MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 13 (Lettu Pnb. Novi menikah)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 13 (Lettu Pnb. Novi menikah)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah, budhenya masuk ke dalam rumah, tak berapa lama sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Ternyata Pak dhe dan Risma keluar dari mobil sambil membawa barang belanjaan untuk makan malam. “Wah, ada tamu nih. Sudah lama, Nak Novi?” sapa Ayah Risma sambil menyalami Novi yang sedang duduk berdua dengan Berlian di kursi teras.
“Baru tiga puluh menitan, Pak!” jawb Novi pada orangtua Risma yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri. Risma segera ikut bergabung duduk bersama mereka berdua. “Novi, gimana kabar nih?, mana oleh-oleh setelah bertugas dari Thailand?” kata Risma membuka pembicaraan karena melihat Novi dan Berlian, sodara sepupunya yang terlihat canggung semua.
“Wah, tahu aja nih. Alhamdulillah, sehat semua nih. Alhamdulillah, emang saya bawain nih” kata Novi sambil membuka tas ranselnya kemudian mengeluarkan empat kaos cantik bertuliskan Thailand untuk Risma. “Silakan dipilih sendiri ya! Semua dapat satu, pak dhe, bu dhe termasuk Berlian juga nih”. Senyuman dan teriakan gembira keluar dari bibir Risma dan segera membawanya masuk ke dalam rumah.
Novi ikut tertawa melihat keceriaan Risma. Semenjak calon suaminya, Lettu Pnb. Rendy gugur dalam tugas, Risma menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Dalam beberapa kesempatan, Risma sudah mengatakan bahwa hanya ada satu pria dalam hidupnya, yaitu Lettu Rendy. Makanya Risma sangat mendukung saat Lettu Pnb. Novi mulai mendekati Berliani. “Semoga mereka berdua berjodoh dan bahagia” itulah doa Risma saat melihat kedekatan Novi dan sodara sepupunya.
Novi yang melihat berliani duduk menunduk dan terdiam, akhirnya mencoba mengajaknya bercakap-cakap tapi respon Berliani hanya tersenyum dan menunduk berbeda dengan hari biasanya yang selalu ceria. “Kok, jadi pendiam? Adakah kalimat saya yang salah nih? Maaf ya.!” Ucap Novi sambil mengamati reaksi Berliani. “Mas, Novi gak salah nih. Kok minta maaf” balas Berliani pelan yang kali ini melihat wajah Novi yang tampan itu.
Hati Novi sekali lagi berdegup. Dia hanya mampu diam terpaku menatap mata Berliani untuk mencari jawaban atas kegalauan hatinya. “Saya yang harusnya minta maaf pada Mas Novi. Khan Mas Novi mau menikah!? Saya takut calon istri Mas Novi cemburu nantinya gara-gara saya” tambah Berliani setengah ragu. Novi yang mendengar kalimat Berliani sontak tertawa dan berusaha menjelaskan. “Siapa juga yang cemburu? Dijamin tidak ada tuh..!”
“Lho, katanya sudah punya calon istri waktu ditanya Bu dhe tadi?” tanya Berliani setengah memastikan. “Iya sih, kalau pacar nggak punya, kalau calon istri ada sih! Ini, orangnya sedang duduk di depan saya ini. Cuma belum saya tanya, mau apa tidak dengan saya?" goda Novi dengan menggunakan umpan manuver militernya. Berliani yang mendengar pernyataan Novi masih tidak percaya. Ternyata cowok yang membuat hatinya luluh pada pandangan pertamanya meminta jawaban kepastian darinya dengan pertanyaan gaya militernya yang kaku.
