MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 7 (Tahlil di Rumah Duka)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 7 (Tahlil di Rumah Duka)
Oleh : E.A.Wahyudiono
“Tracking..tracking…tracking…!” teriak Lettu Pnb. Novi “Ornate” dengan keras. Jari tangannya tinggal menarik picu senjata Canon 35-39 di Gun Bay F-16 tugangannya saat F-18 Hornet negara asing sudah berada di Range yang ada di canopy (kaca kokpit) saat mereka melintas tanpa izin di wilayah NKRI.
Belum juga picu ditekan, tiba-tiba bahunya tergoncang keras dan itu membuat matanya terbuka. Rupanya Mayor Dedy berusaha membangunkan dirinya saat bermimpi dalam tidurnya di pertengahan malam dengan udara dingin dan sejuk karena masih turun gerimis kecil.
“Maaf, Mayor,..Saya bermimpi saat tidur tadi” kata Lettu Novi Dwi sambil duduk di pinggir tempat tidurnya setelah tahu terntata seniornya yang membangunkannya. Mayor Dedy dan Lettu Novi dengan status mereka yang masih bujang, berhak mendapatkan fasilitas untuk tinggal di Mess Penerbang di Pangkalan Udara. Banyak pilot dari semua jenis pesawat yang juga tinggal di situ sampai mereka pindah setelah berkeluarga.
“Iya, kamu tadi berteriak seperti sedang membidik pesawat lawan dalam dog fight. Masih terbayang saat melawan F-18 Hornet ya?” tanya Mayor Dedy setengah menebak. “Sudah, ayo bangun dan ngopi dulu di teras sambil menghirup udara segar malam-malam seperti ini” ajak Mayor Dedy untuk menenangkan Lettu Novi, juniornya. Masalah trauma seperti itu harus segera diselesaikan karena bisa menyangkut kondisi kejiwaan dan sangat berbahaya bagi seorang pilot tempur.
Setelah kejadian tugas penyergapan di atas Laut Jawa beberapa hari lalu dan mengakibatkan satu wingmannya, Alm, Kapten Anumerta Rendy gugur, semua pilot tidak ada yang membahasnya karena itu menyangkut hal yang berkaitan dengan politik. Kenapa mereka tidak boleh menembak dan juga pernyataan pribadi lainnya harus disimpan rapat. Sebagai anggota militer, mereka semua harus bisa menjaga rahasia negara di atas sumpah sebagai prajurit.
Selama di skadron udara, rutinitas pekerjaan yang mereka lakukan sehari-hari setelah insiden penyergapan itu hanya membahas secara teknis kenapa pesawat F-16 dari Lettu Pnb Rendy, bisa Stall dan masuk Spin. Hal itu diuraikan agar tidak terjadi lagi kasus serupa di dalam penugasan di masa mendatang. Juga diisi kegiatan menyapu serta membersihkan landasan pacu pesawat tempur dari adanya logam kecil yang bisa membahayakan pesawat tempur saat landing dan taking off.
“Besuk malam genap tujuh hari gugurnya Rendy, ayo kita berdua ikut tahlilan di rumahnya. Ajak Rio dan Risma ke sana ya?” kata Mayor Dedy mengingatkan. “Pulihkan kondisi, semangat tempur dan staminamu. Tetap fokus pada kelancaran penugasan ya!, Jika tidak ada perubahan akan ada penugasan latihan tempur bersama dengan negara sahabat untuk skadron udara kita di Thailand 2 minggu lagi. Jangan kecewakan saya ya!?" kata Mayor Dedy lagi pada Novi.
Lettu Novi, sangat senang mendapat kepercayaan dari leadernya. Apalagi dipercaya dan dikirim tugas berlatih tempur udara di Tahiland. “Siap, Senior.! Terimakasih” jawab Lettu Novi. Mereka meskipun tidak berpakaian dinas, namun selalu saling memberikan respek dan support. “Sudah, ayo diminum, kopimu. Keburu dingin ntar!” Mayor Dedy mengingatkan Lettu Novi. Setelah itu mereka terlibat diskusi santai sambil sesekali tertawa.
Keesokkan malamnya, Mayor Dedy yang datang pertama dengan kendaran dinas TNI-AU miliknya ke rumah duka Almarhum Kapten anumerta Rendy, tapi dia tidak menemukan dan melihat kehadiran Lettu Novi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena ada mobil pribadi yang berhenti dan terlihatlah Lettu Novi sedang turun dari menjemput Risma yang masih ditemani sahabatnya yang setia, Fahira Meutia, kekasih Letda Purwo Rio. Mereka disilakan masuk ke dalam rumah langsung. Sedangkan Risma masih tampak bersedih dan itu terlihat jelas pada raut wajah dan matanya.
Acara tahlil dan kirim doa belum dimulai. Semua yang hadir sudah duduk di kursi di bawah terop yang terpasang. Mereka yang hadir dari masyarakat sekitar dan warga pangkalan menjaga untuk berbicara pelan agar tidak mengganggu suasana khusyuk di acara selamatan. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil militer jenis sedan dengan plat nomor Mabes TNI-AU dengan simbol bintang tiga di pelat nomornya muncul. Mobil itu berhenti di jalan masuk sebelum rumah duka. Semua yang hadir segera berdiri untuk melihat siapa tamu yang datang.
Mayor Dedy dan Lettu Novi, segera sadar bahwa mobil itu milik seorang PATI TNI AU (Perwira Tinggi) yang berdinas di Jakarta. Mereka berdua segera menyambut meskipun belum tahu siapa yang hadir di acara tahlilan itu. Pintu mobil terbuka dan keluarlah Letda Purwo Rio dan kakaknya, Kapten CKM, dr. Linda. Mereka berdua tidak mengenakan seragam militer melainkan baju gamis dan baju koko serta kopiah hitam pada Rio.
Seorang sopir yang juga ajudan militer, segera turun dan membuka pintu mobil. Terlihat seseorang dengan mengenakan baju batik keluar dari mobil yang juga di dampingi istrinya. Mayor Dedy dan Lettu Novi begitu melihat beliau, reflek memberi hormat militer. Mereka berdua tahu, beliau adalah seorang Marsekal atau Jenderal bintang tiga yang dulunya juga seorang pilot tempur yang handal, pemberani dan menginspirasi.
Setelah dibalas, beliau menyalami Mayor Dedy dan Lettu Novi. Sambil tersenyum, Mayor Dedy melirik dr, Linda yang tampak cantik dengan baju gamis yang dikenakannya. Dia segera tersenyum dan menyapanya. "Assalamulaikum, bu dokter". Setelah dijawab dengan ramah oleh dr. Linda dan belum juga mereka saling berbicara, Letda Rio yang dibelakang kakaknya sedikit mengganggu mereka dan segera memberi hormat pada Mayor Dedy. "Izin, Senior, mengantar paman dan kakak ke dalam rumah duka dulu"
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
