Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 20, Penyakit Lumpuh Istri Pak Rachmat)
dok.pri

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 20, Penyakit Lumpuh Istri Pak Rachmat)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 20, Penyakit Lumpuh Istri Pak Rachmat)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Setiap hari, saat Pak Rachmat bekerja di kantor sebagai hakim, ada warga setempat yang menjadi pembantu rumah tangga untuk mengurusi semua kebutuhan Ibu Sri Utami, istri Pak Rachmat. Mulai dari memasak, mencuci dan membersihkan rumah. Menjelang pukul 4 sore, Pak Rachmat pulang kantor, pembantu rumah tangga itu pun juga pulang ke rumahnya. Begitulah kehidupan keluarga Pak hakim sehari-hari di rumah dinasnya.

Pak Rachmat keluar dari kamar bersama istrinya yang hanya bisa duduk di atas kursi roda. Istrimya terlihat sangat kurus dan matanya sayu. Ibu Rachmat juga kesulitan bicara sejak mengalami serangan stroke itu. Pak Ramli berdiri dan meminta pintu rumah dinas ditutup, juga tirai di beberapa jendela yang masih terbuka. Suara air hujan deras masih terdengar di luar rumah dinas dan sesekali juga suara petir dan guntur.

Kemudian Pak Ramli duduk jongkok di depan Ibu Sri Utami, istri Pak Racmat. Ibu Sri menatap wajah Pak Rachmat dengan tatapan sangat gembira. Senyuman tampak di bibirnya sambil gemetar. Air mata Ibu Sri Utami terlihat menetes dan sesekali dihapus dengan sapu tangan oleh pak Rachmat yang melihat peritiwa itu juga tidak bisa menahan keharuannya. Selama ini beliau tidak pernah melihat wajah istri yang dicintai itu gembira atau tersenyum sama sekali.

Pak Ramli memegang kaki Bu Rachmat sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit dan sesekali matanya terlihat terpejam. Rasanya mataku ini masih tidak percaya saat melhat tangan Pak Ramli yang menempel di kaki bu Rachmat menjadi bercahaya. Setelah beberapa menit, cahaya itu pun menghilang, Pak Ramli segera berdiri sambil tersenyum dan mundur beberapa langkah. Beliau dengan sopan meminta Ibu Sri Utami untuk berdiri dari kursi rodanya.

Kuamati Pak Rachmat menjadi tegang dan berusaha membantu istrinya. Keajaiban terjadi, Ibu Rachmat bisa berdiri normal seperti sebelumnya. Dia mencoba untuk berjalan beberapa langkah dengan ragu-ragu. Wajahnya menjadi ceria dan raut muka sisa kecantikannya menjadi semakin tampak dan berseri-seri “Mas, Alhamdulillah. Aku bisa sembuh dan berjalan!" kata Ibu Rachmat sambil melihat suaminya.

Tanpa menjawab, Pak Rachmat segera memeluk istrinya sambil menangis tersedu-sedu. Dia merasakan kebahagiaan yang tak terkira karena bisa melihat istri yang dicintainya menjadi sembuh seperti sedia kala. Aku juga merasakan keharuan yang luar biasa. Pak Bayu pun tidak lupa juga dirangkul oleh Pak Rachmat sambil menyampaikan terimakasih bekali-kali serta meminta maaf karena telah menuduhnya berbohong saat menjadi saksi yang meringankan untuk Pak Ramli di sidang pengadilan.

Saat mendekat ke Pak Ramli, Pak Rachmat tiba-tiba duduk bersimpuh di depannya sambil menangis tersedu. “Terimakasih,…Terimakasih, Bapak telah menolong dan menyembuhkan istri saya. Sekarang saya percaya semuanya. Saya mejadi yakin bahwa bapak pastilah bukan pembunuh kedua anak kecil seperti yang didakwakan” kata Pak Rachmat dengan kalimat tercampur tangisan penyesalannya.

“Jangan berterimakasih pada saya, Pak Rachmat. Berterimakasihlah kepada Allah SWT. Hanya atas Izin-NYA semata, saya bisa menyembuhkan penyakit ibu Rachmat. Itu pun juga karena kesalahan saya di masa lalu istri Bapak kena serangan stroke” jawab Pak Ramli dengan nada sabar sambil memegang pundak Pak Racmat dan menyilakan untuk berdiri.

