Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 8  (Elang Thailand-Indonesia)
dok.pri.ornate

MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 8 (Elang Thailand-Indonesia)

MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 8 (Elang Thailand-Indonesia)

Oleh : E.A.Wahyudiono

“Waduh, ternyata beliau Perwira tinggi Jenderal bintang tiga yang berdinas di Mabes TNI AU Jakarta itu adalah paman dari Kapten CKM dr. Linda Purwati dan juga Letda Tek Purwo Rio!?” bisik Lettu Pnb. Novi pada leadernya. Untuk menjaga wibawa, Mayor Dedy pura-pura tidak penasaran dan hanya mengangguk saja.

Mayor Dedy sangat mengenal sosok Marsekal Madya TNI AU. Paman Rio adalah pilot tempur yang handal dan sangat disegani baik kawan maupun lawan. Selepas pendidikan Akabri Udara dan Sekbang, beliau menjadi pilot dan ditempat di skadron udara tempat dirinya, Lettu Novi dan Letda Rio bertugas. Dengan callsign pilot “Spider’, beliau pernah membuat defile pesawat terbang udara F-5 Tiger dengan formasi angka pada HUT Republik Indonesia di Jakarta beberapa tahun lalu.

Acara tahlilan berjalan lancar dan usai di rumah orangtua Almarhum Kapten Anumerta Rendy. Ternyata, orang tua Rendy dan Paman Rio adalah sahabat dalam suka dan duka selama masa bersekolah dulu. Mereka sudah seperti sodara kandung sendiri. Jadi saat mendengar berita duka, Paman Rio segera datang meskipun hanya di acara tahlilannya. Mayor Dedy hanya tidak menyangka bahwa paman dari dr Linda adalah seorang Marsekal Madya, Jenderal bintang tiga.

Semua sudah berpamitan pulang. Lettu Novi minta izin pada Mayor Dedy untuk mengantar Risma pulang ke rumahnya dan kali ini ditemani Rio serta kekasihnya, Fahira. Sedangkan Paman Rio dan istrinya, masih saling menemani dan menguatkan kedua orang tua almarhum Lettu Rendy yang gugur dalam bertugas penyergapan F-18 Hornet.

Mayor Dedy bingung dan galau antara pamit pulang terlebih dulu atau menawari Kapten dr. Linda tumpangan pulang karena dia melihatnya duduk sendiri di kursi di bawah terop khusus wanita yang hadir mengikuti tahlilan di situ. Tiba-tiba ajudan Jenderal mendekatinya sambil berbisik, “Mayor Dedy, Anda diminta menghadap Pak Jenderal !’ dan di suruh masuk rumah!". Hati Mayor Dedy langsung terkesiap jika dirinya diperintahkan beliau untuk masuk ke ruang tengah rumah orang tua Almarhum Rendy.

Tanpa banyak bicara dan sambil menebak-nebak kenapa dirinya dipanggil, Mayor Dedy segera berjalan masuk ke dalam rumah, sambil melirik dr. Linda yang sibuk bermain gawainya. Setelah mendekat, Mayor Dedy memberi hormat,”Lapor, Siap menghadap dan menunggu perintah, Jenderal..!” kata Dedy dengan tegas dan sikap sempurna.

“Mayor Dedy, Tolong kamu antar keponakan saya, dr.Linda itu ke rumahnya di Madiun ya?!. Saya langsung ke Magetan karena istri saya minta bertemu keluarganya di sana..!. Tidak keberatan, kan?!” perintah Paman dari dr. Linda. Setengah kaget dan setengah tidak percaya, Mayor Dedy hanya menjawab siap melaksanakan tugas yang padahal perintah itu seperti harapannya.

Dengan sigap dan tersenyum bahagia, Mayor Dedy segera membukakan pintu mobil dinasnya untuk Kapten Linda yang bertugas sebagai dokter militer di Rumah sakit Pangkalan Udara. Suasana agak kaku di dalam kendaraan. Mereka berdua hanya saling melirik satu sama lain saja. Dokter Linda hanya diam dan sesekali melihat chatting di gawainya.

“Maaf, Kapten,..izin bicara!’ kata Mayor Dedy mengawali pembicaraan untuk mengisi situasi yang canggung di antara mereka berdua. “Silakan, tapi tolong jangan memanggil Kapten, ..Ini kan tidak dinas..!” jawab dr. Linda ramah. “Okay, izin ,saya panggil bu Dokter saja, ya!?’ tambah Mayor Dedy. “Saya, besuk pagi akan check up kesehatan di Rumah Sakit Pangkalan untuk persiapan tugas latihan tempur bersama dengan Royal Thailand Air Force (RTAF), Apakah diizinkan untuk menemui bu dokter di sana?” tanya Mayor Dedy dengan sopan.

“Boleh saja, dengan senang hati “ dr. Linda menjawab sambil tersenyum dan melihat Mayor Dedy yang terlihat tampan dengan baju koko putih dan kopiah hitamnya. Sungguh terkesan relijius di matanya. Jantung dr, Linda segera berdegup kencang dan pipinya merona merah. Agar Mayor Dedy tidak melihat hal itu, dr Linda segera menoleh pura-pura melihat gemerlapan lampu rumah di sepanjang jalan menuju Madiun.

Dokter Linda segera turun dari mobil dinas TNI AU milik Mayor Dedy begitu tiba di depan rumahnya. Rumah yang bisa disebut mewah untuk ukuran tentara. Akan tetapi Mayor Dedy memaklumi mengingat Kapten Linda adalah seorang dokter, pastilah penghasilannya berbeda di bandingkan pilot tempur seperti dirinya. “Tidak, masuk rumah dulu?” kata dr. Linda untuk berbasa-basi.

“Terimakasih, lain kali saja. Itupun jika bu Dokter tidak keberatan dan mengizinkan”! kata Mayor Dedy dan segera siap untuk masuk ke dalam mobil yang mesinnya masih menyala. “Silakan, jika berkenan..!. Oh, iya, sampaikan salam saya pada istri Mayor Dedy, ya! Juga. tolong rawat serta perhatikan dia dengan baik!” jawab dr. Linda sambil melambaikan tangannya pada Mayor Dedy yang mulai menjalankan mobil dinasnya dengan pelan.

Setelah melewati tikungan jalan jauh dari rumah dokter Linda, Mayor Dedy menghentikan mobilnya sambil keheranan. Dia merasa salah dengar atau bagaimana. Kenapa dr. Linda menitipkan salamnya untuk istrinya. Apakah dr. Linda tidak tahu jika dirinya masih membujang sampai saat ini? Banyak pertanyaan yang tidak terjawab oleh Mayor Dedy malam itu.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post