Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BILA IDEALISME DAN INTEGRITAS DICURANGI KOMPROMI
selfdesigned by canva

BILA IDEALISME DAN INTEGRITAS DICURANGI KOMPROMI

Ibarat satu keluarga besar atau anggota tubuh kita, bila ada yang salah satu yang sakit atau tidak saling mendukung dalam mencapai tujuan, maka bisa dipastikan bahwa diri kita akan merasakan sakit dan terasa perih di fisik maupun batin.

Setiap dari kita tentu mempunyai tujuan terbaik dalam aspek kehidupan ini. Bisa jadi tentang pendidikan, pekerjaan, peribadatan, sosial kemasyarakatan dan masih banyak lainnya. Jelas, tujuan yang ingin kita capai adalah kebahagiaan yang hakiki. Akan tetapi perasaan kebahagiaan kita itu bisa terpenuhi atau terpuaskan dari berbagai aspek yang berbeda.

Katakanlah, seperti yang dipikirkan orang pada umumnya, kebahagiaan hanya bisa terpenuhi apabila secara material dan ekonomi terpenuhi secara berlebih dalam harta dan jadi kaya raya. Bisa juga, dari sisi pendidikan. Sangat membanggakan dan bahagia apabila gelar keilmuan pendidikan secara harfiah dimiliki oleh setiap anggota keluarga mereka meskipun tidak pernah ada manfaatnya bagi orang lain.

Lebih salut lagi, ada yang menemukan kebahagiaan dalam arti kedamaian dari peribadatan. Itu yang utama dan terkadang mengabaikan semua kepentingan aspek lainnya. Namun manusia juga punya buruknya, yaitu sifat serakah, bahwa kebahagiaan hanya bisa terpenuhi bila secara ekonomi berlebih, keluarga bahagia, karir dengan jabatan tinggi, ingin juga disebut ahli agama, kelak mati langsung masuk surga. Pada intinya, semua tujuan itu harus didapatkan oleh diri kita masing-masing.

Mungkinkah semua itu bisa terpenuhi?

Inshaallah bisa. Namun ingat bahwa untuk memenuhi keinginan tersebut hanya akan diberikan pada mereka yang terpilih. Coba dijawab pertanyaan berikut ini, apakah cita-cita Anda tinggi atau mulia? Bila mulia, pasti lah jalan yang akan Anda tempuh, ada di dalam koridor mulia pula. Namun bila hanya tinggi, ditakutkan, banyak orang akan menempuh dan menghalalkan semua cara dalam mewujudkannya. Tujuan kehidupan kita pada akhirnya sama, yaitu menemukan kebahagiaan hakiki.

Saat kita muda dulu atau sebut saja mereka anak muda di zaman milenial sekarang ini, setiap kita pasti mempunyai idealisme yang kuat dan menggebu-gebu. Lihat saja anak-anak remaja, yang termasuk di dalamnya, sebut saja kaum mahasiswa. Mereka semua sangat aktif menyerukan dan menyuarakan kebenaran, kejujuran, keterbukaan, kekompakan, kepahlawanan, keadilan dan lainnya.

Semua itu membentuk integritas diri sebagai sosok yang kuat untuk selalu konsisten pada apa yang diucapkan untuk diwujudkan dalam masyarakat sebagai bentuk komitmen (niat baik dan kuat) pada idealisme diri kita masing-masing. Akan tetapi, di saat idealisme kita terpupuk dengan baik dan selalu dikawal oleh komitmen maka terbentuk lah satu integritas bagus dalam diri kita masing-masing.

Seiring dengan perjalanan waktu di dalam kehidupan ini, Idealisme dan integritas kita dalam mencapai tujuan kebahagiaan tidak lah selalu indah dan harmonis. Hal itu dikarenakan ada yang mencurangi ‘jalan’ sebagai 'pelakor' dalam mendapatkan kebahagiaan kita masing-masing. Hidup ini tidak seperti di dalam cara pandang kita yang hanya Hitam-putih, Ya, atau Tidak, atau Like-Dislike. Ingat lah, terkadang ada warna abu-abu juga. Bisa jadi, tidak 'Ya atau Tidak', namun lebih ke abstein (bersikap untuk tidak bersikap).

Bagaimana dengan Like-Dislike? Nah, di situ lah ada Kompromi yang memainkan peranan pengganggu. Semua tergantung pada kebutuhan dan kepentingan setiap individu dari kita semua. Pasal dan putusan hukum bisa diatur sesuai keinginan, membenci perilaku korupsi namun tertangkap sendiri, mencari keuntungan finansial dalam ekonomi dengan mencampur adukkan mana yang halal dan haram, mendapatkan posisi karir dan jabatan dengan proses bargaining, dan masih banyak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu di artikel ini.

Manusia, atau bahasa latinnya homo sapiens adalah pemakan segalanya. Hewan hanya terbagi pada karnivora (pemakan daging) dan herbivora (pemakan dedaunan). Homo Homoni Lupus atau manusia adalah pemakan daging, daun dan juga dalam tanda kutip “sesama”. Semua itu terjadi saat kemesaraan idealisme dan integritas 'diselingkuhi' oleh kompromi dalam diri dan jiwa kita untuk mewujudkan serta memuaskan keinginan dan tujuan hidup kita masing-masing.

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post