Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 22, Pemberontakan di Lapas)
ilustrasicerita dokpri

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 22, Pemberontakan di Lapas)

MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 22, Pemberontakan di Lapas)

Oleh : E.A.Wahyudiono

Dalam beberapa detik, aku segera menyadari bahwa telah terjadi pemberontakkan di dalam Lapas yang jelas diatur oleh Lasipar.

Tanpa menunggu lama, segera kutiup peluit tanda bahaya. Penjaga yang mendengar peluit bahaya itu segera menyalakan alarm serta mengunci pintu jeruji keluar Lapas yang berlapis tiga. Beberpa penjaga bersenjata di tower juga segera mengambil poisisi untuk menembak para napi yang bertindak anarkis.

Beberapa napi anak buah Lasipar dari kasus pembunuhan dan perampokan dalam kasus pemberatan (kasus kekerasan) berusaha membakar beberapa bangsal, namun penembak jitu segera melumpuhkan dengan tembakan di kakinya.

Tembakan yang tidak bersifat mematikan atau fatal itu untuk memberikan efek kejut dan jera. Beberapa napi lainnya dari kasus politik dan ringan yang juga sedang beraktivitas olahraga serta tidak tahu menahu dengan rencana Lasipar yang akan memberontak memilih untuk bertiarap bersama di lapangan untuk mengamankan dirinya. Mereka tidak menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

Saat menyadari ada pemberontakan di Lapas, aku segera melindungi Pak Bayu, Pak Hakim Rachmat dan juga Pak Ramli untuk segera menyingkir serta berlindung di balik para sipir bersenjata yang berusaha melindungi kami. Lasipar yang mengetahui kejadian itu segera mengejar Ramli. Demi keselamatan mereka, tanpa berfikir panjang segera kuterjang Lasipar dengan sekuat tenagaku.

Kami berdua jatuh berguling di dekat bangku beton tempat kami duduk sebelumnya. Kesempatan itu dipergunakan oleh mereka bertiga untuk lolos dari kejaran Lasipar dan 2 anak buah yang mendampinginya.

Pemberontakan yang terjadi hanya beberapa menit segera bisa dipatahkan oleh para sipir Lapas. Beberapa napi anak buah Lasipar yang berencana lari keluar dari Lapas terhambat oleh pintu jeruji gerbang.

Mereka semua tidak tahu bahwa pintu Lapas mempunyai cara kerja penguncian yang unik. Saat mereka memutar anak kunci yang pintu jeruji gerbang, anak kunci menjadi macet dan tidak bisa terbuka. Uliran kunci bukanlah melawan arah jarum jam seperri pintu pada umumnya namun justru untuk membukanya tetaplah searah jarum jam. Hal itu tidak diketahui oleh para napi yang meloloskan diri.

Saat semua kesulitan dan perlu waktu untuk membuka pintu jeruji yang memisahkan bangsal utama dan pintu gerbang Lapas, maka para sipir bersenjata dengan mudah segera bisa melumpuhkan mereka.

Saat aku bangun dari jatuhm pada waktu menahan Lasipar yang akan menyerang kami, terasa ada benda dingin menempel di leherku. Rupanya Lasipar sudah mendapatkan senjata jenis pistol Revolver milik Pak Iqbal, sipir Lapas yang mengawal kami saat menemui Ramli.

“Damar..!, Jika masih sayang nyawamu !, Jangan coba-coba malawanku!” hardik Lasipar sambil menodongkan pistol rampasannya di leherku. Aku segera bangkit dari jatuhku. Di sebelahku, ada Pak Iqbal yang ternyata juga dijadikan sandera oleh 2 anak buah Lasipar. Mereka menodongkan besi beton pembangunan Lapas yang sudah diruncingkan. Untungnya, dalam beberapa menit pemberontakan di dalam Lapas yang dipimpin oleh Lasipar bisa segera di atasi oleh para sipir lainnya.

Kegagalan pemberontakan mereka mereka untuk melarikan diri ternyata tidak didukung oleh semua napi yang ada di dalam Lapas. Banyak yang memilih untuk tetap bertiarap di halaman tengah jika tidak ingin dilumpuhkan dengan timah panas penjaga di tower yang sudah siap membidik mereka.

Melalui pelantang di tangannya, Pak Bayu segera memerintahkan para napi yang memberontak untuk segera menyerah. Jika tidak, mereka akan diambil tindakan secara tegas.

Karena terpojok, Lasipar menggunakan diriku sebagai sandera. Sedangkan 2 anak buah Lasipar, terlihat sedang menyandera Pak Sipir Iqbal di sebelahku. Suasana sangat mencekam. Kepulan asap dari rumput yang dibakar masih mengepul di sana sini.

Pak Ramli yang tadinya terlindungi oleh para sipir penjara yang bersenjata berusaha maju untuk membujuk Lasipar agar `meyerahkan diri. “Lasipar..!, Sudah cukuplah kau membuat kerusakan di muka bumi ini. Seharusnya kau menerima hukumanmu di dunia ini dengan ikhlas” teriak Ramli memohon.

“Lasipar..! Lepaskan para sipir itu dan terimalah hukumanmu!. Janganlah kau semakin mengumbar hawa nafsumu. Ambillah aku sebagai sebagai sandera pengganti para sipir yang kamu sandera itu..!” bujuk Ramli.

“Hai, Ramli..!, Kau pengkhianat, kita pernah berbuat salah bersama, tetapi aku tidak akan sudi untuk tunduk pada manusia macam mereka semua..!” teriak Lasipar tidak kalah lantangnya.

“Aku membenci pada para manusia yang tidak tahu balas budi itu dan tidak akn pernah tunduk pada mereka...!” tambah Lasipar sambil mengarahkan revolvernya pada mereka semua satu-persatu bergantian.

“Lasipar, saudaraku..!,..Marilah kita ikhlas menerima hukuman dari-NYA. Jangan kau tambah dengan dendam dan sifat angkuhmu. Kita berdua sekarang sama dengan semua manusia yang fana ini. Mereka membutuhkan kasih sayang dan bantuan kita..!” bujuk Ramli dengan nada sedikit lemah lembut.

Kami semua yang mendengarkan pembicaraan antara Ramli dan Lasipar menjadi kebingungan dengan apa yang sedang mereka bicarakan.

Suasana Lapas sudah dikuasai kembali oleh para sipir bersenjata. Tidak berapa lama, terdengar raungan sirene di luar Lapas. Kemudiam rombongan Polisi dari Polres yang dipimpin oleh Iptu. Polisi Galang dan Ipda Polisi Nova Aji dengan satu peleton Brimob (Brigade Mobil) yang bersenjata lengkap berdatangan masuk ke dalam Lapas untuk mengamankan situasi.

Semua moncong senjata laras panjang diarahkan pada Lasipar dan kedua anak buahnya. Akan tetapi, mereka tidak mengambil tindakan karena aku dan Pak Iqbal, sipir penjara sedang dijadikan sandera.

Lasipar mendorong tubuhku menyerahkan kepada kedua anak buahnya untuk diawasi saat sedang berbicara dengan Ramli. Tiba-tiba ada bisikan aneh dan lirih di telingaku dari arah belakang.

“Maaf, Pak Damar dan Iqbal,.. Tunggu aba-aba dari saya, kemudian pukullah kami berdua. Setelah itu bapak berdua lari ya..Maaf, hati kami berdua bersama Pak Ramli”. Saat aku menoleh pada kedua napi itu, aku baru ingat, ternyata mereka berdua adalah napi yang akan menusuk Ramli beberapa minggu sebelumnya namun diurungkan dan malah menangis bertobat di depan Ramli.

“Sodaraku, Lasipar! Bertobatlah sebelum semua terlambat!" bujuk Ramli Pada Lasipar yang masih mengacung-acungkan pistol jenis revolver hasil rampasannya dari Pak Iqbal.

Saat lengah, kedua napi yang memegangi dan menodongkan senjatanya padaku bebisik, ”Pak,.. sekarang, rebut senjata, tendang saya dan segera lari”. Aku menoleh pada Pak Iqbal sambil mengangguk memberi kode. Dalam hitungan ke-3, kuputar badanku, segera kurebut senjata laras panjang dari napi di belakangku dan kutendang mereka. Pak Iqbal juga melakukan hal sama denganku.

Kedua napi itu seketika terjungkal kebelakang. Semua itu sudah diatur oleh 2 napi anak buah Lasipar yang membisiki kami berdua sebelumnya agar kami melakukan hal itu tanpa sepengetahuan Lasipar.

Tanpa dikomando, aku dan pak Iqbal segera berlari menuju Pak Ramli yang juga berlari menjemput kami. Lasipar yang mengetahui kejadian itu tampak kaget sebentar namun segera menyadari dan mengarahkan sejatanya dari arah belakangku.

“Dor..!, Dor..!’"terdengar dua kali letusan pistol jenis revolver memekakan telinga. Namun entah bagaimana Pak Ramli sudah mendekap dan memutar tubuhku. Semua seperti gerakan lambat di mataku.

Kulihat tubuh Pak Ramli terjengkang saat dua butir peluru menembus punggungnya karena berusaha melindungiku. Mataku masih kabur akibat hormon adrenalin yang memacu jantungku dan nafasku masih tersengal-sengal karena berlari cepat.

Setelah itu terdengar beberapa letusan senjata dari para sipir dan anggota Brimob yang menembak Lasipar. Semua itu berjalan sepersekian detik, namun di mataku semua berjalan lambat.

Tubuh Lasipar juga terjengkang dan jatuh terduduk karena beberapa butir peluru bersarang di dadanya. Beberapa sipir dan anggota polisi segera berlari untuk menjauhkan pistol dari tangan Lasipar. Anggota Brimob lainnya segera mengamankan anak buah Lasipar yang terlihat tak berdaya saat semua diperintahkan tiarap dengan tangan di atas kepala mereka.

Saat aku sudah mampu menyadari apa yang telah terjadi, aku raba sekujur tubuhku dan merasa bersyukur karena tidak ada yang terluka. Aku menoleh ke Pak Ramli yang yang tubuhnya berlumuran darah karena telah menolongku dan melindungiku dengan menjadikan dirinya sebagai tameng saat Lasipar menembakku tadi. Air mataku jatuh bercucuran melihat kondisi Pak Ramli.

Aku angkat kepalanya dipangkuanku. “Pak..!, Jangan mati, Pak..!” teriakku meraung-raung melihat kondisi Pak Ramli yang nafasnya tersengal-sengal.

"Medis,..mana medis....!!!!" tambahku dengan suara yang lebih keras dan mataku mencari-cari keberadaan petugas medis Lapas. Baju dan celanaku yang penuh bersimbah darah dari luka tembak Pak Ramli menambah kesedihanku.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post