Merpati pun Ingkar Janji
Di pagi hari yang cerah ini, sebelum masuk kelas tempat saya bertugas mengawasi ujian tengah semester, saya menyempatkan untuk menyapa seorang guru sosiologi yang sekaligus senior saya yang bertugas jaga di ruang kelas sebelah.
Nama beliau adalah pak Didik Poejianto dan mengawali karir sebagai guru PNS di daerah Sumatera serta pernah menjadi Kepala SMA Negeri 5 Tanjung Jabung Timur di Provinsi Jambi namun memilih mutasi dan kembali menjadi guru biasa di sekolah di Magetan, Jawa Timur.
Sambil menunggu bel masuk kelas, saya sempatkan untuk bertanya kabar beliau. Saya curiga, karena ada sedikit cahaya sendu di netranya dan sesekali menghela nafas berat seperti sedang melepaskan beban.
Akhirnya beliau bercerita jika baru saja mendapat musibah dan hal itu mengagetkan saya. Setelah mendengarkan lebih seksama, baru saya berani tersenyum. Hal itu berani saya lakukan karena beliau pasti tidak tahu karena saya masih mengenakan masker untuk menjaga ProKes di lingkungan sekolah. Saya tidak berani tertawa keras sebab bisa membuat beliau tersinggung atau saya yang takut berdosa.
Rupanya, beliau baru saja kehilangan seekor burung Merpati anakan. Burung yang baru dibelinya dengan harga sangat mahal itu diletakkan di dalam kotak kardus dan diikat kuat di atas sadel sepeda motornya. Kemarin siang, sepulang dari sekolah tempat kami mengajar, beliau langsung menuju ke salah satu sekolah di pondok pesantren di lokasi yang tidak jauh dan bisa ditempuh dalam waktu hanya beberapa menit saja.
Beliau mengajar di sekolah pondok itu karena jam mengajar wajib beliau di sekolah induk kurang dari 24 jam mengajar wajib yang ditetapkan. Beliau hanya mendapat 18 jam, sehingga harus "merumput" 6 jam sisanya di sekolah lain. Hal itu semata demi memenuhi persyaratan 24 jam wajib mengajar agar bisa menerima hak tunjangan sertifikasi guru yang lumayan besar juga.
Begitu tiba di tempat parkir guru di pondok pesantren, beliau segera bergegas masuk kelas yang diampunya. Sengaja, burung merpati anakan ditinggal di atas sadel sepeda motornya. Beliau yakin pasti tidak akan hilang karena mana ada yang berani mencuri di lingkungan pondok pesantren.
Setelah selesai mengajar, beliau bergegas pulang, namun betapa terkejutnya saat berdiri di sebelah sepeda motornya dan mengetahui ternyata kotak kardus yang diikat di atas sadel sepeda motornya dan beserta burung merpati anakan yang dibelinya mahal, telah raib dari pandangan matanya. Beliau tidak menyangka sama sekali bahwa burung Merpati yang saat ini sedang berharga tinggi dan diharapkan bisa laku sampai 1, 5 Milliar seperti yang baru-baru terjadi di Bandung telah ingkar janji meninggalkan dirinya.
Akhirnya saya memberi saran agar kesedihannya segera sirna. Yang pertama, agar memaklumi bahwa kejahatan itu ada di mana pun, kapan pun dan dilakukan oleh siapa pun. Yang kedua, saya sampaikan sebaiknya beliau memelihara burung Dara daripada burung Merpati.
Sedikit penasaran beliau menatap saya dan bertanya, "Memangnya kenapa, pak?". Dengan lugas saya jawab, "Burung merpati itu selalu akan pergi untuk mencari pasangannya, Pak! Beda dengan burung Dara. Dia masih single dan belum kawin, jadi pasti tidak akan hilang atau pergi ke mana-mana".
Salam
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
