POLA PIKIR OTAK 'LENTHO'
Pernah dengar kata "Lentho" di judul artikel ini? Benar!, itu adalah nama makanan khas Indonesia. Makanan dengan komposisi kacang tolo, terasi, tepung, parutan ketela pohon dan beberapa bumbu lainnya yang dikemas bulat kecil seperti "meat ball", bisa disajikan setelah digoreng kecoklatan.
Sebenarnya, makanan "lentho" yang gurih enak itu adalah untuk melengkapi makanan khas Surabaya. Ada yang tahu? Ya, itu adalah lontong balap. Meskipun tidak dikonsumsi tanpa lontong balap pun, Lentho sebesar telur ayam kampung itu juga akan tetap nikmat saja untuk camilan.
Sayang sekali, meskipun saya yang dari kecil sampai dewasa tinggal dan bersekolah di Surabaya, masih sangat membenci makanan Lentho itu. Saya berusaha untuk hampir tidak pernah mengkonsumsinya. Jujur, saya takut bahwa saya akan menjadi bodoh dan tolol bila makan "lentho" tersebut. Aneh kan? Apa iya makan lentho bisa membuat otak kita menjadi kecil sebesar lentho itu?
Itu semua karena guru-guru saya di dalam kelas dan bahkan orang tua di rumah selalu dan sering mengatakan bahwa saya bodoh itu karena terlalu banyak makan lentho. Dalam banyak kasus, mereka selalu menyebut atau memberi julukan "otak lentho" pada murid atau anak yang yang mendapat nilai rendah dalam ujian atau nilai prestasi raportnya di bawah rata-rata.
Padahal kesemuanya itu tidak lah benar. Namun apa daya, pola pikir kita semua saat dari kecil sampai dewasa sudah tertanamkan kepercayaan bahwa anak atau murid yang bodoh itu pasti disebabkan terlalu banyak mengkomsumsi lentho. Asumsi saya, mereka mengatakan demikian karena merasa jengkel atau tidak puas mengetahui materi yang diajarkan para guru tidak cepat dikuasai oleh anak didiknya.
Kita saat dewasa mengetahui bahwa sesungguhnya kecerdasan anak atau murid itu akan selalu berkembang sesuai dengan usia mereka. Kecerdasan yang dimiliki sejak lahir akan menyesuaikan dengan masa pertumbuhan fisik dan kemampuan menggunakan kapasitas otak selama proses belajar untuk "transfer of knowledge".
Dalam diri anak dan murid akan terpatri dalam hati dan memori otak mereka seperti sebuah kepercayaan pada kalimat dari orang tua dan gurunya. Bila mereka mengatakan "bodoh atau malas", para murid dan anak percaya bahwa diri mereka memang benar-benar bodoh dan malas seperti yang disampaikan oleh guru dan kedua orang tuanya.
Kalimat negatif yang bersifat "discourage" atau meremehkan, melemahkan dan memandang rendah anak atau murid seperti kata "nakal, bodoh, bebal, tolol, malas atau banyak lagi" yang terus menerus diucapkan hanya akan menghambat serta mematikan rasa percaya diri anak atau murid yang sedang tumbuh berkembang dalam proses kecerdasannya. Sebaliknya, justru yang mereka butuhkan adalah "Courage", yaitu dorongan, dukungan, atau pujian untuk penyemangat dalam membangun karakter anak didik dan kecerdasan diri dari para guru dan orang tuanya.
Tidak usah jauh-jauh, saat kita masih kecil selalu ketakutan bila secara tidak sengaja saat menelan biji buah semangka, asam, pepaya dan lainnya, karena bijian itu akan tumbuh dan membesar hingga menembus kepala kita. Yah, itu lah semua yang ada dalam pikiran dan hati mereka karena tingkat kecerdasan me-logika-nya belum matang. Maaf, bisa jadi itu semua karena terlalu percaya bahwa makanan "lentho" yang pernah disampaikan para guru dan orang tua mereka akan membuatnya menjadi bodoh.
Untuk itu, mari lah, sebagai guru, kita jangan merasa lelah untuk selalu memberikan reinforcement positif (pujian) pada anak didik apapun capaian prestasi mereka. Juga agar "lentho" yang dianggap sebagai penyebab "otak bodoh" menjadi tidak terbukti dan sekaligus melestarikan makanan "lentho" yang gurih itu agar tidak punah serta tetap digemari oleh masyarakat kita.
Salam Lentho
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
