MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 3 (Stall pada Viper)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 3 (Stall pada “Viper”)
Oleh : E.A.Wahyudiono
“Ornate..!!, Kembali ke formasi ASAP (as soon as possible) !”, perintah Mayor Dedy sambil tetap membidik dan mengejar F-16 negara asing yang berani melintas. Lettu Novi “Ornate” sebagai Wingman, pilot pengawal leadernya, segera menambah kecepatan pesawatnya sambil bermanuver dari kanan dan kembali untuk menjaga Pesawat F-16 leadernya dari sergapan pesawat musuh di belakangnya.
“Viper..!, back to formation..!” suara jelas perintah dari Mayor Dedy pada “Viper” tidak terdengar jelas oleh Lettu Rendy dengan call sign “Viper’. Perasaan gugup dan takutnya membuat tekanan dan peredaran darahnya menjadi tidak stabil. Pernapasannya naik turun dengan cepat. Karena panic, Lettu Rendy “Viper’ justru semakin mendekati pesawat angkut militer Hercules milik negara asing yang belum melaporkan manifestasi muatannya
Mengetahui itu, salah satu pesawat F-18 Hornet negara asing itu mengawalnya segera lepas dari kawalan Mayor Ryan “Maverick’ dan segera memburu pesawat tempur F-16 Lettu Rendy “Viper”. “Viper..!!, ada Hornet di belakangmu..!” teriak Lettu Novi pada Lettu Rendy. “Dari arah pukul 11..!”. tambahnya lagi. Lettu Rendy, mencoba mencari posisi musuh yang mengejarnya. Begitu mendengar info dari Lettu Novi, itu artinya pesawat F-18 Hornet sudah ada di belakangnya.
Tidak mau dijadikan sasaran rudal sidewinder pencari panas udara ke udara pada pesawatnya, Lettu Rendy segera bermanuver ke kanan masuk pada rombongan formasi F-18 Hornet negara asing yang telah memasuki wilayah Indonesia tanpa izin. Kali ini Lettu Rendy ‘Viper’ membuat kesalahan karena pikirannya kurang tenang akibat hormon adrenalin yang memacu jantungnya.
Mayor Ryan ‘Maaverick’ yang mengetahui hal itu segera memburu F-18 Hornet lawan di belakang F-16 Lettu Rendy. “Jika aku jatuh, salah satu dari F-18 Hornet di depanku di dalam formasi harus ikut juga” guman Lettu Rendy “Viper’. Dia meminta izin pada Mayor Dedy untuk menembakkan rudalnya saat radar di pesawatnya sudah mengunci satu pesawat F-18 Hornet lainnya. Rendy tidak mau dia ditembak terlebih dulu oleh lawan.
“Negative,,Negative..!’’ perintah penolakan dari Mayor Dedy pada Lettu Rendy. Mayor Dedy selaku komandan tim merasakan nada ketakutan di dalam nada suara Lettu Rendy ‘Viper’. Selama belum ada perintah dari pangkalan pusat. Dia tidak berani melakukan insiden dengan menembak pesawat musuh terlebih dahulu karena akan menjadi isniden Internasional dan memicu perang.
Suasana semakin menegangkan. Mayor Ryan di dalam kokpit Sukhoi Su-35 nya juga siap menembak F-18 Hornet yang ada di belakang F-16 Lettu Rendy. Dia sendiri juga sedang menunggu perintah dari pangkalan pusat. Minimal pesawat musuh menembakkan rudalnya terlebih dahulu, baru hal itu bisa langsung dog fight. Dia sudah siap untuk memberi aba-aba pada Lettu Rendy dalam hitungan ketiga untuk bermanuver turun ke kiri agar bisa langsung meluncurkan rudal atau misilnya.
Mayor Ryan ‘Maverick’ tidak ingin ada kejadian saat dia menekan tombol peluncuran rudal dari Sukhoi Su-35 nya justru mengarah pada pesawat F-16 Lettu Rendy ‘Viper”. Kasus semacam itu sering terjadi dalam perang. Istilah itu disebut Friendly Fire yaitu insiden yang menggambarkan satu tim teman saling menembak karena salah perhitungan. Kecepatan reaksi sebagai pilot pesawat tempur dalam memutuskan dalam sepersekian detik adalah hal yang sangat menentukan menang kalahnya dalam dog fight.
Dikarenakan manuver pesawat Lettu Rendy ‘Viper” yang salah, posisinya sekarang justru berada sangat dekat di belakang pesawat F-18 Hornet negara asing. Agar tidak terlalu dekat, pilot pesawat F-18 Hornet yang berada di depan F-16 Lettu Rendy, segera menekan tombol supersonic button (perubahan kecepatan dari march 2 ke march 3) pesawat melebihi kecepatan suara dan melesat cepat untuk menghindar menjauh dari pesawat F-16 Lettu Rendy “Viper’
Dampaknya terjadi stall pada pesawat F-16 Lettu Rendy’Viper. Suara instrumen di dalam kokpit F-16 nya berbunyi riuh “Stall…stall..stall..!”. Pesawat F-16 Lettu Rendy’ Viper’ sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Lettu Novi “Ornate’ melihat pesawat F-16 yang ditunggangi temannya itu berputar-putar masuk dalam spin dan meluncur jatuh dengan cepat karena stall.
Stall atau spin adalah istilah yang menggambarkan pesawat sudah tidak ada daya angkat lagi dan jatuh berputar dengan penyebab yang bervariasi. Namun dalam kasus ini karena adanya tekanan udara dari supersonic boom pesawat F-18 Hornet di depan pesawat F-16 Lettu Rendy.
“Viper..!..eject,! ..eject..!” Teriak Mayor Dedy selaku leader dalam melakukan intercept (pencegatan pesawat musuh) dalam tugas kali ini dan memerintahkan Lettu Rendy “Viper’ untuk menekan tombol kursi pelontar di kokpitnya. Namun tidak ada respon dari F-16 Lettu Rendy. Sebagai teman, Lettu Novi ‘Ornate’ mengetahui bahwa bisa jadi Lettu Rendy "Viper" menjadi pingsan karena gravitasi sehingga semua darahnya menjadi tertekan menuju ke otak secara mendadak dan hal itu mengakibatkan pilot kehilangan kesadaran.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
