MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 21, Rencana Jahat Lasipar)
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 21, Rencana Jahat Lasipar)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah sepagian beristirahat dan bermain-main dengan Vemy, aku sudah bersiap untuk berangkat ke Lapas. Rencanaku, begitu selesai salat dhuhur, langsung berangkat dan menemui Pak Ramli untuk mengutarakan niatku untuk meminta pertolongan dalam menyembuhkan Vemy anakku yang cacat seperti yang dilakukan pada Pak Bayu dan istri pak Rachmat. Sengaja niatku tidak aku sampaikan pada istriku karena aku sendiri masih ragu apakah nantinya Pak Ramli bersedia atau tidak.
Begitu sudah berada di Lapas, aku tidak langsung ke kantorku atau kantor Pak Bayu. Entah kenapa, rasanya ingin berkeliling untuk memeriksa situasi Lapas dan kondisi para Napi terlebih dulu. Saat melewati sel bangsal C tempat Lasipar ditahan, secara tidak sengaja kulihat semua napi sedang bergerombol dan tengah mendengarkan Lasipar yang sedang berbicara agak berbisik seperti memberikan instruksi. Sesekali jari tangan Lasipar menulis atau mencoret sesuatu di lantai dan semua memperhatikan.
Sepertinya salah satu dari mereka menyadari kehadiranku dan memberikan kode untuk bubar dan serempak diam pura pura tidak melihatku. Aku menatap curiga dan ingin tahu apa yang mereka bicarakan atau rencanakan. Mata Lasipar menatapku dengan bengis dan penuh kebencian tanpa aku tahu kenapa.”Hai, Damar..! kenapa kau lihat-lihat kami? Tak usah kau urusi kami para penjahat ini. Kau urusi saja anakmu yang cacat tuh..!” kata Lasipar dengan nada kasar.
Sontak terkesiap hatiku dan hampir marah karena berani sekali seorang napi bicara tidak sopan pada sipir Lapas, namun aku memilih untuk pergi dari sel bangsal C karena aku sendiri tidak mau merusak suasana hatiku yang sedang senang dan penuh harapan pada Pak Ramli. Saat di pintu keluar bangsal C, langkahku terhenti dan sedikit terkejut kenapa Lasipar tahu anakku cacat? Ini hal aneh yang terlintas dalam pikiranku. Tidak ada seorang napi yang tahu tentang kondisi keluarga para sipir Lapas. Aku menjadi sangat penasaran dan gusar.
Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat Pak Hakim Rachmat dan juga Pak Bayu yang melambaikan tangannya untuk memanggilku ke kantor. Dengan setengah berlari, aku ingin segera menemui mereka. Suasana pertemuan di ruang Pak Bayu sangat menyenangkan. Pak Rachmat merasa bersyukur karena istrinya bisa mendapatkan keajaiban dan sembuh dari penyakit lumpuh yang dideritanya. Beliau mengucapkan terimakasih berkali-kali entah sampai aku lupa dan tidak mampu menghitungnya.
Dengan wajah serius, topik pembicaraan beralih. Pak Rachmat ingin membantu Pak Ramli untuk mengajukan banding setelah vonis mati dijatuhkan. Siapa tahu sidang banding nanti bisa membebaskan Pak Ramli dari jeratan hukuman matinya. Dia menyadari semua itu karena tuntutan jaksa adalah hukuman mati dan dalam hal ini dikabulkan oleh Pak Rachmat selaku hakim, maka para jaksa merasa puas dan tidak perlu melakukan kasasi ke Mahkamah agung atau pengajuan keberatan akan putusan hakim pada terdakwa.
Solusi yang ketiga adalah pak Ramli tetap menjalani hukuman sambil menunggu eksekusi mati dari surat perintah yang akan diberikan oleh Kehakiman entah kapan turunnya. Selama menjalani masa tahanan itu, Pak Ramli bisa mengajukan PK (Peninjauan Kembali) akan kasusnya untuk di sidang ulang. “Saya sekarang menjadi yakin bahwa Pak Ramli bukanlah seorang pembunuh. Namun saya sebagai hakim, harus memutuskan berdasarkan fakta dan keterangan saksi” kata Pak Rachmat memperjelas alasannya.
