MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 14, Peristiwa di Ruang Makan Lapas)
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 14, Peristiwa di Ruang Makan Lapas)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah mengembalikan Pak Ramli ke selnya di bangsal B, segera kulaporkan semua jalannya sidang pada Pak Bayu selaku Kepala Lapas. Beliau menaruh perhatian yang sangat tinggi akan kasus yang menimpa Pak Ramli. Saat kusampaikan bahwa Pak Rachmat selaku Ketua hakim di sidang kasus pembunuhan yang menjerat Pak Ramli tidak percaya jika Pak Ramli bisa menyembuhkan luka tusukan dan menganggapnya berbohong.
Pak Bayu menghela nafas panjang dan kemudian berkata dengan sabar. “Baiklah, saya akan menghubungi penasihat hukum Pak Ramli. Saya bersedia menjadi salah satu saksi yang meringankan akan kesaktian Pak Ramli dalam menyembuhkan atau mengobati luka”. Mendengar pengajuan dirinya menjadi saksi yang meringankan membuat hatiku gelisah dan senang sekaligus.
Pertama, Pak Bayu adalah seorang penegak hukum, jadi seharusnya beliau bersikap tidak memihak. Kedua, aku merasa senang karena ada yang menolong Pak Ramli yang hatiku sendiri sangat yakin bahwa dia bukan seorang pembunuh seperti yang didakwakan padanya hanya gegara salah waktu dan tempat untuk menolong kedua korban pembunuhan. Namun, karena posisiku sebagai aparat hukum, tidak pernah sekalipun keluar kalimat lisan dari mulutku dan juga pernyataan tertulis bahwa Pak Ramli tidak bersalah. Itu bukan kapasitasku untuk memutuskan.
Wajahku berubah menjadi serius saat memikirkan akan hal itu. “Tenang Pak Damar!, saya paham kecemasan Anda. Saya akan bersaksi tentang kebenaran dan fakta kemampuan dari Pak Ramli yang bisa menyembuhkan luka saja. Bahwa hal itu bukan suatu kebohongan. Saya tidak akan bersaksi tentang kejadian pembunuhannya. Saya sendiri juga tidak tahu akan hal itu” kata Pak Bayu memberikan penjelasan lagi untuk menenangkan hatiku.
Dua pekan setelah berada di sel isolasi, Lasipar dikeluarkan dari selnya dan diletakkan di sel bangsal C tempat narapidana dari kasus kejahatan ringan seperti pencurian, penjambretan, penipuan dan penodongan. Kali ini, Lasipar terlihat tidak begitu agresif, namun semua napi yang berada dalam satu sel dengannya langsung tunduk dan patuh dengan perintah Lasipar. Rupanya, dia pandai mempengaruhi para napi lainnya untuk menjadi anak buahnya.
Saat semua napi dikeluarkan dari selnya untuk jadwal makan bersama di ruang makan, terlihat semua napi berkumpul dengan teman mereka sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan. Utamanya pertemanan dari kelompok-kelompok yang mereka bentuk agar tidak diintimidasi atau diancam oleh kelompok napi lainnya. Semua sipir Lapas yang bersenjata menjalankan protokol keamanan tinggi saat makan siang seperti ini.
Aku yang berdiri di balkon di dalam ruang makan dengan beberapa sipir Lapas dan penjaga mengamati aktivitas para napi yang sedang menikmati ransum makan siangnya. Ruang makan menjadi hening saat Lasipar memasuki ruangan dan semua napi berhenti berbicara karena mengamati kemana dia akan duduk. Setelah mengambil ransum makan siangnya, Lasipar sudah ditunggu para napi dari kelompoknya dari sel bangsal C. Yang mengejutkanku adalah, beberapa napi dari sel bangsal A, untuk kasus kejahatan berat seperti pembunuhan, perampokan dengan kekerasan serta pemerkosaan ikut bergabung dengan Lasipar.
Hal itu membuat ciut nyali para napi dari sel bangsal lainnya. Ramli yang tergabung dengan para napi sel bangsal B untuk kasus tahanan politik duduk tidak jauh dari meja makan besar kelompok Lasipar. Aku memberi isyarat pada para sipir bersenjata untuk waspada mengantisipasi kekacauan mengingat semua napi berada di satu ruang makan yang besar. Kondisi seperti ini berpotensi memicu terjadinya perkelahian masal antar kelompok napi. Mereka, satu sama lain berusaha saling menguasai dan menjadi yang paling disegani dan ditakuti di dalam Lapas.
“Hai, Kau,..Ramiel..!!” Kulihat Lasipar berdiri sambil berkata pada Ramli. “Assalamualaikum, Sodaraku Lasipar..!” jawab Ramli dengan wajah teduhnya dan tersungging senyuman. Namun salam Ramli tidak dijawab oleh Lasipar. Dia memandang ke balkon, melihat para penjaga dan kemudian menatapku dengan matanya yang memancarkan aura dendam. Karena Lasipar hanya berdiri tanpa ada indikasi berbuat onar, maka para sipir penjara membiarkan saja dan dianggap tidak membahayakan.
“Jika Lasipar berbuat onar, masukkan lagi ke dalam sel isolasi!” perintahku lirih pada Pak Iqbal, selaku komandan sipir bersenjata yang berdiri di sebelahku. “Siap, Pak..!", jawab Pak Iqbal lirih namun tetap tegas. “Ramiel..!, Bagaimana dengan proses sidangmu di pengadilan? Kau dungu sekali mempercayai semua penegak hukum itu. Bergabunglah denganku..! Jika kau tidak mau,… jangan sekali-kali kau panggil aku sebagai sodaramu!” Semua napi menjadi terdiam mendengarkan Lasipar berkata lantang.
“Sodaraku Lasipar..!, Bertobatlah. Sudah cukup semuanya. Aku menyesal telah terbujuk rayuanmu dan melanggar perintah-NYA. Kembalilah ke jalan Allah..!. Dan maaf, aku tidak akan pernah ikut denganmu lagi..!” teriak Ramli dengan tidak kalah lantangnya. “Baiklah Ramiel, kelak kau akan menyesal. Para manusia itu tidak tahu terimakasih akan apa yang telah kamu lakukan. Mereka akan membencimu dan mengkhianatimu…Jika tidak percaya lihat saja nanti..!”
Setelah berkata begitu, Lasipar kembali duduk dan makan tanpa menunggu jawaban dari Ramli. Suasana ruang makan di dalam Lapas menjadi normal kembali. Aku merasa lega karena tidak terjadi insiden di dalam Lapas. Kelompok Lasipar, yang pertama berjalan keluar dari ruang makan Lapas sambil menatap bengis para napi di meja Ramli. Sipir bersenjata mengawal Lasipar dan kelompoknya untuk kembali ke selnya di bangsal C.
Saat aku menoleh ke Ramli, dia sedang membagi-bagikan makanan di piringnya untuk napi lain yang masih belum kenyang. “Sungguh mulia hatinya” gumanku lirih sambil merenungkan percakapan yang terjadi antara Lasipar dan Ramli tadi.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
