GURU MENYUKAI BERITA HOAKS ?
GURU MENYUKAI BERITA HOAKS ?
Oleh : E.A.Wahyudiono
Kenapa berita hoaks alias tidak jelas sumbernya menjadi sangat digemari untuk dibaca? Jika dicari jawabannya, pastilah akan didapatkan alasan yang bermacam-macam.
Berita hoaks yang dimaksud di sini, bisa jadi gambar dengan caption (penjelasan) yang jauh berbeda. Ibarat asap yang jauh dari api. Anehnya, berita itu diyakini kebenarannya oleh para pembaca tanpa melalui crosscheck pada sumber info lainnya.
Sudah sifat kita yang dianugerahi 3 otak. Otak kiri yang kognitif, otak kanan untuk psikomotorik dan otak belakang tempat penyimpanan dan mengolah data dalam mengambil sebuah keputusan. Itulah yang disebut nurani manusia. Tinggal seberapa besar prosentase pembagiannya menjadi satu hal yang berbeda dari setiap individu manusia.
Satu pertanyaan lagi yang menggelitik penulis adalah, kenapa orang suka menyebarkan atau membagikan berita hoaks kepada pembaca? Pastilah ada pengaruh kejiwaan yang tidak disadari saat melakukannya. Bisa jadi. mereka yang membagikan berita hoaks itu akan timbul perasaan senang karena telah bisa membuat pembaca percaya, geram, bingung, marah atau sedih.
Pembaca yang cerdas sebenarnya juga sudah tahu dari judulnya bahwa artikel atau berita yang dibacanya, itu adalah hoaks. Sensasi yang didapatkan setelah membacanya, pastilah juga akan terpantik perasaan ikut marah, gusar atau sedih apabila kemampuan literasinya rendah.
Banyak ciri-ciri berita hoaks di media masa atau sosial sebetulnya bisa ditebak. Jika ada perintah, misalnya didoakan yang mau membagikannya akan dapat rezeki atau dipuji-puji sebagai orang cerdas dan bermoral. Parahnya, ada sedikit ancaman bahwa jika tidak mau membagikan berita itu lewat fasiltas di medsos akan dikutuk hidupnya.
Berita semacam itu akan banyak menimbulkan keresahan di masyarakat. Mereka mudah tersulut secara emosional sehingga mudah terprovokasi dan berbuat anarkis. Jika itu terjadi, mereka yang menulis dan membagikannya patut dijerat UU.ITE.
Pembaca yang cerdas, pastilah akan melakukan chek and recheck setelah membaca sebuah artikel atau berita yang didapatkannya. Sedangkan penulis yang bijak, pastilah akan menulis sesuatu yang bermanfaat untuk para pembaca.
Guru sebagai ujung tombak " Moral Force" haruslah selalu mengingatkan pada murid-muridnya perihal penyebaran berita hoaks yang ada di media sosial. Jangan lelah untuk selalu memberikan pengarahan akan dampak buruk sebagai penyebar berita hoaks pada anak-anak.
Tidak ada satu guru pun di negeri ini yang menyukai berita hoaks dan membagikannya kepada para murid mereka. Para guru sejati akan menjaga bersama karakter anak didik terutama di masa pandemi covid-19 di mana waktu yang dihabiskan lebih banyak pada penggunaan gadget mereka.
Semoga bermanfaat. Salam Literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
