MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 16 (Misi Rahasia menjadi Lebih berat)
MEMBAKAR LANGIT BIRU-PART 16 (Misi Rahasia Menjadi Lebih Berat)
Oleh : E.A.Wahyudiono
Pagi sebelum pukul 7 pagi, Letkol Pnb.Yudha, Mayor Pnb.Dedy dan Lettu Pnb.Novi sudah berada di pangkalan udara tempat mereka berdinas. Setelah melaksanakan apel pagi bersama para pilot, Ketiga pilot yang ditunjuk untuk misi rahasia, segera menuju pada apron parkir pesawatnya di bawah hangar terbuka.
Semua melakukan pengecekan mesin, bahan bakar dan termasuk juga persenjataan. Semua mesin pesawat F-16 Fighting Falcon sudah dipanasi. Mereka mencoba menggunakan alat komunikasi yang baru dan mencoba sensor penerbangan malam di kokpit pesawat tempur mereka masing-masing.
Lettu Novi yang sedari pagi terlihat gembira menjadi perhatian dari Mayor Dedy. “Tumben, kamu gembira sekali hari ini. Ada apa?’ tanya Mayor Dedy dengan nada penasaran. “Siap senior. Ada good news nih. Alhamdulillah, Berliani istriku hamil. Mohon izin saya ngebut duluan nih” jawab Lettu Novi sambil tertawa. “Alhamdulillah, saya ikut senang dan bersyukur nih. Selamat ya!. Sampaikan juga salamku untuk Berliani, istrimu!”
Saat menyebut nama istri Lettu Novi, hati Mayor Dedy berdesir. Kebahagiaan yang datang bersamaan dengan tugas rahasia yang berat bagi Novi, Juniornya. “Seharusnya Novi menemani istrinya di komplek rumah dinas TNI AU di Pangkalan udara. Akan tetapi,sebagai prajurit tugas negara lebih utama daripada kepentingan pribadi” kata hati Mayor Dedy sambil mengamati Lettu Novi yang sedang serius memeriksa instrumen kokpit pesawat tempur F-16 yang menjadi tunggangannya.
Tiba-tiba ada satu mobil dinas TNI AU datang dan berhenti di apron parkir pesawat tempur. Seorang Sersan Paskhas TNI AU, mendekati mereka untuk laporan dan memberi hormat. “Maaf, Lekol Yudha, Mayor Dedy dan Lettu Novi sekarang juga ditunggu oleh Komandan Pangkalan Udara dan pejabat militer dari Mabes TNI AU di ruang rapat komando operasi".
Letkol Yudha melihat Mayor Dedy dan Lettu Novi, “Gentlemen!, Ini lah saat waktu kita! Ayo berangkat!”. Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil dinas dan meluncur guna mengikuti briefing. Setelah berada di dalam ruang komando operasi sandi “Sikatan Jaya”, Komandan Pangkalan Udara memberikan kesempatan kepada perwira dari Mabes TNI AU yang baru datang dari Jakarta untuk menyampaikan sesuatu.
“Ada perkembangan baru dari penugasan misi rahasia di wilayah perbatasan Indonesia dengan negara lain guna menghancurkan 3 unit mobile Radar dan 2 Unit Mobile misile launcher serta meledakkan satu Arsenal para gerombolan bersenjata (gudang senjata dan amunisi). Gentlemen..!, ada bad news dan good news” kata salah satu perwira kepada semua yang ada di ruangan pusat komando operasi militer dalam menjalankan misi rahasia, khususnya pada ketiga pilot yang akan bertugas.
Letkol Pnb. Yudha selaku leader misi Sikatan jaya menoleh pada kedua wingmannya, Mayor Pnb. Dedy dan Lettu Pnb. Novi. Mereka saling mengangguk sebagai tanda siap. “Berita buruk yang pertama adalah, saat ini ada info bahwa mobile radar dan mobile misile launcher para pemberontak, besuk siang akan dipindah ke tempat rahasia. Semua info ini sudah didapat dari intelijen yang menyusup ke dalam kelompok kriminal bersenjata itu” jelas perwira menengah yang menjabat sebagai analis strategi militer.
Semua wajah terlihat menjadi tegang mendengar penjelasan Perwira dari Mabes TNI AU tersebut. “Berita buruk kedua, Rute ketiga pilot yang akan melaksanakan misi nanti, tidak akan terbang dari depan, rendah dan lurus dari wilayah NKRI, melainkan akan memutari gunung yang menjadi wilayah negara lain selama 15 menit. Itu artinya, Anda bertiga sebagai pilot yang bertugas akan memasuki wilayah negara tetangga dan itu artinya melanggar wilayah perbatasan kedaulatan negara lain”.
“Oleh karena itu, Anda bertiga selama dua pekan sudah dilatih terbang di bawah radar pada waktu malam hari. Itu semua agar ketiga pesawat kita tidak terdeteksi baik dari radar gerombolan bersenjata itu juga dari radar negara tetangga kita. Saat ini, masih ada pendekatan untuk meminta clearance flight pass (izin terbang melintas negara lain), namun belum ada jawaban sampai sekarang”.
“Perintah dari Jakarta, dalam kasus ini apabila pesawat Anda tertangkap Radar negara tetangga, jangan pernah menembak pesawat yang memburu pesawat Anda. Tembakan harus dilakukan di wilayah NKRI. Dilarang keras menembak misil dari udara ke darat pada markas peluncuran rudal negara tetangga. Sebisa mungkin. Anda semua harus menghindar agar tidak terjadi insiden Internasional yang memicu perang dengan negara lain” Perwira tersbut mengakhiri penjelasannya dan memberikan kesempatan kepada seorang wanita yang juga merupakan perwira analis militer dan strategi perang.
“Berita baiknya adalah, saat ini pasukan dari Angkatan Darat, Batalion Raider 500 sudah menyusup di hutan untuk menyerbu para gerombolan bersenjata yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Kemudian Batalion LINUD Kostrad (Lintas Udara), akan melakukan penerjunan dan pengiriman pasukan melalui helikopter untuk mendukung kelancaran operasi!. Semua menunggu keberhasilan tugas Anda bertiga sebagai pilot seperti yang diarahkan pada rapat kemarin siang. Jelas !??” Kalimat tanya yang tegas ditujukan kepada ketiga pilot di dalam ruangan itu.
“Siap, Jelas!!” serempak, Lekol Yudha, Mayor Dedy dan Lettu Novi menjawab keras sambil berdiri. Setelah semua arahan selesai, Komandan Pangkalan Udara mengulangi lagi dengan memaparkan tugas rahasia kepada tugas masing-masing pilot F-16. “Siapkan pesawatmu dan peralatannya. Berangkat pukul 21.00 dari Pangkalan utama, selanjutnya menuju Pangkalan Udara di kupang untuk mengisi bahan bakar”.
“Sebagai base flight terakhir di Ambon, Maluku. Tepat pukul 02.00 dini hari, adalah tugas Anda terbang dibawah Radar sebelum berada dalam jangkauan deteksi radar mereka.” Jenderal dengan 2 bintang di pundaknya itu memberikan maklumatnya pada ketiga pilot tempur terbaiknya. “Sekarang, Anda semua saya beri kesempatan untuk pulang untuk bertemu keluarga. Katakan dan berpamitan seperti penugasan biasanya selama beberapa hari. Jangan pernah membocorkan rahasia negara kepada siapapun. Jelas?!” Seisi ruangan serempak menjawab, “Siap, jelas, Komandan!”.
Mayor Dedy mengantarkan Lettu Novi pulang bersamanya ke rumah dinas TNI AU di Pangkalan. Sedangkan dirinya akan meuju Mess Perwira untuk bujangan dan berganti baju untuk menemui dokter Linda, calo istrinya untuk berpamitan. Selama di rumah dinas, Novi berusaha bersikap wajar-wajar saja, namun Berliani, istrinya mencium gelagat dan sikap yang tidak wajar dari Novi, suaminya. “Ah, mungkin Mas Novi bahagia karena aku hamil” pikir Brerliani untuk menenangkan hatinya sendiri.
Bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
