MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 6 ( Menjodohkan Mayor Dedy)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 6 ( Menjodohkan Mayor Dedy )
Oleh : E.A.Wahyudiono
Setelah prosesi pemakaman militer usai di Taman Makam Pahlawan, Mayor Pnb. Dedy Pratomo dan Lettu Pnb. Novi Dwi, segera bergabung dengan Risma yang masih dipapah oleh kedua orang tua dan sahabatnya, Fahira Meutia. Tak lama kemudian, Letda Tek Purwo Rio menyusul bergabung untuk memberikan dukungan moral kepada Risma agar selalu ikhlas dan tabah atas gugurnya Kapten Anumerta Rendy, kekasihnya.
“Terimakasih semuanya, mohon dimaafkan atas segala kesalahan Mas Rendy, khususnya pada Bang Dedy dan Mas Novi yang selalu setia menjadi sahabat dalam suka dan duka selama ini..!” ucap Risma lirih dan terbata-bata pada senior dan teman satu angkatan saat masa SMAnya dulu di SMA 1 Magetan.
“Insyaallah, kita doakan bersama dan almarhum Rendy digolongkan yang husnul khatimah..!’ jawab Mayor Dedy Pratomo selaku senior dan sudah dianggap kakak oleh semua yang hadir di situ. Letda Rio dan Fahira, kekasihnya hanya saling berpandangan melihat pemandangan yang memilukan hati mereka berdua.
“Mas, kelak kamu apa masih tetap mendaftarkan diri untuk menjadi pilot pesawat tempur?’ bisik Fahira pada Rio dengan nada cemas. Rio memandangi wajah kekasihnya yang terlihat khawatir dengan adanya kejadian yang menimpa seniornya, Rendy. “Insyaallah, Iya..Siap mendaftar dan mengikuti tes” bisik Rio juga agar tidak mengganggu suasana duka yang masih menyelimuti semua rombongan yang berjalan kembali ke mobil masing-masing.
Fahira hanya terdiam dan tertunduk. Dia menyadari bahwa saat bersedia menjadi kekasih Rio, dia paham betul akan konsekuensinya. Saling mengenal mereka dimulai saat Rio masih menjadi Taruna AAU tingkat 3. Fahira tidak berani melarang atau mendorong Rio untuk menjadi Pilot. Semua itu adalah panggilan hatinya. Saat ini, dia hanya fokus menyelesaikan studinya di Universitas Gajah Mada dan menjadi dosen seperti cita-citanya. "Mas, aku menemani mbak Risma pulang ya?!" kata Fahira meminta izin pada Letda Rio sambil menahan kegalauan hatinya.
Saat semua sudah berada di samping mobil masing-masing sambil menunggu Risma yang ditemani Fahira dan ayah ibunya masuk untuk pulang terlebih dahulu. Mayor Dedy dan Lettu Novi yang membantu Risma. “Nanti saat 7 harinya, insyaallah, saya akan datang ke rumah ikut tahlilan ya!” kata Lettu Novi Dwi pada Risma yang terlihat hanya menganggukkan kepalanya. Letda Purwo Rio hanya diam mematung memperhatikan Fahira yang terlihat lesu. Semua tamu sudah meninggalkan makam yang mulai berangsur sepi.
Rombongan 3 mobil dinas TNI-AU, keluar dari areal Taman Makam Pahlawan dan mereka sepakat untuk makan siang di Restoran depan Rumah sakit Pangkalan. Tengah menikmati hidangan, tiba-tiba, seorang wanita cantik yang berambut sebahu dengan Pangkat Kapten, juga masuk restoran dan mendekati mereka. Lettu Novi dan Letda Rio secara reflek berdiri untuk memberi hormat. Setelah dibalas, Kapten Wara itu menoleh pada Mayor Dedy dan memberi hormat karena secara hirarki kepangkatan yang tertinggi di situ adalah Mayor.
Begitu selesai, Letda Rio segera mendekat dan memeluk Kapten Wara yang cantik itu. Semua terbengong melihat adegan itu. Belum sempat mereka bertanya, Rio segera mengenalkan. “Mohon izin untuk mengenalkan kakak saya, Kapten CKM, dr. Linda Purwati.”. Ternyata semua baru tahu, jika kakak kandung Rio ternyata seorang dokter. Selepas lulus kuliah dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, dia segera mendaftarkan diri sebagai PK (Perwira Karir) di militer dengan penempatan sebagai dokter militer di Rumah Sakit TNI-AU .
“Rio, kamu ini, punya kakak yang menjadi perwira dan dinas di pangkalan yang sama, kok nggak pernah cerita nih pada saya..!” kata Mayor Dedy Pratomo pada Letda Rio. “Siap, salah!” Letda Rio menjawab dengan sikap sempurna seperti halnya sikap dalam militer. Semua tersenyum karena hal itu. “Sudah, karena kamu salah, besuk kamu piket di pangkalan selama seminggu dan jangan minta ganti ya?!” goda Mayor Dedy pada Rio.
Lettu Novi hanya tersenyum melihat keakraban di antara mereka semua dan sedikit bisa melupakan kesedihan atas kehilangan satu teman akrabnya sesama penerbang. Apalagi saat melihat ,Mayor Dedy yang terlihat antusias berdiskusi dan bercanda dengan Kapten CKM, dr. Linda yang memang tampak rupawan. “Ahh, masih single, nih!?” Lettu Novi, sedikit mendengar Mayor Dedy bersuara agak keras sambil tersenyum. Dia segera menarik juniornya, Letda Rio dan berbisik, “Kakakmu sudah punya calon belum?” Rio menatap Lettu Novi dan segera berbisik, “Belum senior,..emang kenapa?”
Lettu Novi berbisik lagi di telinga Letda Rio, “Ssst, ayo kita jodohkan, Mayor Dedy dengan kakakmu tuh, Kapten CKM dr. Linda..” Belum juga Rio menjawab, tiba-tiba Mayor Dedy melihat mereka berdua yang saling berbisik segera merespon. ‘Hai, kalian berdua saling berbisik, Ada apa nih? Ayo bilang ke saya yang keras. Awas kalau nggak jujur ya!”
Lettu Novi segera mendekat ke Mayor Dedy, dan mohon izin untuk mengatakannya dengan berbisik. Tiba-tiba,Mayor Dedy, menatap Rio, juga menatap Lettu Novi dan terakhir ke Kapten CKM dr. Linda. Wajahnya berubah, “Kamu berdua ada saja. Sekarang ikut saya ke pangkalan. Ada tugas untukmu” perintah Mayor Dedy dengan tersenyum. Sementara Kapten CKM, dr. Linda masih bengong melihat Lettu Novi dan Letda Rio tersenyum yang ditahan sambil melihat dirinya.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
