MISKIN LITERASI DIGITAL
Mencermati beberapa peristiwa lucu, aneh, bodoh, pilu atau memuakkan di media sosial yang baru-baru ini terjadi di tanah air, membuat satu hal penting untuk dijadikan bahan perenungan bagi masyarakat kita secara keseluruhan.
Kejadian memprihatinkan yang melibatkan baik secara individu maupun kelompok yang mudah marah, cepat tersinggung, mengumpat, berkomentar negatif secara lisan ataupun tertulis bahkan menjurus pada kekerasan fisik dalam masyarakat kita.
Masih belum hilang berita orang tua yang marah pada kasir di salah satu mart karena putranya membeli token game online, kurir COD (Cash On Delivery) yang diancam dengan pedang dalam sistem online shopping, juga ungkapan verbal negatif atas kasus Palestina-Israel oleh salah satu siswi di Sumatera dan seorang petugas cleaning service di Indonesia bagian tengah yang berakhir ditangkap Polisi serta masih banyak contoh dalam kasus lainnya.
Ada apa dengan masyarakat kita?
Ada beberapa dugaan yang salah satunya adalah bahwa saat ini masyarakat kita sedang stress akibat dampak dari wabah Corona. Hal itu membuat perekonomian, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan lainnya menjadi tidak stabil. Disadari atau tidak, perasaan ketakutan dan kecemasan pada ekses dari Covid-19 ini membuat masyarakat menjadi ultra sensitif dan cepat merespon negatif sesuatu hal tanpa memikirkan dampak belakangnya.
Asumsi lainnya adalah letak geografis negara kita di garis katulistiwa. Otomatis, itu adalah negara tropis yang terkenal sangat panas dengan tingkat kelembaban yang tinggi. Dampaknya, tubuh menjadi terasa tidak nyaman, keringat bercucuran, udara terasa panas saat dihirup dan mau tidak mau mempengaruhi temperamen penduduknya menjadi mudah tersinggung.
Pernah, saat di Australia Barat, Saya ditanya seorang warga negara Tibet yang dengan sombongnya menceritakan ketebalan salju dan lamanya musim dingin berlangsung. Saat minta info balik, hanya saya jawab setengah bercanda bahwa negara saya hanya punya dua musim, yaitu hot season dan very hot season. Orang Tibet itu tercengang, tapi segera saya jelaskan lebih detil agar tidak salah paham karena Saya hanya bercanda.
Juga ada teman bertanya pada saya, kenapa semua negara konflik atau berperang ada di garis katulistiwa atau negara tropis. Sungguh pertanyaan yang memerlukan jawaban cerdas dan pandai berdiplomasi. Sayangnya, Saya tidak termasuk di dalamnya.
Asumsi terakhir memberikan penjelasan bahwa krisis multi dimensi yang membuat perilaku masyarakat kita memburuk adalah miskinnya kemampuan berliterasi, khususnya literasi digital. Dari data yang dirilis oleh google, disebutkan bahwa hanya ada 1 dari setiap 1.000 penduduk Indonesia yang gemar membaca. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Hal itu artinya masyarakat kita miskin literasi mulai dari literasi membaca, berhitung, dan menulis, literasi kepustakaan, literasi finansial, literasi digital dan masih banyak lagi.
Dalam literasi digital yang ditujukan dalam kegiatan sosial, bisnis, transaksi di media elektronik berbasis intra dan internet, pemerintah sudah mengaturnya dalam UU ITE ( Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) . Pengguna medsos harus membaca, mempelajari, memahami, menerapkan, menyebarkan dan mengawal Undang-Undang ITE tersebut.
Kebebasan kita dalam bermedia sosial tidaklah absolut. Justru mengarah pada kebebasan yang bertanggung jawab dan beretika serta berkepribadian sebagai masyarakat bangsa Indonesia. Untuk itu, kuncinya adalah banyak membaca dan terus membaca banyak hal yang berkaitan keberlangsungan hidup kita yang sudah terkonekasi dengan jaringan digital di era saat ini.
Semoga tidak ada lagi perilaku bodoh yang ditunjukkan oleh masyarakat kita di media sosial yang ujungnya hanya memberikan klarifikasi dan meminta maaf agar terlepas dari jeratan pasal hukum pidana UU ITE. Untuk itu, gerakkan untuk semangat membaca ranah literasi digital harus lebih digalakkan lagi.
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
