. Mereka melakukan kegiatan itu hanya bersifat solidaritas saja dan mengisi waktu selama di penjara. Aku yakin, rata-rata napi yang baru masuk tidak berani menolak atau membantah ajakan napi senior untuk ditato pada bagian tubuhnya.

Setelah berada di depan pintu sel Pak Ramli, beliau terlihat sedang bersila. Wajahnya menengadah ke langit-langit sel serta kedua telapak tangannya terbuka di depan dadanya seperti oarng yang sedang berdoa. Air matanya terlihat menetes. “Ampuni aku Ya Allah!. Terimalah tobatku Ya Allah!” Kalimat dalam doanya yang lirih namun masih bisa aku dengar jelas. Sedangkan para tahanan lain di dalam sel itu hanya duduk diam dan mengamati perilaku Pak Ramli. Mereka tidak berani mengganggunya karena tahu kasus Pak Ramli.

“Assalamualikum, Pak Ramli!” kuucapkan salam pada beliau dan aku meminta maaf telah mengganggu doanya. Aku beritahukan bahwa Pak Ramli sesuai jadwal hari ini akan diantarkan menuju pengadilan untuk sidang pendahuluan dan tidak akan memakan waktu lama. Beliau meminta izin untuk berganti pakaian. Baju putih dan celana hitam serta kopiah yang dikenakannya membuatnya terlihat bersih dan berwibawa.

“Pak Damar, mohon maaf, bisakah saya minta bantuan sebelum diantar ke pengadilan?” pinta Pak Ramli. “Silakan ,pak !, jika saya bisa membantu” kujawab dengan sopan sambil mengamati Pak Ramli, sosok yang sangat misterius di mataku. “Mohon ,antarkan saya ke depan sel isolasi Lasipar ditahan. Ada yang mau saya sampaikan kepadanya” Kali ini hatiku berdegup luar biasa. Ada apa Pak Ramli minta bertemu dengan Lasipar meskipun hanya di depan pintu sel isolasinya yang terkunci.

Walaupun melanggar prosedur Lapas, aku turuti permintaan Pak Ramli karena rasa penasaranku yang sudah menggumpal didalam hatiku. Lasipar dimasukkan sel isolasi karena memukuli Pak Ramli, tapi malah sekarang dia mau menemuinya. Aneh sekali. . “Baiklah, tapi sebentar saja ya Pak!” jawabku dengan tegas. Tak berapa lama, sampai juga kami berdua di depan pintu sel Lasipar. Pak Ramli memberikan salam pada Lasipar, namun tidak dijawab olehnya. Mereka berdua saling bertatapan dan wajah Lasipar berubah menjadi mengeras. Dagunya naik dan matanya melotot pada Pak Ramli yang wajahnya tenang dengan senyuman di bibirnya.

“Ramiel!, berani benar kamu menyapaku. Kamu pengkhianat..! Sampai kapanpun aku akan membecimu. Bumi dan langit menjadi saksiku..!” teriak Lasipar pada pak Ramli dengan suara menahan marah dan dendam. Tangannya mencengkeram kuat besi sel menahan marah. Aku yang mendengar kalimat Lasipar sontak menjadi kaget. Kenapa mereka berdua bisa mengenal satu sama lain. Ada kasus apa sebelumnya sampai Pak Ramli yang dipanggil Ramiel oleh Lasipar disebut sebagai seorang pengkhianat?

“Ramiel, kamu akan menyesal telah menolong mereka para manusia yang tidak tahu balas budi. Mereka semua culas dan akan membuatmu sengsara dimuka bumi ini. Kebaikanmu akan dibalas dengan kejahatan oleh mereka semua!, Camkan kata-kataku!" kata Lasipar lagi pada Ramli. Aku semakin bingung dengan kata-kata Lasipar. Sebenarnya ini ada apa?. Aku segera menggandeng lengan Pak Ramli untuk menjauh dari sel Lasipar dan segera berangkat ke pengadilan agar tidak terlambat.

Sambil berjalan pelan, Pak Ramli menoleh pada Lasipar,”Saudaraku!, bertobatlah kepada Allah. Mohonlah ampun pada-NYA.!” Belum juga selesai Pak Ramli menasihati Lasipar, dia sudah memotongnya, “Aku tidak akan pernah minta ampun, tunduk, dan bertobat. DIA telah membuatku menderita seperti ini. Biarkan aku dan jangan pernah mencampuri urusanku lagi..! Pergi sana dan tolonglah manusia yang kamu katakan baik dan sempurna itu..!” teriak Lasipar dari dalam selnya.

“Astaghfirullah..!” guman Pak Ramli dengan wajah sedih. Aku lihat airmatanya menetes lagi saat keluar dari sel isolasi sebelah timur tempat Lasipar ditempatkan. Pada waktu berjalan menuju mobil tahanan, Pak Bayu melihatku dari kejauhan. Sepertinya beliau tahu aku keluar dari sel isolasi dengan Pak Ramli. Namun beliau hanya diam dan tersenyum padaku. Tidak ada sama sekali raut kemarahan terlihat pada wajahnya, bahkan anehnya beliau menganggukkan kepala padaku sambil tersenyum.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post