NEGERI SEMALAM, NEGERI INSTAN
"Tembok China tidak dibangun dalam waktu semalam". Pernah kah Anda mendengar kata-kata motivasi untuk membangkitkan semangat diri seperti itu?
Sejujurnya, banyak sekali kalimat pembangkit semangat yang pernah kita baca atau kita dengar sendiri, namun semua itu belum tentu mampu untuk mengusik relung hati terdalam kita. Kemampuan merenung, berfikir, dan kritis kita sudah menjadi dangkal secara perlahan dan pasti dikarenakan membiarkan pembiasaan salah di sekitar kita.
Semua pembiasaan itu ada dan diterima di dalam masyarakat kita sebagai hal yang lumrah, normatif dan bisa jadi dianggap ranah budaya. Sesuatu hal dari kebiasaan salah, kemudian dibiarkan terus menerus bisa jadi diterima sebagai kebenaran dalam pikiran dan hati masyarakat kita.
Perlu diketahui sebagai misal bahwa pada zaman dahulu, kota Roma dibangun dan terletak di tengah delta di satu sungai besar di Italia. Karena dikelilingi air sungai Tiber, maka dibangunlah banyak jembatan untuk bisa datang ke sana. Banyak jalan menuju Roma adalah satu kata mutiara yang diambilkan dari kondisi sebenarnya untuk menggambarkan betapa pentingnya usaha sesorang untuk mencapai satu tujuan yang sama meskipun melalui cara atau jalan yang berbeda yaitu agar bisa masuk ke kota Roma untuk berdagang.
Usaha meraih tujuan itu agar berhasil adalah sebuah proses usaha yang memerlukan waktu yang lama dan pengorbanan. Seperti pepatah awal, tembok China yang dibangun ribuan kilometer panjangnya dengan banyak pengorbanan nyawa dan harta para penduduk yang tujuannya juga untuk menyelamatkan penduduk lainnya dari serbuan bangsa Han. Sungguh satu usaha panjang yang tidak sia-sia demi menyelamatkan generasi penerusnya.
Bagaimana dengan kita?
Pernah mengetahui Candi sewu yang dibangun dalam waktu semalam dalam legenda kita? Itu adalah syarat utama bagi Bandung Bondowoso agar bisa menikah Roro Jonggrang? Namun, karena ayam jago sudah berkokok tanda pergantian hari, syarat menikahi sang Ratu menjadi batal.
Dari cerita-cerita di masyarakat kita tentang telaga, sungai atau candi yang mampu dibangun dalam waktu semalam (instan), disadari atau tidak telah mempengaruhi pola pikir dan menjadikan satu budaya dalam masyarakat kita bahwa mengejar ambisi, tujuan, cita-cita itu bisa diwujudkan dalam waktu semalam atau secara singkat pula (instan).
Coba saja dicermati dalam semua aspek dan sendi berkehidupan bermasyarakat. Entah itu karir, jabatan, kepandaian, keimanan, kekayaan dan banyak lainnya cenderung diwujudkan secara instan entah melalui jalan yang bagaimana dan bila diperlukan, bisa menghalalkan semua cara.
Terkadang, dalam menguasai satu ilmu, inginnya juga instan. Hanya belajar jika sudah dan saat mau ujian saja dengan sistem SKS. (Sistem Kebut Semalam). Sudah mendadak belajar, tercepat keluar dari kelas saat ujian juga satu hal yang membanggakan. Lagi, tidak pernah melatih fisik dan mental secara teratur, namun ingin mendaftar ke dunia militer. Ada cerita tentang seorang murid yang menemui saya dan ingin kursus bermain gitar sampai mahir akan tetapi hanya mau mempelajarinya dalam kurun waktu 1 bulan. Yakin bisa? Sungguh ironis, kan?
Sungguh, Saya tidak punya kemampuan untuk mengajari anak didik secara instan dalam menguasai suatu ilmu. Saya khawatir bahwa kelak mereka terbiasa mengejar angka-angka raport saja tanpa memedulikan prosesnya. Juga akan berdosa untuk mengajari mereka bila kelak digunakan dalam mewujudkan ambisi, karir, jabatan dan cita-citanya secara instan pula.
Sampai melupakan bahwa kenikmatan dan hal yang paling berharga bagi seorang "pendaki gunung sejati" itu bukan lah saat berada di puncak gunung sambil berfoto ria, melainkan saat berada dalam perjalanan ke puncaknya. Dia bisa jatuh bangun, bertahan dari cuaca hujan dan dingin, tidak tersesat dalam gelapnya malam serta saling membantu dengan sesama pendaki lainnya adalah sebuah proses berharga seperti dalam kehidupan ini.
Tujuan yang mulia, pasti lah berasal dari proses panjang yang bernilai mulia pula. Semoga kita tidak hidup dan bermasyarakat di sebuah negeri semalam, negeri instan.
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