Tepat pukul 15.15 WIT, semua narapidana dikeluarkan untuk beraktivitas olahraga di lapangan di tengah Lapas termasuk juga Pak Ramli. Kami bertiga keluar dari kantor dan menemui Pak Ramli yang selalu duduk di kursi taman yang terbuat dari cor semen sambil menengadah ke langit. Setelah saling memberi salam kami berempat saling berjabat tangan dan Pak Rachmat tetap tidak bisa menahan diri serta merta merangkul Pak Ramli sambil meneteskan airmatanya.
“Bagaimana kabar ibu Sri Utami, Pak? Sehat, kan?” tanya Pak Ramli. Pak Rachmat tidak segera menjawab. Setelah melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya, barulah Pak Racmat bercerita bahwa istrinya seharian ini bahagianya luar biasa, bahkan sudah memberi kabar pada kedua anak mereka yang ada di Jawa jika dirinya sudah sembuh. Para Hakim dan pegawai yang bekerja di gedung pengadilan juga banyak yang berdatangan untuk menemui istrinya. Itu merupakan suatu keajaiban dan beliau juga meyakinkan bahwa akan menjaga rahasia pengobatan Pak Ramli pada istrinya dari siapapun yang bertanya.
“Alhamdulillah, Saya ikut senang, Pak Rachmat. Insyaallah, Ibu Sri Utami akan selalu sehat setelahnya” kata Pak Ramli dengan lemah lembut. Akhirnya, Pak Rachmat menyampaikan maksud untuk membantu Pak Ramli agar bisa bebas dengan menawarkan 3 opsi yang sudah disiapkan oleh Pak Rachmat. Vonis pidana mati yang sudah diputuskan oleh Pak Rachmat sebagai hakim di sidang dulu itu tidak bisa dianulir atau dibatalkan, karena sudah mengandung keputusan hukum yang tetap (inkracht van gewijsde).
“Terimakasih, Pak Rachmat dan semuanya. Dengan ini saya menolak bantuan dari bapak-bapak semuanya agar saya bebas dari hukuman yang sudah dijatuhkan. Biarlah semua menjadi tanggungan atas dosa dan kesalahan yang telah saya lakukan sebelumnya”. Jawaban Pak Ramli itu sungguh mengagetkan kami bertiga. Semua menjadi bingung dan tidak mampu berkata-kata khususnya Pak Rachmat yang terlihat wajahnya menunjukkan rasa bersalah dan penyesalan.
Niatku yang tadinya ingin memohon pertolongan pada Pak Ramli untuk mengobati Vemy anakku, semakin menjadi tidak jelas kapan harus aku sampaikan. Mataku sedikit nanar karena sedih. Untuk menahan rasa galau di hati, aku memperhatikan beberapa narapidana yang sedang bermain bola voli dan juga mereka yang sedang kerja bhakti membersihkan semak di pinggiran lapangan dengan cara membakarnya. Mengetahui hal itu, aku berniat untuk mendekati mereka untuk memadamkan api karena hal itu membahayakan. Belum juga kakiku melangkah, tiba-tiba muncul Lasipar mendekat ke arah kami berempat yang tengah berbicara.
“Hai, Ramiel..!!, Bodoh kali kau..!. Kau tolong orang –orang itu dan ternyata hukumanmu adalah hukuman mati, kan!?. Kau tak percaya seperti apa yang kubilang sebelumnya...! “ teriak Lasipar dengan suara keras. Kuamati dengan teliti, hanya ada 2 anak buahnya yang berdiri di belakangnya. Sedangkan yang lainnya entah menyebar di mana. Mengetahui Lasipar berteriak, semua napi yang berolahraga segera menghentikan atikvitasnya dan ikut berkerumun untuk melihat Lasipar yang sedang berteriak marah.
Para sipir penjara yang bersenjata segera masuk lapangan untuk membubarkan para napi yang bergerombol saat berolahraga. Saat mereka melakukan itu, tiba-tiba ada aba-aba dari Lasipar yang terdengar lantang, “Sekaraaaaang..!!!”. Dalam hitungan detik semua napi dengan bersenjata apa adanya di dekat mereka, menyerang para sipir yang memegang revolver dan senjata api laras panjang serta berusaha merebutnya. Sedangkan Beberapa napi lainnya menyerang para sipir penjaga pintu gerbang Lapas.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
