SERIBU MUSIM MERINDU ( Ini Novel Apaan Juga!!?)
Setelah mengajar secara daring (Dalam Jaringan) pada beberapa kelas yang menjadi tanggung jawab sebagai guru, saya menyempatkan pergi ke ruang guru dan menyapa beberapa guru yang bergiliran work from office (WFO).
Istirahat untuk salat dan makan hanya sekitar 35 menit. Sambil menunggu mengajar online lagi, saya sengaja membaca Novel karya ibu Istiqomah untuk yang kedua kalinya. SERIBU MUSIM MERINDU, Iya, itu lah judul novel yang sengaja saya bawa dari rumah. Novel itu memang selalu berada di dalam tas dan bercampur dengan laptop dan buku lainnya.
Saya sedang asyik membaca dari beberapa episode, sampai tidak menyadari beberapa guru wanita mendekati dan mengambil novel saya. “Ini Novel apaan, Pak?!”, Salah satu guru yang akrab dengan saya berkomentar sambil melihat gambar sampul serta membuka daftar isinya. Mereka menjadi terhipnotis, saat saya bocorkan biodata penulisnya yang salah satunya sebagai Widyaswara P4TK di Malang.
Belum juga saya menjelaskan lebih panjang, beberapa guru yang lain juga menimpali, “Melihat dari judulnya, ini pasti novel yang berkisah tentang asmara dan rumah tangga, betul kan?!” Saya hanya tersenyum dan berusaha akan menjawab, namun belum juga terlaksana, sudah ada satu orang karyawati tata usaha senior yang juga penggemar novel, merebut buku novel yang dipegang oleh salah satu guru sambil tertawa riang penuh canda.
“Pak, maaf, Ini novelnya saya pinjam ya?! Saya bawanya dulu ya?! Dua hari lagi saya kembalikan!” Di saat saya akan meraih novel tersebut, Ibu guru pertama, sahabat saya tadi tiba-tiba sudah merebutnya lagi. “Enak saja!, Saya yang pertama ingin meminjamnya tadi, cuman belum sempat bilang begitu!”
Sungguh, saya tidak mengira bahwa dua orang guru dan satu karyawati tadi berebut hanya ingin membacanya. Pertama mendengar komentar saat saya sedang membaca novel itu tadi berkesan tidak suka atau sinis, akan tetapi semua menjadi berbalik. Mereka mengatakan bahwa membaca novel akan membuat pikiran menjadi berimajinasi sehingga sudah tidak waktu lagi untuk memikirkan kecemasan akan virus Corona.
Akhirnya, saya hanya bisa mengiyakan saja, karena saya pasti kalah merebut novel saya itu dan melawan emak-emak guru. Apalagi buku novelnya sudah di pegang oleh tangan mereka. Saya hanya meneceritakan sedikit tentang tokoh di dalam novel itu, Reysa.
Novel yang berkisah perjuangan mengejar cita-cita namun juga cintanya sungguh seperti pergi ke arah yang berlawanan. Konflik paternalistik dalam keluarga, konflik dengan dirinya sendiri serta bagaimana melawan kodratnya sebagai wanita dan juga di sisi lain, pilihan berkarir atau rumah tangga menjadikan cerita semkin asyik untuk dinikmati.
Walaupun ada sedikit tersembunyi rasa sakit hati dari Reysa, akan kekasih dambaannya Jo yang terpaksa menikah dengan Merry. Haruskah Reysa….Ah, maaf, saya jadi tidak mau jadi spoiler (orang membocorkan secara detail sebuah kisah dalam novel atau film sebelum orang itu membaca atau menontonnya).
Untuk itu, silakan Anda pesan saja buku novel ini ke Ibu Istiqomah, ya!? Saat pesan via Whatsapp atau Messenger, bilang aja “Saya kenalannya Pak E.A. Wahyudiono” Dengan bilang begitu, saya yakin, ibu Istiqomah akan merespon pesan Anda atau akan menjawab begini, “Kuwi!, uwong sopo maneh!?”
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
