MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 24, Sosok Ramli Dan Lasipar-TAMAT )
MALAIKAT YANG TERBUANG (PART 24, Sosok Ramli Dan Lasipar-TAMAT )
Oleh : E.A.Wahyudiono
“Pak Damar tidak perlu takut, Saya sudah mengenal bapak masa sebelum dan sesudahnya. Izinkan saya masuk untuk memberi salam.” kata sosok tampan dan muda yang mengaku sebagai Ramli. Saat kulihat dari wajahnya, aku menjadi yakin bahwa orang itu sepertinya tidak bermaksud jahat. Akhirnya aku persilakan dia untuk duduk di ruang tamu.
Dengan ramah pemuda itu mengatakan bahwa dirinya adalah malaikat yang dibuang ke bumi karena telah melanggar 3 (Tiga) perintah-NYA. Dari ratusan malaikat, ada beberapa yang dihukum karena tidak mematuhi perintah-NYA dan dia adalah Ramiel, salah satunya. Malaikat pertama yang dibuang adalah Lucifier, sedangkan Ramiel adalah malaikat yang kedua. Ramiel dan Lucifier bertugas bersama-sama di alam semesta ini.
Aku hanya termenung dan tidak mampu berkata apa-apa karena cerita orang yang mengaku sebagai Ramiel itu terasa diluar jangkauan pemahamanku. Ramiel dengan tersenyum bercerita bahwa kedua sayapnya telah dipotong dan dirinya bersama Lucifier dibuang ke bumi sebagai makhluk yang fana seperti halnya manusia yang lain.
Kesalahan pertama yang dibuatnya adalah saat diperintahkan untuk memberikan penyakit lumpuh pada suami istri yang telah membunuh anak kecil di pinggir desa karena tergiur dengan perhiasannya. Lucifier atau di bumi dipanggil Lasipar, menolak karena melihat suami istri itu tidak dikaruniai anak dan juga kondisinya sangat miskin. Berkat bujukan Lucifier, Ramiel bercerita bahwa dirinya juga menjadi terpengaruh. Akhirnya mereka berdua tahu akibat berikutnya jika menolak perintah-NYA
Kesalahan kedua adalah saat dirinya dan Lucifier diperintahkan untuk memberikan penyakit demam berdarah kepada ibu Sri Utami, istri Pak Hakim Rachmat agar tidak bisa mendampingi suaminya bertugas di Sulawesi Tengah sebagai hakim. Lagi-lagi, dirinya dan Lucifier juga tidak melaksanakan perintah-NYA karena kasihan melihat bahwa Pak Hakim Rachmat sebagai hakim yang baik, jujur dan adil. Akhirnya, stroke dan lumpuh menyerang ibu Rachmat saat mendampingi suaminya bertugas di Sulawesi Tengah
Sosok yang mengaku Pak Ramli terdiam lama dan memandangiku dengan tatapan yang aneh. “Kesalahan ketiga apa yang Pak Ramiel lakukan?” tanyaku dengan nada setengah tidak percaya bahwa malam-malam seperti ini ada orang bertamu dan bercerita hal yang gaib, namun aku sendiri juga tidak mampu dan tega untuk mengusirnya.
“Maafkan, Saya Pak Damar, saat kelahiran putri Anda, Vemy, aku diperintahkan untuk menulis bahwa Vemy seharusnya dilahirkan secara premature dan harus masuk inkubator selama 3 bulan. Aku tidak melaksanakan karena merasa kasihan pada Pak Damar dan ibu Leni, istri bapak. Itu semua berkat hasutan Lucifier atau di bumi dipanggil Lasipar padaku" kata Ramiel padaku meyakinkan.
Karena ketiga pelanggaran atas perintah-NYA, kami berdua dihukum dengan cara dipotong kedua sayap yang kami miliki dan dibuanglah ke bumi dalam bentuk tubuh fana seperti halnya manusia agar bertobat. Sayang sekali, Lasipar (Lucifier) tidak terima disejajarkan dengan manusia, Dirinya mengatakan bahwa derajatnya lebih tinggi daripada manusia. Dia tidak mau tunduk dan melampiaskan kemarahannya dengan berbuat sesukanya di muka bumi ini.
