MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 12, Ramli yang Misterius )
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 12, Ramli yang Misterius )
Oleh : E.A.Wahyudiono
Ramli dengan tanpa ragu mendekati kedua napi yang badannya penuh tato tersebut. Begitu dia sudah berjarak kurang lebih satu meter di depan mereka, tiba-tiba salah satu napi yang tangannya disembunyikan di dalam kaos yang dipakainya, mengeluarkan potongan besi yang sudah diruncingkan. Dugaanku benar, itu pasti besi yang berasal dari renovasi ruang kunjungan di dalam Lapas yang belum usai.
Untuk mengantisipasi kejadian buruk seperti sebelumnya, kudekati Ramli dari arah belakangnya, namun sesaat tangan kiri Ramli menahan langkahku dengan memberi siyarat agar jangan mendekat.”Sodaraku berdua, mendekatlah padaku dan apa pesan Lasipar untukku? Sampaikanlah..!” kata Ramli sejuk dan wajahnya menjadi berwibawa.
Karena tidak ada jawaban dari kedua napi itu, Ramli menambahi dan kali ini kalimatnya membuatku begitu terperanjat. “Pasti kamu berdua sudah dipengaruhi oleh Lasipar? Kamu ingin menusuk tubuhku dengan besi ditanganmu itu kan? Silakan..!, pilihlah bagian mana dari tubuhku yang fana ini yang ingin kamu tusuk! Janganlah ragu-ragu!"
Hampir saja aku meloncat untuk mencegah kejadian lebih buruk saat kedua napi itu sudah berdiri tepat di depan Ramli, namun aku urungkan saat melihat tubuh kedua napi yang berdiri di depan Ramli tiba-tiba berdiri mematung. Kemudian, entah ada apa, aku sendiri juga tidak tahu secara pasti. Kedua napi yang ditatap matanya oleh Ramli, dalam sekejap tubuhnya menjadi lunglai. Besi cor tajam ditangan salah satu napi mendadak terjatuh ke tanah. Tubuh mereka berdua bergetar, wajahnya menjadi sayu dan mengalir deras air matanya. Tidak kuduga juga, tubuh mereka tiba-tiba bersimpuh di depan Ramli.
Beberapa napi lain yang sudah selesai berolahraga banyak yang berkerumun melihat kejadian itu. Hal itu secara otomatis menarik perhatian para sipir penjara yang menjaga mereka. Dua pertugas bersenjata berlari mendekatiku.”Maaf, Pak Damar,..apakah bapak sehat dan semuanya aman, Pak?” kata salah satu sipir Lapar. Aku jawab bahwa semua berjalan normal dan lancar. Aku juga menjelaskan bahwa kedua napi yang bersimpuh itu sedang diberi nasihat dan tausiyah oleh Ramli. Sengaja tidak aku ceritakan kejadian sesungguhnya agar tidak menarik perhatian para napi dan juga para sipir penjara lainnya.
Petugas yang berjaga meminta semua napi untuk membubarkan diri dan segera kembali ke sel tahanan di bangsal mereka masing-masing dengan tertib. Sedangkan dua petugas yang didekatku, aku perintahkan untuk mengantarkan kedua napi di depan Pak Ramli ke sel mereka kembali. Sungguh mengherankan, wajah kedua napi yang terlihat beringas dan akan melukai Ramli kenapa tiba-tiba berubah menjadi sayu. Juga sebelum pergi, mereka berdua mencium tangan Ramli serta mengucapkan kalimat syahadat. Ramli menepuk-nepuk pundak kedua napi tersebut tanpa bicara apa-apa.
Aku menjadi semakin heran dan takjub. Siapa sebenarnya Pak Ramli ini. Sampai di rumah sekali pun, pikiran tentang Pak Ramli selalu membebani pikiranku. Saat bersama Pak Bayu, beliau pun juga enggan menceritakan secara detil. Sekali pernah menjawab bahwa pada saatnya nanti aku akan tahu sendiri. Kenapa semua menjadi suatu misteri bagiku.
Kuamati wajah Leni, istriku dan Vemy, anakku yang sedang tertidur nyenyak di sebelahku. Dari tadi, aku sudah berusaha untuk memejamkan mata dan herannya, mataku masih sulit untuk diajak tidur. Apalagi besuk pagi, harus mengantar Ramli ke gedung pengadilan sesuai dengan jadwal sidangnya. Akhirnya semua aku pasrahkan kepada Allah SWT dan setelah itu pikiran dan hatiku menjadi tenang.
Pagi sekali, tanpa mengikuti acara apel pagi, kejemput Ramli dari selnya dan segera kubawa ke gedung pengadilan lebih awal untuk menghindari warga masyarakat, wartawan dan media masa lainnya. Suasana ruang sidang masih sepi. Hanya beberapa pegawai pengadilan yang masih menyiapkan peralatan untuk persidangan sebagai tugas rutinnya. “Assalamualaikum, Pak Damar” Seseorang di sebelahku menyapa. Kedatangannya tidak aku sadari karena aku juga fokus pada keamanan Pak Ramli di ruang sidang itu.
Ternyata beliau adalah Pak Rachmat, Hakim ketua dalam persidangan kasus Ramli ini. Kami berdua sudah kenal dan akrab karena sama-sama berasal dari Jawa. Aku Jawa Timur sedangkan beliau dari Jawa Tengah. Setelah menjawab salam, kami berdua segera terlibat pembicaraan seputar kerinduan akan kampung halaman dan juga keluarga tentunya. “Bertugas mengantar Pak Ramli ya?” tanya beliau saat bersiap memasuki ruang sidang. “Siap, betul Pak!” jawabku tegas.
“Maaf Pak, izin bertanya, sekali lagi mohon maaf jika pertanyaan saya tidak pada tempatnya selaku penegak hukum. Jika bapak keberatan, bisa diabaikan saja dan tidak perlu dijawab” tanyaku pada Pak Rachmat. “Boleh saja, mau tanya apa?” jawab Pak Rachmat dengan cepat. “Kira-kira Pak Ramli dalam kasus ini bagaimana peluangnya, Pak?” tanyaku lagi penasaran.
Pak Rachmat memandangi wajahku dan menghela nafas panjang, “Ini jawaban saya sebagai seorang teman ya Pak. Untuk peluang tidak bersalah kasusnya Pak Ramli adalah nol persen. Untuk bersalah dan dihukum mati sekitar 60 persen. Untuk hukuman seumur hidup bisa jadi 40 persen” Aku masih mencerna dari penjelasan Pak Rachmat tadi. “ Tapi semua tergantung pembuktian dari saksi dan barang bukti. Semua saksi memberatkan dakwaan Pak Ramli. Juga barang bukti yang dibawa jaksa” tambah Pak Rachmat lagi.
“Juga, pada sidang pendahuluan, Pak Ramli sudah menyerahkan surat tertulis pada pembelanya bahwa dia akan melakukan pledoi (pembelaan) sendiri dan tidak perlu diwakili pembelanya” kata Pak Rachmat sebelum beranjak masuk ke ruang sidang utama. Hatiku berdegup kencang jika Pak Ramli sendiri yang akan membacakan pledoinya.
Aku berusaha menenangkan diri. Kalimat Pak Ramli yang aku takutkan dalam setiap pemeriksaan berita acara adalah selalu mengatakan bahwa semua kesalahan itu adalah karena dirinya. Seperti halnya, anakku Vemy yang cacat, tuna wicara dan rungu adalah kesalahannya. Itu semakin aneh dan membingungkanku karena, seingatku, aku dan keluargaku belum pernah sekalipun bertemu dengan sosok Pak Ramli itu.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan