Murid suka mencontek?, Tidak apa-apa, itu murid yang hebat lho..!
Itu adalah jawaban saya dengan setengah bercanda ketika ada seorang rekan guru mengungkapkan perasaan kegalauan hatinya mengetahui ada beberapa muridnya yang tertangkap tangan melakukan kegiatan Cheating, atau mencontek saat sedang ujian tulis di kelas.
Sejujurnya, sebagai guru, saya juga tidak suka bila ada murid yang mencontek karya temannya saat mengerjakan tugas atau soal ulangan. Namun, dalam hati kecil terdalam, justru saya merasa sangat kagum pada murid yang berani mencontek dengan berbagai cara cerdas agar tidak tertangkap pengawas ujian.
Jika boleh disebut budaya, mencontek itu hampir dilakukan oleh siswa atau mahasiswa di belahan negara manapun dengan teknik konvensional sampai yang tercanggih. Para guru yang berjaga dalam ruang ujian harus mengawasi dengan ekstra ketat dan bahkan mereka ada yang dibantu dengan kamera tersembunyi.
Kenapa saya mengatakan bahwa murid yang mencontek itu adalah anak yang hebat?
Coba kita pahami lebih dalam. Murid yang melakukan kegiatan mencontek dipastikan anak yang cerdas dan sehat. Bagaimana tidak? Mereka harus menggunakan akal pikirannya untuk menemukan tempat tersembunyi bagi berkas contekannya. Juga kita harus menghargai mereka yang telah menulis ulang materi contekan dengan ukuran huruf normal 12 fonts, menjadi 7 atau 8 fonts di kertas kecil. Hebatnya, mereka semua mampu membacanya dalam kondisi tertekan. Hebat, kan?
Lebih dari itu, ritme dan pernapasan dalam paru-paru juga kerja detak jantung mereka dipastikan lebih sehat. Kita bayangkan saja saat proses pencontekan terjadi, mereka berusaha setenang mungkin dengan sorot mata yang lebih tajam, indera pendengaran menjadi lebih tajam bila ada suara sepatu datang mendekat atau menjauh. Singkatnya, semua panca indera mereka bekerja di atas normal. Bila berhasil, timbullah hormon perasaan senang dan bangga dan itu membuat imun murid menjadi lebih sehat.
Bagaimana dengan kondisi pembelajaran dalam jaringan/ online seperti saat ini? Masihkah mereka para murid mencontek? Jawabannya bisa dipastikan ‘IYA’. Dari beberapa penugasan online yang saya berikan, ambil kasus materi menulis pada karangan terbimbing, Saya memberikan judul dan kalimat awal sebagai pancingan dan murid meneruskan dengan menggunakan kata pilihan dan kalimat mereka sendiri dalam bahasa Inggris.
Yang mengherankan, mengapa bisa karangan murid satu kelas bisa sama dengan satu kesalahan pada satu huruf yang sama pula pada hasil karangan mereka?. Secara tidak sadar, murid satu kelas juga memilih judul yang sama sesuai tema tentang Liburan, yaitu ”Liburan di Rumah Nenek”. Lebih aneh lagi, semua berlibur di rumah nenek di salah satu kecamatan yang sama. Kenapa bisa murid satu kelas, nenek mereka bisa tinggal di satu kecamatan yang sama? Itu tentunya berkat aplikasi Copypaste.
Meskipun mengatakan murid yang mencontek itu adalah anak yang hebat dan cerdas, bukan berarti saya mendukung perbuatan mereka. Hal ini semata agar mereka memahami bahwa, jika budaya mencontek itu diteruskan, akan ada sesuatu yang hilang dalam diri mereka sendiri. Yaitu rasa percaya diri akan kemampuan yang dimiliki dan matinya perasaan bersalah. Hal itu berbahaya kelak dalam kehidupan jika mereka menjadi pejabat
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