Aku menahan nafas selama Ramiel bercerita yang menurutku sangat tidak masuk akal, tapi demi menyenangkan tamuku, hal itu aku biarkan saja. “Sekarang saya menyadari setelah bekali-kali mengingkari perintah-NYA. Ternyata banyak musibah pada manusia. Itu semua kesalahanku. Oleh karena itu, saya berusaha selalu ikhlas untuk menerima hukuman yang diberikan dan berusaha mengatasi masalah yang telah saya buat atas izin-NYA” kata Ramiel dengan tersenyum.
Suara angin di luar masih menderu dan membuat suasana menjadi mencekam. “Malam ini, saya datang untuk menyembuhkan anak bapak Vemy yang cacat. Mohon dizinkan.!” Suara Ramiel tiba-tiba berubah menjadi suara yang menggetarkan. Aku duduk tersimpuh turun dari kursiku saat melihat bahwa di gendongan tangan Ramiel sudah ada Vemy yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Kapan diambilnya dan bagaimana, aku tidak menyadarinya. Lidahku menjadi kelu tidak bisa berucap apapun.
Kepala Vemy dipegang oleh Ramiel, dan seperti hal biasanya yang kulihat, tangannya bercahaya. Setelah semua usai, diserahkanlah Vemy padaku. “Insyaallah Vemy akan kembali menjadi sempurna seperti anak lainnya” kata Ramiel dan kali ini tanpa ada senyuman lagi. Beliau tiba-tiba berdiri. Entah apa yang salah dengan mataku, tiba-tiba badannya berubah bercahaya, juga matanya. Lebih mengejutkan lagi, keluarlah sayap berwana putih menyilaukan mata.
Setelah mengucapkan salam, cahaya dan tubuh Ramiel mengecil dan melesat sirna ke luar. Tubuhku masih gemetar. Tanganku rasanya berat seperi mati rasa. Tiba-tiba istriku menepuk bahuku dari arah belakang, “ Mas, Bangun !, katanya mau salat subuh!”. Dengan setengah memicingkan mata, aku melihat bahwa aku masih berada di tempat tidur. Anakku Vemy juga masih aku dekap dalam kondisi tidur nyenyak dalam selimut tebalnya.
Aku segera bangun dan duduk di pinggir ranjang. Sayup-sayup terdengar suara azan subuh di kejauhan. Aku segera duduk di pinggir tempat tidur, sambil merenung apakah Pak tamu tadi malam itu kenyataan atau mimpi “Ya Allah, semua itu pasti hanya mimpi belaka. Aku kira Pak Ramli benar-benar datang ke sini,, padahal aku tahu beliau sudah meninggal” gumanku lirih dengan sedih. Tiba-tiba Vemy juga ikut bangun bersamaan dengan Leni, istriku yang datang ke kamar untuk membawakan segelas teh hangat untukku.
“Umi..!?, Vemy ingin minum susu hangat. Buatin ya!? “ucap Vemy anakku dengan manja seperti anak-anak pada umumnya sambil mengusap matanya dengan setengan mengantuk. “Bentar ya, Vemy cayang, biar dibuatin Umi dulu, ya!” jawab istriku sambil keluar kamar untuk menuju dapur. Saat aku sedang minum teh hangat buatan istriku. Tiba-tiba istriku berlari masuk kamar lagi, “Massss..!, kamu tadi dengar Vemy bicara minta dibuatin susu????” kata istriku dengan nada gemetar. "Aku tidak salah dengar, kan!?" tambah istriku lagi untuk meyakinkanku
Aku pun juga baru menyadari hal itu. Kami berdua tak kuasa menahan tangis. Jadi, Pak Ramli benar-benar datang tadi malam ke rumah dinasku. Hati dan pikiranku rasanya masih tidak percaya bahwa hal itu benar itu terjadi. Istriku segera menciumi anakku Vemy yang bingung dengan ayah dan ibunya. ”Alhamdulillah, Terimakasih Ya Allah, Engkau Maha segala, Maha pemurah dan Maha pengabul doa kami.”. Aku dan istriku segera bersujud syukur sambil terisak bersama karena rasa bahagia luar biasa.
TAMAT
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
