Multi Tasking untuk Kecerdasan Otak Anak
Menjadi pengawas ujian akhir semester, secara tidak sengaja mendengar keluhan beberapa siswa terkait dengan mata pelajaran yang diujikan. Dalam 1 hari untuk setiap harinya, ada 3 mata pelajaran berbeda yang diberikan secara online berbasis android. Itu pun pelaksanaan ujiannya ada di dalam kelas seperti halnya paper based test ( PBT).
Apalagi ketiga mata pelajaran itu mempunyai bobot tingkat kesulitan yang dianggap tinggi oleh anak didik. Misalnya, pada jam pertama diujikan mata pelajaran Bahasa Inggris, jam kedua adalah Biologi dan yang terakhir mapel sejarah. Bila otak anak didik kita tidak terlatih, justru semua materi ketiga mata pelajaran itu akan saling berbias sehingga hasil ujian akhir semester mereka bisa dipastikan rendah meskipun untuk anak yang termasuk dengan kategori tingkat kecerdasan tinggi.
Untuk mengatasi hal itu, pemberian atau pembiaran kegiatan pembiasaan pada otak anak dengan memberikan stimulus beban multi tasking (Banyak Tugas) akan membuat mereka menjadi semakin terampil ke depannya, tidak hanya kemampuan pada soft skill, namun juga hard skill.
Nah, kegiatan Multi Tasking pada otak itu seperti apa?
Coba cermati para ibu rumah tangga lebih mendalam. Mereka semua tipe orang dengan kemampuan multi tasking setiap harinya. Mulai dari bangun tidur, menanak nasi, menyapu rumah, menjemur baju cucian, menyiapkan makan pagi, dan merawat anaknya. Hebatnya, semua aktivitas itu dilakukan dalam kurun waktu yang bersamaan atau jeda yang tidak berjauhan. Meskipun terkesan semrawut namun mampu dikerjakan dengan tuntas. Masih kah kita memandang dengan sebelah mata akan kemampuan multi tasking para ibu itu?
Sebagai orang tua, jangan marah dulu jika mengetahui anak Anda sedang membuka buku pelajaran, menulis, sesekali membaca, mendengarkan musik, bermain atau surfing di internet dengan androidnya juga tangannya tidak lepas dari snack sebagai camilan dan masih melihat acara televisi di kamarnya dalam kurun waktu yang bersamaan, bergantian atau jeda waktu yang acak. Sedih, kan bila melihat seperti itu, namun dampaknya akan luar biasa.
Sebenarnya, Anak Anda sedang berlatih mandiri memberikan stimulus rangsangan multi tasking pada otak sebelah kiri (kognitif) dan direspon oleh otak kanan (motorik) untuk dikerjakan. Bila mampu melewati semua kegiatan itu dan mengelolanya di otak belakang (pengambil keputusan), anak Anda akan mempunyai banyak kecerdasan seperti yang disampaikan oleh ahli psikologi dunia, Howard Gardner, akan teori kecerdasan majemuk.
Akan tetapi, multi Tasking juga membahayakan jiwa jika dilakukan secara ceroboh, kurang teliti, tidak fokus atau tidak pada tempatnya. Sebagai misal, seorang yang sedang mengemudikan sebuah kendaraan yang sedang melaju, menyempatkan berbicara dengan penumpang di sebelahnya namun bermain android seperti mengirim pesan melalui Whassaps. Bahkan juga, sesekali menerima panggilan suara tilpun, melihat DVD player atau jemarinya memutar knob atau menekan scan radio untuk mencari lagu atau stasiun penyiaran radio yang diinginkan.
Akibatnya bisa fatal karena banyak kecelakaan terjadi yang diakibatkan oleh multi tasking seperti itu. Pekerjaan di instalasi listrik, nuklir, ruang operasi di rumah sakit, di kokpit penerbangan dan masih banyak contoh lagi pastilah melarang kegiatan kerja multi tasking pada pegawainya. Semua pekerjaan itu haruslah Sequence Tasking, atau pekerjaan yang harus berurutan atau terjadwal ketat tahapannya.
Coba direnungkan, kebiasaan menggunakan otak kiri, otak kanan dan otak belakang dalam multi tasking apa yang sering Anda kerjakan dalam waktu yang bersamaan selama ini?
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
