MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 5 (Pemakaman Militer Kapten Anumerta Rendy)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 5 (Pemakaman Militer Kapten Anumerta Rendy)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Seperti yang sudah diduga oleh Letda.Tek Purwo Rio Adi, Risma pasti belum mengetahui kabar duka gugurnya Lettu Pnb. Rendy Tamtama dalam tugas tempurnya. Begitu Rio memasuki kantor Bank terbesar di Madiun itu, Risma langsung mengenalinya. “Rio..!, “ teriaknya sambil melambaikan tangannya sambil mendekat.
“Ada urusan apa nih ke sini? Mau membuka rekening ya? Ayo aku bantu!” sapa Risma dengan tersenyum cantik. “Kak Risma, ada tempat untuk bicara empat mata!?” kata Rio lirih agar tidak ada pegawai Bank lainnya yang berada di situ bisa mendengar kalimatnya.
Rio melihat bahwa Risma belum menyadari berita duka yang dibawa dan akan disampaikan padanya. Masih dengan ramah mengajak Rio berbicara tentang kabar dan pekerjaan. Rio adalah adik kelasnya sewaktu di SMA dan sekarang juga berdinas di pangkalan udara militer yang sama dengan kekasihnya, Lettu Pnb Rendy Tamtama setelah lulus dari Akademi Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta.
“Eh, bagaimana kabar Mas Rendy?, Sehat kan? Ini bocoran ya, minggu depan, keluarga Mas Rendy mau lamaran ke rumah. Kamu dengan Lettu Novi hadir ya?!” kata si cantik, Risma. Rio sudah tidak dapat menahan emosi sedih dan perasaannya mendengar hal itu. “Maaf, Mbak, kedatangan saya ke sini untuk menyampaikan kabar duka. Mas Rendy Tamtama gugur dalam tugas” ujar Rio sambil menahan air mata agar tidak jatuh di depan Risma.
Mendengar kalimat Rio, Risma menjadi terdiam dan menatap Rio dengan wajah menebak apakah berita itu bercanda atau berita yang benar. Mengamati wajah Rio yang sedih dengan mata berkaca-kaca, sontak Risma berdiri dari kursi di ruang tamu di dalam kantor Bank tempat dia bekerja.
Namun, pandangannya menjadi gelap dan pingsan. Rio bertindak cekatan dengan menangkap tubuh Risma sebelum jatuh ke lantai. Beberapa karyawan dan karyawati bergegas ikut menolong dengan membawanya ke ruang istirahat di kantor belakang agar tidak mengganggu layanan nasabah Bank. Para karyawan bank segera mengetahui bahwa calon suami Risma telah gugur dalam tugas. Mereka berusaha menenangkan Risma yang sudah sedikit siuman namun masih syok dan menangis tersedu.
“Mbak Risma, tolong yang ikhlas dan tabah ya..! Mohon didoakan untuk alamarhum Lettu Rendy. Nanti saya kabari untuk pemakamannya setelah tim SAR (Search and Rescue) berhasil mengevakuasi jenazahnya..” kata Rio sambil memegang tangan kekasih dari seniornya yang telah gugur itu. Risma hanya menganggukkan kepalanya karena masih menahan kepedihan atas musibah yang menimpa calon suami.
“Mohon izin, saya kembali ke pangkalan. Mohon dibantu untuk mengantar Mbak Risma ke rumahnya ya?!” kata Rio pada beberapa karyawan dan karyawati Bank. “Insyaallah, Mas..!, kita semua turut berduka.. Siap, nanti kami antar bersama” jawab salah satu karyawati yang masih memeluk Risma sambil memberikan bau minyak kayu putih pada hidung Risma agar segera pulih dari perasaan syoknya.
Selama perjalanan dari Bank menuju pangkalan, Rio mendapat informasi dari skadron udara bahwa jenazah almarhum Lettu Pnb Rendy Tamtama sudah bisa diketemukan dikoordinat yang di dapat dan dari sinyal transporder blackbox pesawatnya yang jatuh di laut dan ternyata masih bisa mengirimkan sinyal pada RSD (Radio Signal Detector) di pangkalan.
Rio jadi teringat akan cita-citanya sendiri. Rencananya, pada awal tahun ini, dia juga akan mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi calon penerbang tempur. Jika lolos, itu artinya dia harus mengikuti pendidikan di Sekolah Penerbang (Sekbang) seperti seniornya. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk meneruskan jejak seniornya yaitu Lettu Pnb. Rendy Tamtama dan Lettu Pnb. Novi Dwi.
Namun ada sedikit keraguan pada dirinya. Apakah keputusannya akan disetujui oleh Fahira Meutia, kekasihnya yang saat ini sedang menempuh studi Fisipol Universitas Gajah Mada, Yogyakarta atau tidak. Akan tetapi Rio sudah membulatkan tekadnya, jika tidak dizinkan, dia akan tetap mendaftar menjadi pilot tempur tahun depan. Rio sudah menghubungi Fahira agar bisa datang di acara pemakaman Lettu Rendy yang gugur dalam tugas.
Keesokan harinya, persiapan untuk pemakaman secara militer sudah terlihat di hangar pangkalan. Jenazah sudah disucikan dan siap untuk prosesi. Sesuai tradisi militer, Jenazah diletakkan di hangar pesawat dan dijaga oleh Paskhas yang bertugas. Orang tua Rendy juga sudah hadir. Beberapa perwira tinggi, perwira menengah yang ada di pangkalan satu-persatu mulai berdatangan.
Sesuai protokoler militer, beberapa perwira dari para pilot dengan seragam PDU (Pakaian Dinas Upacara) bergantian mengangkat peti jenazah Lettu Rendy Tamtama untuk dimakamkan di taman makam pahlawan dengan tata cara militer. “Karena almarhum gugur dalam tugas, maka dengan ini, almarhum Lettu Pnb. Rendy Tamtama dinaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi menjadi Kapten Anumerta Rendy Tamtama….”. Kata komandan skadron udara dalam sambutannya.
Risma yang berdiri dan mengenakan kacamata hitam untuk menutupi sembab di matanya, berusaha tetap tegar. Risma didampingi oleh Fahira, kekasih Letda Tek Purwo Rio. Mereka sudah kenal satu sama lain, karena semasa menjadi Taruna AAU, mereka selalu berkumpul di Magetan bersama dengan kekasihnya saat ada cuti dari pendidikan militernya. Hanya Mayor Pnb.Dedy Pratomo dan Lettu Pnb. Novi Dwi yang belum mempunyai kekasih sampai sekarang. Jika ditanya, mereka selalu menjawab bahwa kekasih mereka adalah pesawat tempurnya.
“Dor..!, Dor!...Dor!”, terdengar tembakan salvo ke udara keluar dari senjata laras panjang untuk penghormatan yang terakhir sebelum jenazah Kapten Anumerta Rendy Tamtama dimasukkan ke liang lahat. “Selamat jalan kekasih..! Aku akan selalu mendoakanmu selalu..! Kau gugur sebagai kusuma bangsa, Insyaallah, surga Allah SWT telah menantimu..!” bisik Risma lirih dan airmatanya menetes pelan turun melewati kacamata hitam yang dikenakannya. Fahira selalu memegangi pundak Risma agar tetap tabah sampai prosesi pemakaman militer berakhir.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
