Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PERJODOHAN PAKSA SEPASANG SANDAL
selfdesigned by Canva

PERJODOHAN PAKSA SEPASANG SANDAL

Sebetulnya saya malu untuk menceritakan kisah yang baru-baru ini terjadi. Hal itu semata-mata hanya untuk menjaga perasaan malu dan harga diri orang lain. Mengapa demikian?

Hari Jumat seminggu yang lalu, sebagai orang muslim, saya bergegas ke Masjid agar tidak ketinggalan memenuhi kewajiban salat Jumat. Masjid besar di lingkungan perumahan tempat tinggal saya yang mayoritas dihuni oleh para aparatur sipil negara dari berbagai kementerian hanya ditempuh 5 menit berjalan kaki.

Setelah melepaskan sandal yang biasanya dipakai setiap ke sana, saya melangkahkan kaki kanan terlebih dulu saat masuk masjid. Setelah itu, melaksanakan salat sunnah dan duduk bertafakur.

Begitu salat wajib Jumat usai, dengan perlahan saya mengantri keluar dan tetap menjaga jarak untuk prosedur kesehatan. Saat ditangga menuju tempat di mana sandal saya berada, berdiri seorang tokoh agama yang berkharisma sedang diberi salam oleh banyak jamaah. Beliau segera membalasnya sambil salah mengenakan satu sandal tanpa memperhatikannya

Saat saya amati, ternyata sandal pak ustadz itu hampir mirip karena merk, warna dan bentuknya sama. Hanya berbeda ukurannya. Katakanlah, beliau ukuran 7, saya ukuran 8. Lagi, sandal saya masih terlihat baru, sedang milik beliau berwana sedikit kusam dan lusuh.

Mulut saya hampir saja berteriak untuk mengingatkan atau menegurnya, namun segera saya urungkan karena disamping jarak saya berdiri dengan beliau agak jauh, yang kedua, hati saya juga tidak tega karena saya takut beliau merasa dipermalukan di depan para jamaah Jumat yang mengelilinginya.

Banyak yang memanggilnya dengan sebutan Ustadz, termasuk saya. Sedangkan jamaah lainnya memanggilnya Kyai. Panggilan Kyai, konon berasal dari bahasa Jawa. Setiap ada hajatan harus ada yang memimpin doa. Biasanya semua berusaha menghindar dan malah saling tunjuk pada yang hadir sambil bilang," Iki ae" yang artinya "orang ini saja" untuk memimpin doa. Sejak itu, orang yang sering dituakan dalam agama dan urusan doa, sering disebut "Iki ae", yang akhirnya menjadi "Kiyai". Anda boleh percaya atau tidak lho ya!, Bebas!

Kembali ke kisah sandal yang salah pasangannya, saya menunggu lama biar jamaah jumat berkurang. Kemudian dengan gontai, saya kenakan sandal yang bukan jodohnya tadi. Yang sebelah kiri terasa tidak nyaman dan terasa sakit di kaki karena ukurannya terlalu kecil. Ketika saya amati, sungguh tidak serasi saat melangkah pulang.

Sampai di rumah, saya bercerita pada istri. Alhamdulillah, mantan pacar saya itu justru menasehati saya untuk iklhas, sabar dan yakin dapat pahala karena mampu menutup malu orang lain.

Setelah berlangsung sepekan, Hari jumat berikutnya tidak terasa sudah datang lagi. Saya pun bergegas berangkat ke Masjid sebelum jatuh panggilan adzan yang kedua. Saat akan mengenakan sandal, sudut mata saya terpaku pada sepasang sandal yang mesra terpaksa dari hasil perjodohan paksa masih bersanding di pojok lantai teras rumah.

Entah kenapa, hati saya merasa kasihan pada "sepasang kekasih paksaan" itu. Akhirnya, saya mengenakan sandal tersebut dan berangkat ke Masjid untuk salat Jumat. Pikiran tentang sandal sudah hilang dan saya berusaha khusyuk selama melaksanakan ibadah wajib bagi kaum laki-laki tersebut.

Setelah ibadah selesai, saya berdoa sambil menunggu jamaah lain keluar lebih dahulu. Begitu menuju tempat sandal saya tergeletak, betapa terkejutnya hati ini. Ternyata sandal saya sudah kembali pada ukuran, warna dan sesuai pada pasangannya. Mata saya melihat kanan dan kiri untuk mencari siapa yang mengembalikan perjodohan sepasang sandal itu. Siapa tahu bertemu Pak ustadnya dulu itu. Namun hanya ada beberapa jamaah yang berlalu pulang juga.

Ternyata, urusan perjodohan sandal juga ada klausa cerai, bahkan talak satu serta masih bisa rujuk kembali. Masyaallah! Luar biasa!

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post