MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 12 (Lettu Pnb. Novi tertembak)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 12 (Lettu Pnb. Novi tertembak)
Oleh : E.A.Wahyudiono
“Kenalkan, Saya Novi. Teman satu angkatan saat SMA dengan mbak Risma” jawab Novi dengan agak canggung. “Maaf, adik ini siapa?" tambah Novi untuk menghilangkan rasa penasarannya. Mata Novi tidak bisa lepas dari keanggunan dan kecantikkan gadis berhijab yang berada di depannya.
“Maaf. Silakan masuk! “ jawab gadis itu tanpa menyebutkan namanya pada Novi sambil menyilakan duduk di kursi ruang tamu, Setiap malam Minggu selepas salat isyak, Novi sering berkunjung ke rumahnya Risma untuk memberi semangat agar bangkit dari rasa sedihnya karena kehilangan calon suaminya, Lettu Pnb. Rendy yang gugur dalam menjalankan misi penyergapan beberapa bulan yang lalu. Itu pun juga atas permintaan orang tua Risma yang menganggap Novi seperti anaknya sendiri.
“Maaf, sebentar, ya, Mas!” kata gadis tinggi langsing, bermata bola, dan berhidung mancung itu sambil masuk ke dalam rumah. Novi memegang dadanya. Dia merasa detak jantungnya berdegup tidak karuan. Untuk menenangkan diri, dia mulai mengatur pernafasannya. Belum juga selesai, gadis itu keluar sambil membawa secangkir teh dan kue di nampan. “Silakan diminum, Mas!. Maaf, biasanya bibi pembantu yang membuat teh jika ada tamu, tapi beliau saat ini tertidur kecapekan di kamar belakang. Jadi ini aku buatin, maaf jika kurang manis ya?” kata gadis itu dengan lemah lembut.
“Terimakasih!" jawab Novi sambil mencicipi kue dan minum sedikit di cangkir agar tidak mengecewakan si pembuatnya. “Kenalkan, nama saya Berliani. Keponakan dari ayah dan ibu Kak Risma.” Ujarnya sambil mengulurkan tangannya kepada Novi. Reflek Novi juga menyambut uluran tangan kuning langsat yang mungil dari Berliani. Setelah Novi bisa menguasai diri, dia pun segera bermanuver cepat, “Ah, saudara sepupu Risma, ya?! Saya kok nggak pernah ketemu jika datang ke sini?”.
“Saya tinggal di Kota Malang. Orang tua saya asli Madiun, tapi berdinas di Malang. Jadi sejak kecil bersekolah sampai lulus kuliah di Universitas Brawijaya. Saya ikut Bu Dhe di sini karena mendapat panggilan kerja sebagai Bidan di Rumah Sakit Soedono Madiun di sini” ucap gadis itu sambil sesekali tersenyum manis. Novi merasa bingung mau bertanya apalagi, hatinya terasa tertembak oleh tatapan mata bola gadis yang bernama Berliani itu. Sungguh cahaya kecantikkannya seperti batu mulia intan berlian. Cocok dengan namanya.
“Maaf, Mas, kerja di mana?” tanya gadis itu membuyarkan lamunan Novi. “Saya?..hemm..Saya pilot TNI AU.. “ belum juga selesai menjelaskan. Tiba-tiba, Berliani memotong, “Pilot?!..pesawat tempur?! Jadi, Mas ini temannya alamarhum Lettu Rendy?” Novi hanya mengangguk dan terdiam menunggu reaksi Berliani.
“Maaf, Saya kira, Mas tadi adalah kekasih mbak Risma” Berliani berujar lirih sambil memainkan gawai ditangannya. “Bukan,..saya bukan kekasihnya mbak Risma. Saya hanya temannya. Saya belum punya kekasih….Hemm, maksud saya, Risma sudah seperti adik saya sendiri.” Novi meralat ucapannya setengah gugup. Berliani mengamati Novi dan tersenyum melihat tingkah lakunya yang jadi canggung.
“Aduuh, kenapa aku bilang masih belum punya kekasih, rasanya seperti mempromosikan diri aja nih” hati dan pikiran Novi saling berbicara dalam dirinya. “Tapi, nggak papa, jika gadis ini belum ada yang punya, aku juga akan bersedia menjadi kekasihnya”. Novi segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir perang batin dalam dirinya. Berliani hanya mengamati polahnya sambil tersenyum.
Semenjak pertemuan di rumah itu. Novi sering berkunjung ke rumah Risma jika lepas dinas dan tugas. Hal itu untuk mengetahui dan mengenal lebih dalam tentang pribadi dan karakter Berliani, gadis yang telah menembak hatinya. Meskipun mereka sudah akrab, tapi Novi belum berani menyatakan perasaanya pada Berliani. Novi hanya menunggu waktu yang tepat saja.
Sementara keluarga Risma sepertinya sudah tahu karena setiap Novi datang, pasti yang menerima Berliani. Mereka terlihat sangat menyetujui Novi dan Berliani yang sedang dalam taraf penedekatan. Keluarga Risma sudah mengenal karakter dan sifat Novi. Sampai pada satu malam Minggu, saat Novi sedang bekunjung dan menikmati hidangan di teras rumah orang tua Risma, Mama Risma ikut menemani. Tiba-tiba ada pertanyaan dari beliau yang mengagetkan Novi, “Maaf, Nak Novi sudah punya pacar nih?” Dengan gelagapan Novi menjawab,”Maaf, Ibu, saya tidak punya pacar dan tidak akan mencari pacar!”
Novi sendiri juga kaget mendengar mulutnya berkata seperti itu. “Maksud saya,..hemm..saya ingin langsung mencari calon istri saja, Ibu” tambah Novi setengah meralat ucapannya. Mama Risma tersenyum dan menggoda lagi, “Emang sudah punya calon istri?’"Lagi-lagi Novi grogi juga jadinya dan menjawab sekenanya. “Sudah, Ibu”.
Berliani yang mendengarkan percakapan antara Budhenya dan Lettu Novi, cowok yang disukainya itu mendadak wajhnya menjadi sedih dan pucat. Mama Risma juga terlihat lebih kaget lagi mendengar jawaban Novi. Wajahnya sedikit berubah, namun dia berusaha tersenyum, “Maaf, mengganggu kalian berdua nih, Bu dhe masuk dulu ya!?” kata Mama Risma sambil melirik Berliani.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