“Untuk hukuman mati yang dijatuhkan kepada saya, Insyaallah akan saya terima dengan ikhlas semata mencari ridho Allah SWT. Itu sudah suratan nasib dan takdir saya. Jadi, Tolong, bapak jangan merasa bersedih. Bapak adalah orang baik dan sudah memutuskan berdasarkan saksi mata dan bukti yang ada di sidang pengadilan”. Kata Pak Ramli lagi dengan dengan nada bijak.

Pak Rachmat yang mendengar kalimat Pak Ramli, semakin menjadi-jadi isak tangisnya. Aku pun juga tidak bisa menahan diri. Tidak terasa juga ada buliran air menetes dari sudut mataku. Pak Rachmat, sambil tetap menangis merangkul erat Pak Ramli seakan-akan enggan melepaskannya. Aku hanya bisa menebak-nebak mungkin perasaan Pak Rachmat yang gembira karena istrinya sembuh atau karena merasa bersalah telah memvonis mati Pak Ramli orang yang bisa menyembuhkan penyakit lumpuh yang mendera istrinya.

Kami bertiga segera berpamitan untuk kembali ke Lapas sebelum fajar menyising. “Pak Bayu, terimakasih bantuannya. Saya tidak akan pernah melupakan jasa Pak Bayu pada istri saya. Juga kepada Pak Damar dan Pak Ramli. Besuk saya akan ke Lapas. Ada sesuatu yang akan saya bicarakan dengan Pak Bayu dan Pak Damar” kata Rachmat pada kami bertiga. “Siap, Pak, Mohon, bapak jangan bercerita bahwa yang menyembuhkan istri bapak adalah Pak Ramli” pesan Pak Bayu. “Insyaallah, saya mengerti dan memahami. Trimakasih” jawab Pak Rachmat.

Misi rahasia untuk membantu kesembuhan istri Pak Hakim Rachmat berjalan lancar. Termasuk juga saat perjalanan kembali ke Lapas. Aku tidak tahu kenapa hujan kali ini sangat lama dan deras yang seolah-olah membantu misi kami ini sehingga saat masuk ke dalam Lapas lagi, para sipir penjara yang terlihat terkantuk-kantuk juga tidak begitu mencermati kami. Mereka hanya memberi hormat dan melaporkan bahwa situasi Lapas aman dan terkendali.

Setelah mengembalikan Pak Ramli untuk beristirahat di sel khususnya, aku segera mohon izin untuk pulang pada Pak Bayu. “Pak Damar, tolong masuk shift siang saja ya. Pagi ini kita berdua istirahat. Kita bertemu setelah salat dhuhur di kantor saya dengan Pak Rachmat”. Aku hanya menjawab siap dan memeberi hormat. Dalam perjalanan pulang ke rumah dinas Lapas, sayup-sayup terdengar suara azan subuh dari beberapa masjid dan musholla.

Leni, istriku ternyata sudah bangun dari tidurnya untuk persiapan salah subuh. Sedangkan Vemy anakku masih terlihat nyenyak tidurnya. "Jangan langsung tidur, Mas! Sekalian ganti baju dan wudhu ya! Terus salat subuh berjamaah” sambut istriku sambil memberikan secangkir teh jahe hangat padaku. Saat berganti baju koko untuk salat, kuamati anakku Vemy yang masih tidur lelap. Dia terlihat cantik pada usianya namun sayangnya mengalami tuna rungu dan wicara.

Tiba-tiba terlintas meminta pertolongan pada Pak Ramli untuk juga menyembuhkan anakku, Vemy. Jika Pak Ramli bisa menyembuhkan luka tusuk Pak Bayu tanpa meninggalkan bekas dan juga bisa menyembuhkan penyakit lumpuh istri Pak Rachmat karena stroke, itu artinya beliau pasti bisa menyembuhkan penyakit anakku, Vemy. ”Insyaallah, besuk aku harus memohon pada Pak Ramli agar mau menyembuhkan anakku dari cacatnya. Semoga beliau berkenan membantu” gumanku setengah berdoa.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post