MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 11, Pak Ramli Penyebab Cacat Vemy, Anakku)
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 11, Pak Ramli Penyebab Cacat Vemy, Anakku)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Seperti prediksiku sebelumnya, sidang pendahuluan kasus pembunuhan 2 gadis kecil di desa yang menjerat Pak Ramli sebagai tersangka utama hanya berjalan tidak lebih dari setengah jam. Juga mengingat suasana gedung pengadilan yang kurang kondusif dan dipenuhi oleh banyak warga desa yang hadir untuk mengikuti jalannya sidang membuat Hakim Rachmat Basuki melanjutkan proses sidang Minggu depan yang akan menghadirkan beberapa saksi mata dan barang buktinya.
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kerusuhan dari warga masyarakatyang tidak puas dengan jalannya sidang. Kadang-kadang dalam suatu sidang pembunuhan seperti ini, hakim menyatakan menunda sidang untuk jadwal berikutnya dan warga yang hadir tentu saja menjadi kecewa. Hal itu disengaja dengan harapan masyarakat yang hadir dan mengikut jalannya sidang akan merasa bosan dan tidak mau datang lagi di sidang berikutnya sehingga proses sidang bisa berjalan lancar.
Beberapa hari setelah sidang pertamanya, Pak Ramli menjalani kehidupan di Lapas seperti para napi lainnya. Tidak ada perlakuan istimewa yang diberikan kepadanya. Kegiatan keagamaan dan lainnya diikutinya dengan iklhas tanpa banyak bicara. Dia hanya selalu tersenyum, namun bila duduk sendirian, kuamati posisinya selalu menengadah ke langit dan berdoa serta meneteskan airmata. Rasa penasaran dalam diriku semakin lama semakin tidak bisa kutahankan. “Aku harus berani menanyakan langsung padanya” kataku memberanikan diri.
Kesempatan yang aku inginkan, akhirnya datang juga. Selepas salat ashar bagi sipir dan para napi dari sel bangsal B dan C, mereka semua berkesempatan untuk berolahraga di halaman tengah Lapas di sebelah ruang kunjungan keluarga para napi sehari-harinya. Saat ini ruang itu tengah di renovasi dan diperluas. Seperti umumnya di Lapas, jadwal kunjungan keluarga bagi para napi hanya dilayani pada hari-hari yang ditentukan. Layanan dibuka pukul 09.00 sampai dengan 12.00. Setiap keluarga yang berkunjung akan diperiksa dan diawasi. Setiap tamu yang datang hanya diberikan waktu 15 menit untuk kunjungan.
“Assalamualikum,Pak Ramli” salamku pada dia yang sedang duduk di bangku taman yang terbuat dari semen cor tipikal semua meja dan kursi di semua Lapas di negeri ini. “Waalaikumsalam, Pak Damar!, Bagaimana kabar keluarga? Sehat semua?” jawabnya ramah dan sambil tersenyum. “Alhamdulillah, semua sehat. Itu semua juga berkat doa Pak Ramli” sahutku sambil ikut duduk di depannya dan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya tentang rasa penasaranku.
“Mohon maaf, bolehkah saya bertanya sesuatu pada Pak Ramli, dan mohon maaf jika pertanyaan saya kurang sopan. Sebetulnya saya sudah lama ingin menanyakan hal ini pada bapak” ucapku lirih dengan nada yang tidak aku tekan agar dia tidak merasa tersinggung. Untuk sesaat Pak Ramli memandangku dengan matanya yang teduh sambil tersenyum. Kemudian beliau menjawab dengan tenang,”Pak Damar, saya tahu.., pertanyaan bapak pasti berkaitan rasa ingin tahu bapak kenapa saya mengenal Leni, istri bapak dan Vemy, anak bapak yang cacat, betul kan?”
“Masyaallah, bagaimana bapak bisa tahu apa yang akan aku tanyakan?” nada kalimatku menjadi tinggi karena terkejut. Keningku berkerut untuk mencari hubungan apakah aku mengenal dia sebelumnya? atau kah aku pernah bertemu dia? Jika iya, tapi di mana? Belum juga terjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku itu, tiba-tiba Wajah Pak Ramli berubah sedih dan menatapku sambil memegang kedua tanganku, “Saya mohon maaf pada Pak Damar sebelumnya. Kita berdua tidak pernah bertemu sekalipun namun saya selalu di dekat bapak dan saya juga mengenal baik tentang Pak Damar dan ibu Leni”. Suaranya menjadi tergetar dengan mata berkaca-kaca.
“Maukah bapak memaafkan saya?” pintanya dengan nada memelas. “Maaf, kenapa bapak meminta maaf pada saya? Bapak tidak bersalah pada saya dan keluarga. Jadi tidak perlu meminta maaf” jawabku dan berusaha menghiburnya. “Sejujurnya, saya lah yang menyebabkan Vemy lahir cacat sehingga dia tidak bisa bicara dan mendengar”. Mendengar jawaban Pak Ramli seketika kulepas jemari tanganku dari genggaman Pak Ramli dan merasakan hal yang aneh. Kupandangi wajah beliau lebih dalam untuk mencari jawaban kenapa dia merasa bersalah atas kelahiran Vemy, anakku yang cacat itu. "Siapa sebenarnya Pak Ramli ini?" pikiranku menjadi buntu untuk mencari jawabannya.
Belum hilang rasa keterkejutanku dengan jawaban Pak Ramli, tanpa kusadari dua orang anak buah Lasipar mendekat di tempatku dan Pak Ramli duduk. Aku menyadari adanya bahaya yang datang, secara reflek aku berdiri dan memandangi pada kedua orang napi yang badannya penuh tato dan berdiri tepat di depan kami. “Hai, Ramli, kau yang menyebabkan Lasipar dimasukkan ke dalam sel isolasi! Kami berdua tidak terima akan hal itu dan ada pesan untukmu dari Lasipar. Mendekatlah...!" teriak salah satu napi yang berbadan gemuk besar. Sedangkan napi yang satunya meletakkan tangannya di dalam kaos olahraga yang sedang dikenakan.
Dugaanku, itu pasti senjata tajam yang disiapkan untuk menyerang Ramli. Aku segera bersiap diri dengan meniup peluit tanda bahaya untuk memanggil perhatian para sipir yang berjaga di sekitar lapangan dan bertugas mengamati para napi yang berolahraga. “Pak Damar, Tolong jangan memanggil penjaga Lapas” pinta Pak Ramli padaku dengan nada tegas. Wajahnya berubah keras dan matanya menjadi sedikit bersinar. Dia dekati kedua napi itu. Mulutku menjadi terkunci dan kakiku menjadi tidak mampu untuk berjalan.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan