Eko Adri Wahyudiono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MEWASPADAI CYBER BULLYING PASCA MPLS
selfdesigned by canva

MEWASPADAI CYBER BULLYING PASCA MPLS

Iya, betul! Saatnya kita semua terutama para guru, orangtua murid dan masyarakat untuk mewaspadai adanya Cyber Bullying pasca MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) pada anak didik kita.

Ajaran baru tahun 2021-2022, tepat dimulai 3 hari yang lalu, yaitu tanggal 12 Juli 2021. Bagi mereka, para murid baru, pasti lah ada program masa pengenalan lingkungan sekolah. Banyak materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut. Termasuk di dalamnya keunggulan masing-masing dengan prestasi akademis, non-akademis dan juga kegiatan yang ditawarkan sekolah dalam bentuk organisasi atau ekstrakurikuler.

Kegiatan yang selama 3 hari itu, peserta didik baru telah dikelompokkan dalam kelas mereka masing-masing dan juga jurusan IPA atau IPS untuk tingkat SLTA. Peserta Didik yang berasal dari berbagai macam sekolah dan juga datang dari penjuru kota atau kabupaten, mempunyai karakter dan kepribadian yang berbeda pula.

Pada minggu-minggu awal mereka akan saling berinteraksi dan bersosialisasi. Bisa dipastikan akan banyak menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, TikTtok, Whassaps dan aplikasi medsos lainnya. Semangat mereka untuk saling berkenalan dalam mencari teman atau sahabat baru, terkadang menggunakan bahasa verbal yang berlebihan dan bisa masuk kategori Cyber Bullying (perundungan online). Semua itu dilakukan agar mendapat perhatian dari sahabat baru yang dikehendaki.

Kenapa saya begitu menaruh perhatian pada kasus Cyber Bullying ini?

Coba kita cermati bersama, perhatikan dialog interaktif yang ada pemberitaan di media berbasis online, komentar di dalam Youtube, dan bahasa yang dipergunakan dalam ber-whassaps, akan banyak ditemukan penggunaan bahasa yang kasar (rude words), penghinaan menjurus ke SARA (Suku, agama, Ras dan Antar golongan) atau pelecehan (verbal harassment).

Fenomena itu sungguh membuat tidak nyaman bagi penerima pesan atau para pembaca lainnya dan berpotensi menimbulkan polemik dan konflik. Kemana larinya, bahasa yang sopan dan santun, saling menghargai sebagai bangsa timur yang menjunjung tinggi harkat dan martabat diri sendiri dan orang lain? Sungguh, permasalahan cyber bullying ini, jangan sampai terjadi pada anak didik kita.

Sebagai guru, orang dan masyarakat, kita harus harus saling menjaga dan mengawasi perkembangan karakter mereka, para generasi muda bangsa ini. Karena dampak dari Bullying (perundungan) dalam bentuk apa pun hanya menimbulkan saling dendam bahkan bisa menjadi 'dendam seumur hidup' pada yang mengalaminya.

Saya punya sahabat yang mengalami perundungan (Bullying) selama masa sekolah SMP dan SMA. Dia berkisah bahwa, sampai dia dewasa dan sudah menikah pun, perasaan sakit hatinya itu tidak bisa hilang pada satu temannya yang sering mem-bully-nya.

Mereka berdua tinggal di kota yang sama sampai sekarang. Sahabat saya itu mengetahui dan sering mendoakan temannya yang pernah mem-bully-nya itu agar bernasib jelek secara ekonomi dan hidup tidak bahagia. Doa sahabat saya yang teraniaya itu, akhirnya terbukti. Hidup temannya termasuk tidak bahagia dengan keluarganya dan serba kekurangan dengan 5 anaknya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.

Ternyata, pekerjaan teman yang merundungnya itu sebagai sopir Bus kota Swasta (bukan DAMRI). Dalam berangkat dan pulang kerja, sahabat saya, setiap hari sering ikut dengan bus kota yang disopiri oleh teman yang dibencinya dulu itu. Diam-diam, dia sering mengamati wajah teman yang merundungnya masa sekolah dulu itu. Sungguh, wajahnya terlihat lebih tua dari usianya, kusam dan banyak kerutan karena dampak kelelahan pada pekerjaan dan beban hidupnya.

Terpancar perasaan senang, puas dan bahagia pada wajah sahabat saya itu saat bercerita pada saya tentang nasib jelek dari teman yang sering merundungnya dulu itu. Saat saya tanya, kenapa sahabat saya itu pergi dan pulang kerja dengan Bus kota swasta dari teman yang dulu sering mem-bully-nya? Saya jadi penasaran dengan nasibnya. Dia sendiri memang kerja di mana dan sebagai apa?

Oh, itu!. Saya setiap hari, berangkat dan pulang kerja dengan bus teman saya itu, karena saya bekerja sebagai kenek (kernet) bus kota swasta di mana teman saya itu tadi yang menjadi sopirnya!” Jawab sahabat saya dengan santainya.

Salam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post