Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kucing dan Virus Corona
selfdesigned by Canva

Kucing dan Virus Corona

Wah, melihat judul tulisan ini, pasti Anda akan bingung juga, apa hubungannya antara kucing dan virus Corona? Sejujurnya, dua hal itu tidak ada hubungannya sama sekali. Nah, kenapa ditulis juga?

Begini, saya yakin, terkadang, seorang pegemudi atau sopir, termasuk saya, yang sering bepergian ke luar kota, pasti pernah mengalami menabrak atau melindas kucing liar yang menyeberang di jalan raya atau jalan Tol (Tax On Location) juga sering disebut dengan jalan bebas hambatan.

Kejadian seperti itu dianggap sebagai pembawa sial. Apabila tidak berhenti, dan mengubur kucing yang tertabrak di jalan raya tadi, akan diramalkan mendapatkan kecelakaan juga kelak. Namun, secara logika, bagaimana juga sopir berhenti saat berada di jalan bebas hambatan? Bisa panjang urusannya dan didenda petugas hanya gara-gara mengubur kucing di pinggir jalan Tol.

Perasaan sedih, kaget, takut, cemas dan bersalah pasti akan muncul seketika pada saat kejadian itu. Sering, para sopir mengabaikan dan melanjutkan perjalanannya termasuk saya sendiri. Kita tidak bisa menginjak pedal rem dengan kuat saat mobil melaju kencang hanya gegara menghindari kucing yang menyeberang itu. Dampaknya bisa tertabrak mobil dari belakang bila tidak waspada.

Memang sepintas terlihat kejam, namun bagaimana menutupi perasaan bersalah dan kecemasan itu hal yang berbeda lagi setelahnya. Guilty feeling, atau perasaan bersalah memang ada, namun hal itu harus segera bisa diatasi, bila tidak, justru akan membawa dampak buruk secara psikologis bagi sopir itu sendiri.

Perasaan gelisah dan ketakutan (anxious) bahwa dirinya akan juga celaka dijalan raya pada suatu hari yang lain, serta merasa berdosa telah menabrak kucing harus dibuang jauh dengan Istighfar. Bila masih tidak bisa mengatasi, sering perasaan itu justru terbawa menjadi mimpi buruk saat si sopir sedang tidur.

Bila semua ketakutan itu tidak bisa di atasi dengan segera, bisa dipastikan justru membahayakan sopir bila mengendarai kendaraan di jalan pada hari berikutnya. Dimungkinkan, malah, mendapat kecelakaan karena tidak fokus dalam berkendara. Pikirannya masih terbayang-bayang perasaan ketakutannya sendiri. Fenomena itu sering terjadi di masyarakat kita.

Apa hubungannya dengan virus Corona?

Saat ini kita tahu semua bahwa pandemi Covid-19 belum lah usai di negeri ini. Banyak rekan, keluarga, tetangga kita yang meninggal karena virus Corona ini. Pemerintah selalu menganjurkan seluruh masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan yang sudah disyaratkan, yaitu 3 M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak). Namun masih saja banyak korban berjatuhan.

Otomatis, hal itu juga menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada diri kita semua. Yang paling berbahaya lagi bila kecemasan itu terlalu berlebihan. Hal itu bisa ditakutkan akan membuat sistem kekebalan tubuh kita menjadi semakin lemah.

Sebaiknya bagaimana?

Mau apalagi, hidup mati kita sudah ditentukan dan sudah tertulis dalan Lauful Mafuh. Ya sudah, kita pasrah sambil berikhtiar menjaga kesehatan diri kita. Juga mengenali secara jujur akan kelebihan dan kekurangan pada kesehatan diri kita. Kita harus ekstra waspada bila memang kita punya riwayat penyakit bawaan atau sedang dalam pengobatan.

Perasaan cemas yang berlebihan terhadap virus corona seperti halnya perasaan ketakutan dan kecemasan para sopir saat menabrak kucing yang menyeberang jalan seperti cerita diatas. Siapa yang bisa mengatasi perasaan buruk seperti itu? Jawabannya, ya diri kita sendiri. Paling sering cara untuk mengatasi perasaan bersalah kita, sambil mengomel, semua kesalahan itu ya ditimpakan kepada kucing malang tersebut.

Kenapa tidak menyeberang di tempat penyeberangan?, kenapa tidak menunggu mobil lewat? Kenapa dan kenapa lainnya dan seterusnya asalkan perasaan Anda menjadi bebas dari kecemasan. Bila sulit mencari kambing hitam di jalan raya, terpaksa kucing hitam pun juga bisa disalahkan sebagai gantinya.

Salam sehat selalu

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post