MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 1 (Insiden Udara)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 1 (Insiden Udara)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Suasana pagi hari yang masih berkabut di landasan Skadron tempur tempatnya berdinas, Hari yang akan selalu dikenang oleh Lettu Pnb. Novi Dwi “Ornate” dalam hidupnya.
Setelah apel pagi, dia sudah berkumpul di hangar untuk mengemban misi bertugas rutin Combat Air Patrol (CAP) yang rencananya akan menyusuri wilayah selatan Pulau Jawa. Belum juga sempat beristirahat setelah melakukan tes kesehatan rutin dan pemeriksaan tempur F-16 yang sering ditungganginya, Komandan Skadron tempatnya berdinas mendapat info masuk dari radar Kohanudnas pada pukul 08.00 bahwa ada pergerakan 3 pesawat tidak dikenal di laut utara pulau Jawa.
Dalam jarak 150 mil antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi dilaporkan ada 3 pesawat tak dikenal jenisnya melesat dari arah utara menuju wilayah selatan di wilayah kadaulatan Indonesia. Setelah dipastikan bahwa tidak ada clearance list atau izin pesawat asing yang masuk wilayah udara Indonesia pada hari dan pukul itu, tanpa menunggu lama ada 3 pesawat jenis F-16 yang diperintahkan untuk mencegat dan memastikan pesawat asing mana yang melanggar wilayah udara tanah air.
Mayor Pnb. Dedy “Lion” Pratomo sebagai Flight leader segera melakukan briefing (rapat kilat) untuk membatalkan patroli di wilayah selatan Pulau Jawa, melainkan mengatur strategi pencegatan di Laut utara Jawa. Dia dibantu dengan wingman pertama, Lettu.Pnb Novi “Ornate” Dwi dan wingman kedua Lettu. Pnb. Rendy “Viper” Tamtama. Setelah semua pesawat temput Fighting falcon F-16 dipersenjatai lengkap dengan senjata yang sesungguhnya, Mayor Dedy mengingatkan pada kedua wingman-nya ”This is not a drill !..Ingat ini bukan latihan!” dengan nada menghentak.
“Siap.!!.” serempak Lettu Novi”Ornate” dan Lettu Rendy “Viper” mejawab tegas penuh semangat. Segera melesatlah ketiga pesawat F-16 untuk melakukan penghadangan di udara dengan Estimated Time Arrival (ETA) 20 menit dari pangkalan di sebagai Home base pesawat tempurnya. Setelah berhasil mendekat dan bisa mendapatkan visual kondisi pesawat asing, ternyata ada 7 pesawat tak dikenal. 1 pesawat Hercules jenis terbaru, kemudian 3 pesawat jenis F-16 yang sama dan 3 pesawat tempur jenis F-18 Hornet.
“Correction..!..Correction..!, Negatif 3 pesawat tak dikenal. 7 pesawat ! Repeat ,..Positif 7 pesawat tak dikenal memasuki wilayah udara kedaulatan kita!” Mayor Dedy melapor ke Air Traffic Controller (ATC) di home base pangkalan. Mengetahui jenis pesawat yang memasuki wilayah udara Indonesia, Pangkalan segera memerintahkan 3 pesawat tempur jenis Sukhoi Su-35 yang berpangkalan di luar Pulau Jawa untuk membantu penyergapan 3 pesawat tempur F-16 yang sudah berangkat terlebih dahulu.
Pesawat tempur Sukhoi Su-35 mempunyai kemampuan terbang dan persenjataannya yang setara dengan F-18 Hornet. Komandan skadron Sukhoi Su-35 memberi tahu Mayor Dedy “ Lion” bahwa ETA (Estimated Time Arrival) pesawat Sukhoi Su-35 diperkirakan 20 menit untuk bergabung di udara membantu Tim F-16, dari Mayor Dedy "Lion". Mengetahui bahwa kekuatan sudah seimbang, Mayor Dedy “Lion’ mendekati pesawat tempur musuh dan berusaha untuk mendapatkan kontak Radio dengan the Leader F-18 Hornet yang bermesin ganda, namun hasilnya ternyata gagal.
Terbang beriringan begitu dekatnya dengan pesawat musuh, Mayor Dedy "Lion" berusaha sekali lagi untuk melakukan kontak dengan menggunakan gesture (gerakan tangan). Jawaban dari cara gesture mengisyaratkan, para pilot pesawat tak dikenal ingin mengatakan bahwa mereka tidak membawa senjata, namun Mayor Dedy “Lion” tidak sepenuhnya percaya karena terlihas jelas ada beberapa jenis rudal sidewinder (rudal air-to air atau air to ground) di kanan kiri pesawat. Juga moncong senapan otomatis Canon 35 milimeter terlihat jelas. Lettu Novi “Ornate” sebagai wingman berusaha tetap waspada menjaga keselamatan leadernya, Mayor Dedy “Lion’.
Demikian juga wingman kedua, Lettu Rendy, “Viper” yang juga waspada melihat manuver 3 pesawat jenis F-16 Fighting Falcon di sebelah kirinya dan 3 jenis F-18 Hornet bermesin ganda dengan persenjataan yang lengkap dan super canggih. Ke 6 pesawat tempur itu sedang mengawal satu penerbangan Pesawat angkut jenis militer, Hercules. Sementara itu belum bisa di konfirmasi dalam manifestasikan barang yang diangkut dan hal itu mencurigakan.
Karena tidak ada konfirmasi audio, maka Mayor Dedy “Lion” meminta semua pesawat tenpur asing untuk dikawal turun di pangkalan yang menuju arah bandara Kupang. Leader dari F-18 hornet negara lain memberi isyarat bahwa mereka menolak. Ketegangan segera bisa dirasakan oleh Lettu Novi ‘Ornate’ karena untuk pertama kalinya mengalami kasus pertempuran udara jika ada insiden benar-benar terjadi. Selama ini dirinya hanya berlatih di dekat pangkalan atau perang udara dengan menggunakan simulator.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Lettu Rendy “Viper”. Perasaan ketakutannya di udara membuatnya tidak bisa bernafas dengan teratur. Pikiran panik menguasai dirinya. Tapi dia tidak ingin Mayor Dedy ‘Lion’, komandannya dan Lettu, Novi “Ornate” mengetahui ketakutannya. Lettu Novi adalah teman masa SMA, juga saat menjadi Taruna Akademi Angkatan Udara (AAU).
Lettu Rendy “Viper’ sudah menganggap Lettu Novi “Ornate’ sebagai sodara sendiri. Rendy memahami, jika terjadi pertempuran udara F-16 dan F-18 Hornet, apalagi dengan jumlah yang tidak sebanding, pastilah kekalahan ada pada dirinya. Udara cerah dan sinar matahari yang mulai menyilaukan matanya membuat pikirannya semakin tidak tenang. Pakaian G-suit untuk pilot tempur yang dikenakannya serasa semakin menekan pembuluh darah di tubuhnya.
Mayor Dedy "Lion' sedang berfikir cepat dan keras mengapa pesawat yang awalnya terdeteksi ada 3 titik pesawat di Radar Kohadnunas menjadi 6 pesawat tempur,. Hal itu mungkin disebabkan oleh cara terbang pesawat musuh yang tidak berjajar ke samping, melainkan bertumpuk 3 atas-bawah dari jenis F-16 Fighting Falcon, dan juga dilakukan cara yang sama oleh 3 F-18 Hornet. Sehingga terbaca ada 2 pesawat di radar. Sedangkan satu pesawat lagi adalah Hercules.
Dari cara terbang pesawat negara asing itu, Mayor Dedy,"Lion" langsung menduga bahwa rombongan pesawat tempur F-16 dan F-18 Hornet itu pasti dalam misi rahasia dan tidak menunjukkan isyarat tunduk pada hukum dan aturan kedaulatan udara kita.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
