Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 18, Misi Rahasia)
ilustrasicrita.dokpri

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 18, Misi Rahasia)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 18, Misi Rahasia)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Sore hari selepas makan malam, kugunakan waktuku bersama Vemy anakku yang menderita tuna rungu dan tuna wicara. Aku ajari dia bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Saat ini usianya sudah hampir menginjak 2 tahun. Leni, istriku dengan sabar membantu Vemy jika dia atau aku tidak bisa saling memahami.

Sunguh sedih melihat anakku Vemy yang cacat seperti itu. Menangis pun juga tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya airmatanya yang jatuh bercucuran dan nafasnya menjadi tersengal saat dia marah dengan keadaannya. Aku memahami betapa sedihnya anakku. Dia pasti berfikir, kenapa dunia ini sepi tidak ada suara dan kenapa kedua orang tuanya saling berbicara tanpa tahu maknanya. Tidak terasa, airmataku pun menetes perlahan. Aku ingin anakku juga bisa menjadi normal seperti halnya anak-anak tetangga di perumahan dinas Lapas yang semuanya selalu bermain bersama dan ceria.

“Maafkan, aku ya, mas,..karena aku tidak bisa memberikanmu anak yang normal” kata istriku sambil memegang tanganku. Dia berkata begitu mungkin karena melihat mataku yang berkaca-kaca. “Jangan minta maaf dik, ini semua bukan kesalahanmu. Bisa jadi ini kesalahanku juga. Takdir kita bersama. Sudahlah.., kita harus sabar dalam merawat dan mendidik Vemy” ujarku sambil membelai rambutnya untuk menghiburnya.

Saat waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIT dan juga kulihat Vemy sudah tidur, aku bergegas mengenakan seragam Lapas dan jaket hitam. “Dik, aku mau memeriksa dan sidak keamanan Lapas malam ini. Kamu segera istrirahat ya. Kamu pasti capek seharian merawat Vemy” pamitku pelan pada Leni, istriku. “Iya, mas, hati-hati, ya!" jawabnya singkat. Istriku tidak pernah bertanya apapun yang terkait dengan urusanku di Lapas. Sidak malam di Lapas adalah tugas yang biasa aku lakukan, jadi istriku tidak menaruh curiga sama sekali.

Begitu tiba di Lapas tepat pukul 21.00 WIT, beberapa sipir Lapas memberikan hormat padaku. Mereka juga tidak menanyakan apa-apa karena sebagai pejabat di Lapas, sidak pada malam hari adalah hal yang rutin. Kulihat, mobil pribadi Pak Bayu sudah ada di depan halaman Lapas. Ternyata Pak Bayu sudah siap menungguku di ruangannya. Wajahnya terlihat tegang. “Pak Damar, kita mengobrol dulu saja sambil menunggu para napi tidur dan terjadi pergantian penjaga Lapas baik yang di tower atas maupun di pintu gerbang”. kata Pak Bayu yang mungkin untuk mencairkan suasana ketegangan pada diriku.

Kami berdua bercerita tentang keluarga masing-masing. Beliau juga menanyakan kondisi anakku Vemy. “Pak Damar harus selalu bersabar.. Bapak, saat ini sedang diberi amanah untuk merawat Vemy, anak bapak yang cacat itu. Tidak perlu malu dan menyesali ujian yang menimpa keluarga Anda. Yakinlah, semua itu ada hikmahnya” kata Pak Bayu untuk menguatkan hatiku. “Terimakasih atas nasihat bapak, Insyaallah, saya akan berusaha sabar dan akan selalu menyayangi Vemy, anak saya yang cacat itu. Mohon doanya selalu dari bapak!”.

Tengah berbicara santai dengan Pak Bayu, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup dengan kencang. Sebenarnya aku mau menanyakan kenapa malam ini Pak Bayu memintaku untuk menemaninya di Lapas. Akan tetapi seperti pesan beliau, jangan sekali-kali bertanya akan hal itu karena semua rahasia. Secara tidak sengaja, mataku menatap satu stel seragam sipir Lapas di atas meja di depan beliau lengkap dengan atribut, sepatu hitam, jaket dan topinya.

Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIT. Semua napi sudah terlelap tidur dan penjaga bersiap untuk serah terima pergantian jam jaga. “Pak Damar, tolong pergi ke sel khusus Pak Ramli. Jangan sampai ada sipir yang tahu. Bawa seragam sipir Lapas ini ke Pak Ramli. Suruh beliau untuk mengenakannya, kemudian bawa beliau ke sini” Mendengar perintah tersebut, sontak hatiku memberontak.

“Maaf, Pak..hmm, apakah bapak mau membantu pak Ramli untuk melarikan diri dari Lapas?” cegahku pada Pak Bayu kepala Lapas. Sudah kewajibanku untuk mengingatkan apabila ada yang melanggar hukum karena taruhannya adalah pidana berat dan dicopot jabatan serta dipecat dengan tidak hormat. “Maaf, Pak Damar..bukan seperti itu. Tidak ada niatan sama sekali untuk membantu Pak Ramli melarikan diri. Saya tahu dan sadar resikonya. Semua ini akan menjadi tanggung jawab sendiri. Pak Damar kenal siapa saya, kan?. Jika masih percaya dengan saya, tolong berangkat sekarang sebelum pergantian penjaga selesai dilakukan” jawab Pak Bayu meyakinkanku.

Walaupun masih ragu, aku segera menuju sel khusus Pak Ramli sambil membawa seragam sipir Lapas sesuai perintah Pak Bayu. Setelah masuk ke dalam sel khusus Pak Ramli, kuserahkan seragam itu. Kelihatannya beliau juga paham maksudnya. Tanpa banyak cakap seragam Lapas itu dikenakannya. Gedung sel khusus untuk napi yang dihukum mati tidak menjadi satu dengan sel bangsal lainnya sehingga hal ini jauh dari pemantauan para napi dan penjaga Lapas lainnya.

Kami berdua berjalan bersama seakan-akan aku berjalan dengan sipir Lapas yang bertugas malam. Sesampainya di ruangan Pak Bayu, lampu penerangan diredupkan. Pak Bayu bertanya pada Pak Ramli lirih, “Bapak siap?” dan dijawab oleh Pak Ramli “Insyaallah, siap!”. “Tolong kenakan jaket dan topi Lapas. Anda juga Pak Damar!. Sekarang ikuti saya” kata Pak Bayu berbisik sambil menyerahkan payung untukku dan Pak Ramli. Kami bertiga berjalan beriringan keluar Lapas pukul 23.55 WIT saat ada prosesi serah terima penjaga Lapas.

Para sipir Lapas yang mengetahui Pak Bayu sebagai kepala Lapas keluar, dengan serempak mereka memberikan hormat. Pak Bayu pun membalasnya tanpa berbicara sepatah katapun. Aku dan Pak Ramli hanya menunduk sambil memegang payung untuk menutupi wajahku dan khususnya Pak Ramli. Hatiku berdebar kencang karena takut apabila apa yang kami lakukan ini tertangkap basah oleh para sipir Lapas lainnya yang mengenali Pak Ramli. Setelah berada di samping mobilnya, Pak Bayu segera menyilakan Pak Ramli untuk cepat masuk dan duduk dikursi tengah dan memintaku untuk duduk di depan.

Untuk sementara hatiku tenang karena semua berjalan tanpa ada halangan. Mobil mulai berjalan pelan keluar dari halaman depan Lapas yang banyak digenangi air hujan yang saat ini turun semakin derasnya. “Mohon maaf, Pak Bayu,.. tolong saya diberitahu, kita akan membawa Pak Ramli kemana?” tanyaku dengan nada keras. Hal itu mungkin karena luapan ketakutanku dan rasa penasaranku yang dari tadi tidak memahami apa rencana Pak Bayu selaku kepala Lapas yang telah menculik seorang napi dari dalam Lapas yang menjadi tanggung jawabnya.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post