Look!, Who is Talking!
Look!, Who is Talking!
Istilah tersebut di atas adalah idiom yang sering digunakan dalam berkomunikasi di negara barat. Bisa jadi, diterjemahkan juga ke dalam banyak bahasa di beberapa negara termasuk bahasa Indonesia. Kurang lebih artinya, “Lihat!, Siapa yang bicara!”.
Arti dan makna, bisa berbeda dalam konteks bahasa berkomunikasi di masyarakat. Lebih tepatnya, kalimat itu diperuntukkan untuk menggambarkan perilaku kita atau juga masyarakat. Kita sering mengatakannya dengan bahasa lain. “Kamu ini jangan melihat siapa yang bicara, tapi dengarkan apa yang disampaikannya!’ Kurang lebih demikian makna tersiratnya.
Perilaku yang bagaimana?
Itu adalah perilaku atau karakter kita yang suka pilah-pilih pada sesuatu atau seseorang yang pas atau sreg di hati kita. Bilamana, ada pilihan orang lain yang tidak sesuai dengan pilihan kita, ada beberapa respon yang muncul. Pertama respon antipati dan yang kedua respon cuek (tak peduli).
Mengapa kita pilah-pilih dalam aspek sesuatu atau seseorang? Penjelasannya bisa panjang kali lebar karena semakin meluas dan tidak akan memuaskan untuk mendapatkan pemahaman (insight) bagi orang lain. Prinsipnya, selama sesuatu atau seseorang itu ‘sudah kita sukai’ atau ‘membawa manfaat atau tidak bagi diri kita yang memilih’, baru lah istilah ‘Look! Who is talking!’ ada dalam diri kita.
Misalnya, saat kita menonton film atau sinetron, kita harus tahu siapa aktor dan aktrisnya terlebih dulu. Bila ada dari mereka yang kita sukai, apa pun jenis film mereka, pasti lah sudah kita sikat habis untuk ditonton. Berlaku juga pada jenis suara penyanyi. Genre musiknya, Cantik atau tampannya penyanyi itu dan masih banyak pilah-pilih kita. Semua itu karena selera, dan itu tidak bisa dipaksa
Semua itu berlaku juga pada sesuatu atau sebuah karya. Katakanlah brand suatu barang, artikel atau jenis buku, nama penulisnya, dan masih banyak lagi yang bisa Anda sebutkan sendiri. Itu juga berlaku pada sosok guru di sekolah, ada like dan dislike pada para guru dari anak didik dengan atau tanpa alasan sekali pun.
Respon apatis pada sesuatu atau seseorang, jika dicari alasannya, bisa di luar logika kita semua. Jika Anda melihat dua orang kekasih sebagai contoh. Maaf, yang cewek cantik, sedangkan cowoknya tidak tampan, kenapa hati Anda ikut kecewa, jengkel dan mengomel yang padahal mereka berdua itu tidak ada hubungannya dengan diri Anda?
Ah, sudah lah, rasanya saya juga selalu terjebak dalam istilah ‘Look! Who is talking!’. Mau berkomentar dalam blog teman saja, saya juga pilah-pilih padahal artikelnya bagus. Terkadang, saya memberi komentar, karena penulisnya orang penting sehingga saya harus unjuk muka nih.
Hal itu semata karena perasaan ewuh pakewuh (sungkan) bila tidak ikut-ikutan hadir dengan mereka yang lainnya. Sungguh karakter saya yang tidak bagus untuk ditiru.
Salam hormat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