Akhirnya, Berliani menatap mata Novi dan menjawab lirih, “Maaf, Mas,..Saya tidak bersedia menjadi pacarmu....” sambil menghentikan kalimatnya. Novi yang mendengar jawaban Berliani seperti itu, terasa hilang semua tulang dalam tubuhnya. “….Namun, saya hanya mau dan bersedia menjadi istrimu. Pacarannya setelah menikah saja” Berliani menutup kalimatnya dengan menundukkan kepalanya melihat lantai keramik yang warna putih di depannya.
Tanpa menunggu, Novi segera memegang tangan mungil Berliani, “Benar mau!!? Alhamdulillah, Ya Allah!” kata Novi dengan nada bersyukur karena cintanya bersambut. Berliani mendongakan wajahnya dan mengangguk sambil tersenyum malu. Kebahagiaan mereka sedikit terganggu saat Mama Risma keluar dan meminta mereka bergabung untuk makan malam bersama keluarga. Sebenarnya, Risma dan mamanya sempat mendengar pembicaraan Novi dan Berliani dari balik pintu sebelum memanggil mereka berdua. Mereka merasa sangat bahagia mengetahui hal itu.
Hari-hari berikutnya, Novi dan Berliani lebih banyak menghabiskan waktu untuk menata masa depannya. Bahkan, orang tua Novi juga sudah melamar pada kedua orang tuanya di Malang. Semua restu sudah di dapat, tinggal persiapan untuk resepsi pernikahan. Mayor Dedy dan Dokter Linda juga demikian sudah memproses lamaran dan tanggal pernikahannya. Semua saling tahu.dan sesekali mereka berempat jalan-jalan ke Telaga Sarangan di Magetan di akhir weekend.
Sesuai tradisi militer, mereka berempat sudah menghadap Komandan Pangkalan Udara tempat mereka berdinas untuk mendapat izin lisan dan tertulis serta sudah melalui tahap screening bahwa semua keluarga mereka benar-benar setia pada NKRI dan bebas dari kegiatan atau terlibat narkoba serta organisasi terlarang. Sungguh kebahagiaan serasa milik mereka berempat di bulan-bulan berikutnya.
Ternyata, hari pernikahan Lettu Pnb. Novi dan Berliani lebih cepat ditentukan oleh kedua orang tua mereka masing-masing sesuai perhitungan adat Jawa. Sedangkan Mayor Pnb. Dedy dan Kapten CKM dr. Linda jatuh tiga bulan lagi setelah prosesi pernikahan Lettu Pnb. Novi. Semua menyambut gembira dan hadir pada perhelatan pernikahan mereka. Mayor Pnb. Dedy bersedia menjadi saksi, sedangkan Letda Pnb Rio yang masih kursus konversi pilot tempur untuk pesawat Hawk juga menyempatkan hadir bersama Fahira, kekasihnya. Semua Perwira mengikuti prosesi pedang pora dalam prosesi pernikahan,
Sebagai anggota militer, rasanya tidak ada acara honeymoon atau bulan madu bagi Lettu Pnb. Novi dan berliani. Cuti menikah hanya diberikan sepekan bagi mereka berdua karena sudah ada jadwal penugasan latihan terbang malam untuk para pilot di Skadron Udara di Pangkalan. Berliani sudah bisa memahami dan menerima resiko menjadi istri seorang pilot tempur. Dia hanya sering mendoakan keselamatan suaminya setelah salatnya. Hampir setiap malam, Lettu Pnb. Novi menghabiskan waktunya secara intensif di pangkalan udara TNI AU.
Setelah dua pekan berlatih setiap hari terbang malam dengan pesawat tempur F-16 nya, datanglah tugas atau misi rahasia untuk Letkol Pnb. Yudha “Wolf”, Mayor Pnb. Dedy “Lion” dan Lettu Pnb., Novi “Ornate”. Misi yang yang akan mempertaruhkan nyawa mereka bertiga dalam penerbangan malam di wilayah Indonesia bagian timur. Sebagai prajurit dan pilot pesawat tempur, mereka semua hanya siap mati atau berhasil untuk menjalankan misi yang berbahaya itu
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
